Journey to the Seoul : Day 4 (end)

Uwaaaaah benernya muales posting Seoul Day 4, karena eh karena itu hari terakhir dan tu berarti petulangan Seoul usai….uhuuhuhu. Ya tapi daripada basi dan keburu lupa, ya postinglah.

DAY 4
Udah ketebak banget, hari keempat saat kita udah mulai familiar dengan kotanya, kita udah mau pulang. Bleuh! Tapi gapapa, karena flight masih tengah malem, berarti kita masih punya the whole day untuk menjelajah – dan menghabiskan agenda2 yang belum terlaksana. Tema hari ini bener2 walking tour, menyinggahi beberapa spot menarik di pusat kota (yang sebenarnya adalah agenda Day 1 yang tertunda).

Tapi pertama2, mari kita mengefektifkan pagi hari supaya tidak menyesal kemudian. Kalo hari pertama konferensi mami dianter Mario, hari kedua dianter Papi, nah hari ketiga ini aku yang pengen nganter. Padahal si maminya udah pede jalan sendiri. Tapi emang ada agenda pribadi sih :D, mumpung di Seoul aku pengen ke galeri nasional-nya, merupakan kebetulan yang menyenangkan bahwa Musee D’Orsay Paris sedang memamerkan masterpiece nya di Seoul Art Center yang lokasinya hanya 1 stasiun sebelum stasiun si mami. Jadilah dengan semangat pramuka, pagi itu saya memulai petualangan saya sendiri. Sementara di hotel lagi buka Daddy Day Care, alias Mozi dijagain Bapak dan Akungnya hehe.

Akhirnyaaaaa aku menginjakkan kaki di subwaynya. Bersih, moderen, teratur, yah begitulah ngga ada yang istimewa. Dan si mami udah expert aja gitu nunjuk2in jalan hehe padahal baru 3 hari pake subway. Dari naik subway itulah salah satu agenda untuk ‘menyeberangi Sungai Han’ terlaksana, karena hotel dan pusat pemerintahan berada di utara sungai, sedangkan tujuan kami dan mal2 baru yang megah dan bangunan baru lainnya berada di selatan sungai.

sekitar 15 stasiun kemdian saya siap turun sebelum mami. Mau turun saya salim kayak pagi2 dianter sekolah, beuh diliatin orang segerbong dong. Dikira gigit tangan emaknya kali ya. Dan turunlah saya di stasiun Nambu Bus Terminal yang ternyata beda sama stasiun Chungmuro, yang ini terkesan tua, suram dan sepi. Saya harus muter dan naik tangga 3 kali untuk akhirnya melihat dunia luar. Di luarnya pun kesannya kayak udah beda kota aja. Beda sama downtown yang hingar bingar, dan crowded, di Seoul bagian ini kotanya lebih lapang, banyak kantor dan masih dikelilingi bukit2 hijau. Tapi kalo traffic mah jangan tanya, full sampe ke pinggir2nya. Dengan pedenya aku jalan belak-belok sesuai peta. Biar deh nyasar, yang penting udah dicoba. Eh tapi enggak lho, setelah 10 menit jalan akhirnya keliatan tuh gedung yang sekiranya sesuai dengan gambaran SAC. Nggak megah sih, tapi besar, warna coklat, dengan poster2 pameran berjajar di dindingnya. Salah satunya adalah poster pameran lukisan Van Gogh yang aku tuju.

Seoul_day_4_49

Masuk gedung ga terlalu rame pengunjung. Yang rame malah pekerja yang sibuk nyerok2 lumpur di depan lobi, ngepel2 lantai dan mompa2 air di dalem gedung. Waktu ada staf gedung yang senyum menyambutku, aku nanya dong dimana kah pameran dimaksud. Taelah orangnya ga nyambung, di nunjuk aja ke lift. Ya udah aku ikutin, naik lift. Di lantai 1 dan 2 pun masih banyak petugas yang mondar2 bersihin lantai. Melihat loket ticket box aku tanya lagi. Wah sami mawon, ga ada yang nyambung. Sempet stres deh, tau gitu bawa brosurnya biar jelas. Dengan ngoto aku mengulang2 kata “Musee D’Orsay, painting, Paris” eh dia nunjung ke Vending machine “no..no Painting, Van Gogh” yak! nyambung deh dia “aaaa..Van Gogh, .pheinting…pheinting” Huuuf lega….dikit lagi nih eke nonton Van Gogh. “Yes, where is it?” “Oh it is canceled” “What?” pasti salah denger lagi nih gue “You mean it’s stopped?” “Yes, due to natural disaster” dia nunjuk ke lantai gedung yang sedang dipel. Oh my mother! baru sadar kalo Seoul bagian inilah yang dua hari lalu terrendam banjir karena badai monsoon. Dan kalo diamati emang lantainya kotor bercak2 lumpur. Masih syok berribu syok aku melangkah pergi dengan gontai. Bok jauh2 kemari dari Lowokwaru demi Van Gogh ini, ternyata batal karena banjir. Lagian gila aja kalo Orsay mau kirim koleksinya ke tengah banjir. Bisa luntur itu lukisannya. Yah aku paham lah.

