One day I’m gonna be back!

Kalo liat beberapa koleksi bukuku tentang lukisan2 impresionis, beberapa kartupos bergambar lukisan Monet di dinding kamarku, dan kengototanku untuk mencari galeri yang memamerkan karya2 lukis indah, maka orang akan bisa menebak kalo aku ada ketertarikan dengan lukisan. Nggak terlalu knowledgable sampe hapal setiap lukisan dan memahami maknanya enggak, cuma aku sangat mengagumi dan menikmati lukisan2 yang cantik2 dan kadang2 susah dipahami itu. Begitu tahu ketertarikanku yang satu ini dan tahu kalo aku pernah sekolah di Amsterdam, orang otomatis akan berpikir aku langganan?? keluar masuk museum dan galeri disana yang notabene memamerkan maha karya2 terbesar dunia, termasuk lukisan2 idolaku. Kenyataannya? negatif. Dengan ini aku nyatakan aku NGGAK pernah masuk museumnya.

Nggak Rijksmuseum yang merupakan museum terlengkap dan terbesar disana, dimana karya asli Monet banyak dipajang. Nggak, meskipun lapangan belakangnya sudah seperti pelataranku sendiri, dimana aku nongkrong, bengong, makan roti, rendam2 kaki atau sekedar jemur. Karena memang letaknya strategis dan ga jauh dari tempat tinggalku. Sama halnya dengan Van Gogh museum, yang memamerkan karya seniman jenius yang merupakan seniman asli Belanda. Meskipun sehari hampir empat kali aku lewat di depannya untuk pulang dan pergi ke stasiun kereta. Bahkan aku tahu kapan jam paling rame dimana turis2 mengular di depan loketnya, dan kapan waktu sepinya. Setali tiga uang dengan Rembrandt House, rumah asli seniman impresionis lain; Rembrandt yang sangat dibanggakan warga Belanda dan yang biografinya sudah kubaca berulang kali di berbagai artikel dan buku. Bayangkan aja turis yang berkunjung cuma sehari aja pasti nyempetin kesana, sedangkan aku? aku punya 5×365 hari disana.

Semakin panjang daftarnya, semakin sesak rasanya di dada. Bisa dibayangkan gimana rasanya setiap aku baca/lihat tentang karya seni yang mengagumkan dan baru tau kalo ternyata karya aslinya hanya dipamerkan di Amsterdam. Semakin tertohok. Kalo orang lain ga habis pikir dengan fenomena ini, sejujurnya aku aku juga sama. Kalo sekarang ditanya ya nyesel banget. Sampe kadang aku pengen ngejitak Orit masa itu yang begitu bodohnya melewatkan hal2 hebat seperti itu. Tapi aku coba untuk kembali ke masa itu, dan melihat kembali dari kacamata Orit masa itu.

Yang pasti kembali ke masalah finansial, alias duit, alias fulus, alias saya kere. Untuk belanja sehari2 dan menyewa apartemen saja aku harus kerja 20hari seminggu. Untuk mengeluarkan 10-15 euro itu sama saja dengan menghabiskan uang belanja seminggu untuk sekali masuk museum yang gak bikin kenyang. Yeah, jatoh2nya ke perut lagi. Bayangin aja beras sekilo 5 euro, ayam2an dan sayur 10euro, apa bisa seminggu cuma makan sereal gandum doang demi masuk musium? Enggak. Bukan berarti aku tidak pernah berharap, bahkan aku selalu meyakinkan diri kalo "bulan depan kayaknya bisa nih kalo ada duit lebih". Tapi haya harapan hampa, kocek tandas setiap bulannya. Nasib anak perantauan. Nggak seperti beberapa anak yang beruntung, aku kebetulan dapet kerjaan yang bayaran ga terlalu tinggi. Jadi ya maklumlah

Lalu apa yang bisa mengalihkan perhatian dan pikiranku sehingga ga ngotot2 amat ke musium? Well pertama, karena aku ngerasa waktuku masih banyak. Nggak kayak turis, aku kan masih punya besok, besok dan besoknya lagi untuk ke sana (meskipun tetep ga kesampean). Kedua ya karena kehidupanku kan ga berkutat disitu aja, masih ada sekolah, temen2, hengot2, syoping2 yang harus dipikirin (ngapain dipikirin??). Dan ketiga adalah, I took them for granted, aku menganggap enteng. Kalo sekarang aja, disini, nyari buku untuk penikmat lukisan kan susaaaah banget, boro2 galeri yang bener2 bagus dan memamerkan masterpiece seniman dunia. Sekalinya ada, pasti deh aku belain. Nah disana? pating tlecek….kececeran dimana2. Poster di halte aja lukisan Monet, biografi Van Gogh banyak di keranjang obralan, bayar beberapa sen di toko buku aja dapet kartu pos dengan gambar lukisannya, belum lagi musium yang jaraknya cuma seglundungan aja dari depan rumahku. Ibaratnya kayak nyari batik di jogja deh, ga ada seninya, burakan, pasaran. Coba cari batik di Amsterdam, nah itu baru menantang. Mungkin itulah kenapa aku jadi ga ngoto2 banget pas itu. Dan sekarang setelah tau betapa berharganya kesempatan itu dan betapa karya2 itu dikagumi orang seluruh dunia……baru deh nyessssssssss-el.

Oh well, kalopun aku bisa kembali ke masa lalu juga ga akan berubah. Aku akan tetap kere dan bokek dan ga punya duit buat beli tiket masuk. Ya sudahlah, kalo emang jodoh pasti akan dikasih kesempatan lagi.Kalo enggak ya aku bilang aja "udah pernah" kalo ada yang nanya2 πŸ˜€

Advertisements

One thought on “One day I’m gonna be back!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s