Tentang ‘Troubleshooting’

Aku percaya ngga ada satu rumus jitu untuk sebuah relationship atau pernikahan yang sehat (bukan sempurna). Ada yang bilang kuncinya kepercayaan, ada yang bilang jurusnya adala komunikasi, banyak yang bilang rahasianya adalah tidak pernah tidur sebelum masalah terpecahkan. Nah yang terakhir itu yang beda dalam kasusku.

Artes-artes atau selebritis yang suka diwawancarai di tipi atau di majalah sering mengungkapkan rahasia hubungan mereka yang awet adalah langsung menyelesaikan masalah  saat itu juga meskipu harus ada teriakan dan tangisan. Uhm….aku dan pasanganku nggak gitu. Nggak seperti orang kebanyakan, masa pacaran kami dipenuhi lebih banyak konfontasi daripada hepi2. Mungkin karena niatnya ‘mengenal pasangan luar dalam’ jadi kita masing2 ngotot jadi diri sendiri, sehingga muncul lah ketidakcocok-an dan ketidaksreg-an satu sama lain. Mulai dari kebiasaan makan sampe kebiasaan belanja. Mulai masalah rambut sampe masalah keluarga.

Kalo udah kayak gitu biasanya jadi emosional, yang satu mengkritik, yang lain memprotes dsb. Nah kalo udah sampe tahap itu kami memilih diam. Karena dari pengalaman, kalo ‘ngobrol’ pake emosi kita jadinya malah berantem ga jelas, mengeluarkan kata2 yang kemudian disesali, atau yang bahaya jadi ‘nyandak2’ alias mengungkit2 masalah lain. Wah bisa tambah gede tuh. Jadi kami setuju bahwa untuk menyelesaikan masalah, sebaiknya kami diam dulu. Menenangkan diri dan menganalisa duduk permasalahanya. Sukur2 bisa introspeksi dan menyusun kalimat yang lebih enak untuk diungkapkan ke pasangan.

Nah tahap diam ini kan ga mungkin satu dua menit. Apalagi kita (kok ya ndilalah) sering ditakdirkan untuk long-distance, jadi ya kadang troubleshooting tertunda sehari atau semalam. Tapi kalo udah sempet istirahat kan malah lebih seger tuh pikirannya, jadi alhamdulillah lebih smooth diskusinya. Bahkan mungkin mbahasnya sambil ketawa2 karena inget betapa konyolnya pertengkaran ga jelas kita tadi. Cara lain yang kita lakukan adalah dengan kata2 tertulis. Dengan mengungkapkan diri lewat tulisan kita jadi lebih bisa menganalisa dengan sistematis, pokok permasalahanya apa, yang harus diperbaiki apa aja, kedepannya gimana dst. Ini paling efektif kalo si bapake lagi ga bisa berkomunikasi selain lewat internet. Jadi email lah perantara kami.

Ya tapi itu kan situasi terkini, mungkin di kemudian hari seiring bertumbuhnya hubungan kita punya cara lain yang lebih efektif. Tapi kalo malah sebaliknya, kita jadi males membahas masalah kita saat itulah tulisan ini akan berguna untuk pengingat.

Krb07_078

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Tentang ‘Troubleshooting’

  1. Ih fotonya keren! :DTapi iya emang benul, seiring berjalannya waktu lama2 kita jd nyadar yah, cara mana yg terbaik utk membereskan ‘troubleshooting’ in relationship. Idem juga, klo lagi esmosih mending diem dulu, krn kalo dituruti dibahas saat itu jg malah bikin suasana tambah butek. Ntar dibahasnya pas udah selang beberapa waktu (bisa jam, hari, minggu…), sambil leyeh2 nonton tipi, sambil cangkruk2 di teras, apalagi kalo sambil makan. pasti emosi lebih terkendali (ini sih saya :p). eh sekali lagi, saya suka potonya! :p

  2. aih strategi jitu itu troubleshooting sambil makan. ga bisa banyak protes kan kalo lagi muluk2 apalagi kepedesan :D<br><br>* re foto. tengkyu2, ya begitulah foto 'berduaan' ala orang2 ga fotogenik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s