Di bawah, akhirnya aku nemu information desk dimana petugasnya ngomong inggris. Dia ngejelasin kalo computer crash dan pameran dihentikan. Mungkin baru dibuka lagi awal Agustus. Huhuhuuhu…..jadi sebenernya, Van Gogh, Monet dan Chagal sudah ada di gedung ini??????? cuma karena system down aku ga bisa ketemu? AAArrghhhh….Sisi positifnya, siang itu bisa janjian sama Adhit. Temen SMA yang sekolah disini. Jadi segeralah aku balik ke stasiun dan naik subway pulang. Ternyata grup 2 yang stay di hotel pun punya petualangan sendiri. Bapak2 itu jalan2 masuk ke pasar ikan asin ga jauh dari hotel kami.

Seoul_day_4_25

Setelah istirahat bentar dan nunggu juragan kecil bobo,  akhirnya kita ketemuan sama Adhit. Dia menawarkan diri untuk nganter keliling. Agenda berikutnya adalah nonton Changing Guard di Deoksugung Palace. Menurut internet sih jam 14.00, dan sekarang udah 13.45 duuuuh semoga kekejar. Taksi membawa kami ke pusat kota dimana City Hall berada, bersama UNESCO building, dan bangunan pemerintahan lain mengelilingi alun2 hijau yang guede. Waktu taksi baru masuk alun2, udah keliatan tuh ada keramaian di kejauhan dengan orang2 berpakaian warna-warni. Wah! jangan2 udah mulai tuh. Padahal taksi kudu muterin alun2 untuk bisa stop di depan palace. Yah lumayan lah, sampe sana masih dapet setengah prosesi. Dimana para pengawal istiana berbaris, memukul beduk dan drumband nya melakukan upacara penggantian penjaga. Wik kayak di pilem2 silat korea (silat???).

Usai prosesi kami diberi waktu untuk berfoto dengan para pengawal. Bahkan di salah satu tenda di ujung gerbang istana ada papan bertulisakan “Hanbok Experience for  free” Wah! beneran nih, bisa pake hanbok lagi? Mau ga ya…mau ga ya…kan kemaren udah. Lagian ini ditengah keramaian orang begini. Sementara aku kelamaa mikir, tiba2 ada dua pengawal istana yang nyamperin aku “Fotoin kita gih!” Helaaaa ternyata si papi dan Mario udah mejeng dengan kostum pengawalnya. Cepet bener. Aku jadi panas deh pengen juga. Jadi aku mengajukan diri dan sama mbaknya dikasih kostum dayang warna ijo tosca dengan rok shocking pink. Lagian mumpung Mozi bangun nih, jadi poto sekalian. Tapi ya namanya juga seadanya di pinggir jalan jadi ya mereka ga punya kostum untuk anak2. Jadilah kami foto dengan mozi masih pake kaos dinasnya yang pewe, karena bangun tidur. 😀

Seoul_day_4_69

Setelah mengembalikan kostum kita melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Cyeonggyecheon Stream. Sebuah sungai di tengah kota yang dirombak habis2an sehingga menjadi oasis yang sejuk di tengah kota tempat orang2 ngadem dan konkow2. Tapi sebelumnya kami mengisi perut dulu. Mumpung ada ADhit yang bisa basa korea, kita sok2an makan di warung korea. Dan akhirnya
kami berhasil mencicipi rasa asli Bibimbap, Bulgogi dan Namhyeong. Setelah itu baru berpanas2 ke Chyeonggyecheon yang ternyata aslinya rame tapi asri dan seger ditengah cuaca musim panas Seoul yang sebenarnya. Sayang seandainya kita bisa dateng malem, ada pertunjukan laser di sungai ini, tapi kita ga sempet.

Seoul_day_4_128
Img_7874

Selebihnya kita menikamti Seoul dari taksi. Bahkan istana utamanya Gyeongbokgung yang dipake shooting Jang Geum (UNESCO WorldHeritage) pun cuma kami lihat di kejauhan. Hari sudah menjelang sore dan kami mesti bersiap2 menempuh another red-eye flight back to Indonesia.

Good Bye Seoul, Good Bye Korea. Thank you for the lovely adventure and the kindness. May we meet again someday.

Seoul_day_4_189

 

Project@Home: Bazar Reuni

Bazarku

Hihhihihi dikala hati bosan dan butuh pengalih perhatian, ada sms dari Ikatan Alumni bahwa akan ada Reuni Akbar SMP pas lebaran nanti. Dan alumnus bisa partisipasi dengan mengisi acara, donasi atau buka stand bazar. Entah kesambet apa, aku jadi pengen buka stand bazar :D……mau jualan apa? Gak tau, pingin punya stand aja dari dulu ehehehehehe

Dengan pembicaraan panjang dengan berbagai pihak yang potensial terlibat, maka berikut ini ide stand untuk Reunian nanti:

Tema: Kantin Sekolah
Judul: Pojok Kantin
Jualan Utama: Aneka Rujak (manis dan gobet) dan gorengan
Jualan Sampingan: Baking Goods (brownies, cupcake, muffin), Masakan dalam paket (kering tempe, empal, rendang kiloan), Jajanan Jadul (coklat supermen, coklat jago, keripik singkong manis)
Dekor: Toples2 kaca, piring saji, wadah buah, taplak, papan gabus, tiang, kawat, papan kertas
Modal dagangan: plastik jajan, kotak plastik, gelas plastik, tisu, kresek, kaleng duit, gunting, rafia,

dan berikut ini desain bayangan sayah 😀 :D…..woohooo smangaaat!

Journey to the Seoul : Day 3

Menilik kenyataan hari sebelumnya, hari berikutnya saya (dan yang lain) berusaha untuk realistis dan mencoba menyusun agenda yang memungkinkan saja.

DAY 3
Entah karena smalem habis maraton dari Namsan, atau pengaruh Mozi bangun2 malem, yang pasti pagi itu bawaannya pengen ambruk di kasur aja. Padahal udah berencana sementara papa nganterin mama, kami akan bertualang entah ke pasar terdekat atau mungkin ke stadion impiannya Mario. Minimal maen ke taman depan lah. Ealah yang ada pas udah kelar mandiin Mozi, udah pada sarapan dan siap cabs papa dan mama udah balik…..huhu. Yah sambil nunggu mereka istirahat kita ke taman depan deh. Kebetulan hujan reda meskipun mendung masih menggantung. Beberapa anak dari hotel dan dari rumah terdekat juga mulai keluar main.

Disana Mozi main ayunan, perosotan, dan rumah2an di area bermainnya. Sementara aku iseng nyobain alat olahraga publik yang ada di beberapa spot. Ada alat untuk latian jalan dan alat untuk mengencangkan perut, ga tau deh apa namanya, wong ga pernah nge-gym. Cuma instrumen sederhana dari besi dicat putih dengan papan instruksi di depannya, tapi itu menunjukkan kepedulian masyarakat dan pemerintah akan kebugaran.

Seoul_day_3_76

Abis itu petualangan dimulai, tema hari itu adalah cultural tour. Karena lokasi terdekat adalah Namsangol Hanok, kami mulai perjalanan dari Korean Traditional Village itu. Kejadian Seoul Tower berulang lagi, baru naik taksi ga berapa lama taksi udah belok dan berhenti. Ealah deket banget ternyata, tapi karena bawa bayi jadi ga minat juga untuk jalan kaki. Disambut oleh gapura raksasa khas Korea yang menyembul diantara toko2 dan cafe moderen, kami memasuki perkampungan korea jaman Joseon yang dijaga keasliannya untuk tujuan wisata. Masuknya free of charge dan kita ditantang untuk menjelahahi areal seluas 8000m2.

Kita sih nggak gitu2 amat, begitu masuk kita foto2 dibalik papan bergambar baju tradisional Korea -Hanbok, foto dengan latar belakang rumah2 tradisional dan gunung Namsan dikejauhan dan melihat2 sepetak areal pertanian dan alat2 tradisionalnya. Rumah pertama (dan satu2nya) yang kami kunjungi adalah rumah di bagian Gugakdong yang kebetulan hari itu menggelar pameran Hanbok dan Tea Ceremony. Sayangnya harga sewa untuk berfoto dengan hanbok kurang cocok dengan kantong, 10.000 won (dikali 4 orang bisa setengah juga dong!) jadi kami masih berharap mendapatkan kesempatan di lain tempat.

Seoul_day_3_118

Nggak terlalu lama di Namsangol Hanok, kami meluncur ke tujuan berikutnya; Insadong. Cultural Street yang satu ini tujuan wisata wajib untuk turis, terutama wisata belanja barang2 seni dan khas Korea. Dari keseluruhan 2km jalan yang membentang dari ujung ke ujung, plus gang2 kecil di sepanjang Insadong, kami cukup melalui setengahnya saja, dari Insadong 5 ke Insadong 11. Despite harganya yang gak sesuai perkiraan jalan itu bener2 memenuhi keinginan kami, toko souvenirnya yang sangat khas, galeri2 seni, tea shop, tourst information center yang helpful dan alhamdulillah cuaca yang cerah.

Seoul_day_3_200Seoul_day_3_141

Setelah belanja (dan cuci mata) souvenir yang beraneka ragam; kipas, kaligrafi, ukiran, topeng, sutra dll, kami menyempatkan diri untuk mencoba Rice cake (tteok) di salah satu tea shopnya Jilsiru Tteok cafe. Kafenya mini, rice cakenya warna pink bermotif bunga, minumnya teh labu (bukan rasa labu, tapi sari labu beneran), pelayannya selalu tersenyum, pokoknya kafe ini kesannya…..imut deh. 😀 Mungkin karena suasanya dan ademnya, Mozi ketiduran. Dan sepanjang jalan pun dia terlelap di gendongan sampai akhirnya bangun waktu kita makan siang di ujung terakhir Insadong.

Seoul_day_3_178

Sebelum mencapai ujung akhirnya kita menemukan Tourist Information Center di Insadong 11 yang sedari tadi kami cari. Kenapa? karena kabarnya (dari internet) mereka menyewakan Hanbok dengan harga yang bersahabat; 3000 won saja dan bebas berfoto bahkan sampe dibawa jalan2 keluar segala. Untunglah kita segera nemu, karena kebetulan hujan mulai turun lagi jadi kita bisa berteduh. Di dalam TIC kami disambut pegawai TIC yang ramah, seorang staf cewek yang bahasa inggrisnya bagus, dan seorang bapak yang langsung bilang “Selamat Siang” waktu tau kita dari Indonesia. Ternyata dia sering business trip ke Jakarta.

Oleh mereka kami ditunjukkan sederet kostum cewek dan cowok, ada kostum royal family, rakyat biasa dan abdi istana. Waktu kami tanya berapa biaya untuk sewa satu kostum dia menunjuk ke papan petunjuk bahwa mulai pulul 10 sampai pukul 15 peminjaman hanbok tidak dikenakan biaya. Yippie!! Biarlah dengan backround seadanya (karena diluar hujan, jadi terpaksa foto di dalam gedung. padahal kalo ga hujan bisa foto dengan latar belakang gedung TIC yang berbentuk bangunan kuil) dan pake kamera pocket kita sendiri yang penting pernah pake hanbok :D. Kita langsung pilih2 kostum. Dengan riang si mbaknya nanya apakah kita mengikuti filem korea, lalu dia menyebutkan sebuah judul/tokoh, sayangnya kita ngga ada yang tau. “But we watch Dae Jang Geum- Jewel in the Palace” kataku. Lalu dengan sigap dia menunjuk pada sebuah gaun warna pink dengan rok biru yang ternyata adalah replika gaun Jang Geum sewaktu menjadi koki istana, sedangkan satu lagi yang didominasi warna hijau adalah gaunnya sebagai tabib istana. Huhu seru….aku pilih yang pink, karena kebetulan aku pake kerudung yang sewarna. Sayangnya Mozi lagi tidur, padahal ada tuh hanbok untuk anak laki2.Tapi dia sepertinya lagi lelap banget sampe2 ga kebangun waktu aku tidurkan di kursi panjang. Tapi dia sempet difoto dengan ditempeli rompi hanboknya 😀

Seoul_day_3_231

Setelah puas berpose2 dan hujan sudah reda, kami melanjutkan perjalanan. Keluar dari Insadong 11 kami disambut bangunan bertingkat yang rame anak muda2. Bangunannya terbuka dengan tangga2 besi, apakah gerangan? Ah ternyata the infamous Szamziegil, independent craft center alias mall handycraft nya anak muda yang kayaknya emang tempat nongkrong yang yahud. Konsepnya open mall dengan coble stone dan toko2 kecil yang imut dan artsy. So cool.Kami sempet masuk bentar liat2, dan aku masuk beberapa toko asesoris yang berhasil membuatku patah hati karena kelucuan produknya dan ketidak lucuan harganya.

Seoul_day_3_252

Berikutnya karena udah kecapekan dan udah mulai sore kita memilih untuk late lunch dan langsung balik ke hotel. Malamnya aku kira bisa sneak out lagi setelah Mozi tidur, eh ternyata si tole begadang dan ga tidur2 jadi gagal deh.

Journey to the Seoul: Day 2

Ahhh…akhirnya hiruk pikuk awal Ramadhan mereda dan bisa kembali menulis cerita petualangan kami yang belum lama berlalu (tapi udah terasa lama)

DAY2
Hari kedua dimulai dengan encok nyeri otot, Mozi pun yang biasa jadi alarm, hari itu baru bangun jam 10an. Padahal kalo sesuai jadwal konferensi mami dan agenda buatan Ms.Organizer hari itu kudu dimulai dengan registrasi on-site pada pukul 7 pagi. Dueng! ampun dijee… Tapi ya sudahlah, daripada maksain terus sakit ya mending istirahat dulu. Apalagi sejak kita nyampe hotel kemaren malem, hujan mengguyur dan belum ada tanda2 mereda. Sante2 sarapan aja dulu LAH, terus nanti mami dianter Mario ke venue yang lokasinya di pinggir kota. Lagaknya maen anter2 kayak nganter ke Kepanjen aja! Padahal sama2 ga ngerti jalan.Tapi ya mau gimana lagi, ga ada yang tau ngalor-ngidul,jadi ya cuma bisa ngandelin peta dan hasil net-research.

Jam 11 kita turun berrombongan ke lobi, berharap dapet sarapan ala korea kita yang pertama, tapi alhasil “Vinis….vinis” kata mas resepsionis sambil nunjukin papan petunjuk yang menyatakan bahwa sarapan disajikan jam 6.30 – 10.30…:(. Terpaksa plan B deh, beli makanan di 7eleven di lantai dasar, huh apa bedanya sama di Thamrin dong belinya di 7eleven juga. Tapi jangan salah pemirsa, begitu masuk toko yang ga jauh beda sama Indomaret itu, aku langsung berasa masuk ke planet lain. Nggak ada satu produk pun yang aku kenali, dan pas mau dibaca satu2, tulisannya keriting begituuuu…. Dengan setengah excited (kapan lagi ngerasa kayak Mozi yang baru pertama kali ngeliat segala sesuatu) dan setengah meraba2 aku nyari di bagian kulkas yang berisi tumpukan sosis, nasi kepal pake nori (ala doraemon), sushi potong dan beberapa kotak plastik isi nasi serupa bento. Karena lapar dan belum kepikir eksplorasi ke sudut toko lainnya, jadi ya kita ambil aja yang nampak wajar; sandwich, pizza, bento dan sushi yang bisa dipanaskan di toko pake microwave.

Melihat kesibukan di luar hotel, lalu lalang orang dan motor, taman yang hijau basah, kita tergoda banget untuk segera memasuki kehidupan Seoul di luar sana, tapi berhubung hujan deres banget ya kta terpaksa beli payung dulu di 7eleven yang harganya lumayan juga, 9000 won untuk payung lipat dan 6000 won untuk payung panjang transparan (kalikan 10rupiah). Dengan modal 2 payung untuk  4 orang plus mozi kita nganter mami dan Mario keluar, ternyata kehidupan di luar sana sama sekali nggak terhalang hujan. Di jalan sempit di depan hotel itu berlalu-lalang motor penarik gerobak yang ditutup plastik, polisi berjaga dengan jas hujan, penjaja makanan dalam tenda plastik dan mas2 mbak2 korea yang berlarian dibawah payung (satu orang satu payung ya! plis deh). Ternyata yang bikin jalan itu sibuk adalah jajaran kios2 percetakan di sekeliling taman. Tapi dengan pertimbangan si kecil dan si besar yang masih ngantuk, jadi kami bertiga kembali ke atas, sementara grup pertama memulai petualangannya menyusuri belantara Seoul..cieh..

Seoul_day_2_64

Sempet ketiduran setengah jaman dan badan bener2 ga mood diajak jalan, padahal daftar tujuan wisata sudah menanti. Ah nunggu grup pertama dateng aja deh, agak sorean gpp. Lha baruuu selesai mbatin gitu, lha kok bel pintu bunyi? Siapa gerangan? Lha kok mama dan mario sudah muncul di pintu dengan baju basah kuyup dan payung terbungkus plastik. What’s going on? “Banjir! Banjir!” kata mama What! Kok ya kebetulan papa lagi nyetel tivi dan ada pemandangan mobil2 terrendam, tanah longsor dan rumah2 tenggelam. Papa bengong sambil nyeletuk “Lho ini dari tadi memang tivinya nayangin banjir, tapi kita ga tau ini kejadian dimana lha wong ra ngerti bosone”. Tak dinyana kedatangan kami bersamaan dengan kedatangan badai monsoon yang melanda korea sekali dalam setahun. Dan kali ini termasuk yang teparah. Untunglah hotel kami berada di dataran tinggi Namsan, jadi kami hanya terkena dampak hujan aja.

So, what’s next? Tour istana, traditional village, changing guard, semuanya di outdoor jadi ga mungkin terlaksana. Jalan2 apa yang sekiranya aman dari hujan dan ga jauh2 dari hotel? Wisata belanja tentunya. Dan karena niatnya bukan window shopping, melainkan belanja beneran ya kita ga menuju ke mega mall yang sudah sering digadang2 itu; Lotte Mall atau Shinsegae. Kita prefer ke arah Dongdaemun yang merupakan pasar barang2 murah di Seoul, disana ada Migliore yang kalo diliat2 ga jauh beda sama ITC Ambasador, cuma yang ini barangnya beneran barang korea :D. Emang sih barangnya lucuk2, imut2, tapi kok harganya ngga ITC banget ya. Masa rok span harganya 20.000 won, mahal ga sih?

Seoul_day_2_73

Tapi eniwe, yang berkesan bukan mall atau belanjanya, tapi perjalanan menuju kesananya, bergesekan dan berdesakan dengan orang korea, menyusuri2 jalan2 kecil dan gang2 dari hotel kami seperti berjalan dalam mimpi. Semunya nampak tidak nyata, semuanya sama sekali baru dan berbeda dengan dunia yang biasa aku kenal. Resto2 kecil dengan asap mengepul, kios2 tenda di pinggir jalan yang menjajakan mulai dari jagung bakar sampai ikat pinggang, semua berjajar rapi dibawah kaki gedung2 pencakar langit yang mentereng dan mondar-mandir warga Seoul yang super trendy dan sama sekali tidak takut hujan (kostum wajib cewek; hotpants/mini skirt + boots plastik). Sooo chic. Siang itu ditutup dengan makan fast food di Lotteria, semacam Mc.Donald nya Korea (sangat mungkin merupakan anak usaha dari raksasa Lotte)

Seoul_day_2_75

Meskipun sampe hotel dengan basah dan kedinginan, tapi rasanya indah aja gitu. Sorenya mondar-mandir di kamar yang cukup luas untuk orang 5, masak buat Mozi,belanja lagi di 7eleven, nonton tivi bisu, mandi, cuci baju (halah ngapain jauh2 ke Korea itu mah) dan sebagian besar waktu kami habiskan menatap kehdiupan Seoul dari kaca jendela kami; atap2 rumah, perkantoran, jalan raya dan gunung Namsan di kejauhan.

Waktu jam menunjukkan pukul 21 dan Mozi sudah tergeletak di kasurnya, ternyata hari belum berakhir untuk kami. Mami bersedia njagain Mozi yang lagi tidur dan aku dan Mario segera menyusun rencana petualangan malam itu; Seoul Tower. Setelah dipastikan bahwa tower tutup jam 23, kami keluar ke jalan besar Chungmuro untuk mendapatkan taksi. Meskipun sudah mempelajari peta dan menghafal jalur bus menuju Seoul Tower dengan hujan yang masih mengguyur malam itu kami merasa buta arah dan menyerah pada jasa supir taksi. Eh lha kok ternyata baru masuk taksi, ga berapa lama udah jalan menanjak dan taksi berhenti. Supir taksi menunjuk ke stasiun cable car yang masih terang di ujung jalan. Ealah sudah sampe tho, deket ternyata, argonya aja baru jalan dikit. Dengan susah payak kami nanya ke supir taksi gimana dapetin taksi di atas sini untuk kami pulang nanti, tapi hasilnya hanya tatapan kosong si supir yang ga ngerti Inggris. Ya wes lah pasrah aja

Di loket cable car hanya ada kami dan 2 cewek bermata sipit yang ternyata juga wisatawan
dari Jepang. Cable car yang lapang membawa kami ber4 plus satu penjaga pintu; seorang cewek Korea yang kecil, putih dengan rambut lurus sebahu, persis boneka kayu.Waktu cable car berhenti dan dia membukakan pintu sambil membungkuk kami keluar dan berharap sudah berada dalam salah satu ruang dalam tower, ternyata lhoh! kok menaranya masih keliatan jauh?? Hiyah ternyata kita baru nyampe kaki gunungnya dan untuk mencapai pelataran menara kita kudu menaiki tangga menuju puncak. Smangat! Karena kita nggak sendirian, di malam yang gelap, dingin dan basah itu Namsan masih dipenuhi orang yang lalu lalang, Seoulites dan wisatawan. Kebanyakan sih couple gitu deh, sepayung berdua, berteduh dibawah gazebo Palgukjeong, nongkrong di bangku2 memandang Seoul dari atas dll. Kita sih sibuk foto2 dan sibuk norak nunjuk2 kesana kemari ngeliat spot2 yang selama ini cuma kita liat di guide book. Di pelataran tower ada Teddy Bear Museum, Misha cosmetic store, Souvenir and Gift Shop dan sebuah spot dengan jajaran pohon besi warna pink yang sangat menarik perhatian. Ternyata pohon dari kawat itu dipenuhi dengan gembok2 bertuliskan kalimat2 cinta. Seperti halnya di sebuah jembatan di Perancis, anak muda disana percaya bahwa pasangan yang meletakkan gembok di kawat itu akan langgeng selamanya. Kalo aku baca di buku sih dulu awalnya mereka memasang gembok itu di pagar besi di sekitar tower, tapi demi keindahan, sekarang pagar diganti fiberglass dan gembok2 itu dipindah ke pohon kawat….so cute.

Seoul_day_2_143

Ternyata dengan foto2 sekitar pelataran, masuk gift shop dan Teddy Bear museum pun kita sudah puas. Lagian kalo udah nyampe atas yang bagus ya ke observatorium atau resto berputarnya, tapi kita nggak minat tuh (nggak minat keluar duit maksudnya :D). Jadi sebelum hujan kembali lebat, kami memutuskan untuk kembali ke cable car station dan kembali ke Hotel. And we call it a day…..a wonderful day in Seoul.

Seoul_day_2_103

Eh belum ding, ga ada yang penasaran gimana kita akhirnya bisa pulang ke Hotel? Berhubung ditengah gunung yang jarang taksi dan kami pun ga ngerti kudu baik bus apaan, jadi kita…..jalan! hahahahha….kapan lagi kan jalan teklik-teklik di negri antah berantah tengah malem diguyur hujan. Nah itulah salah satu keindahan Seoul, biar tengah malem juga kotanya nggak mati, banyak orang2 yang baru masuk atau keluar kafe di sepanjang jalan menuju Namsan, bahkan sampai di jalan raya pun lalu lintas masih rame dan trotoar masih banyak orang. Seru deh.

Journey to the Seoul : Day 1

Alhamdulillah akhirnya terlaksana dan rampung sudah perjalanan penuh penantian ke Seoul-Korea. Bisa dikatakan dari 120% persiapan, yang sesuai rencana hanya 70% saja. Tapi itu pun sudah lumayan untuk sebuah penjelajahan ke dunia baru dalam 3 hari. Sudah bisa dikatakan sukses karena budget cukup, keinginan semua orang terakomodir dan yang paling penting: semua kembali dengan selamat, sehat walafiat meskipun balung remuk (dikit).

DAY1
Bisa dikatakan hari pertama dimulai sehari sebelumnya. Karena flight kami ke Kuala Lumpur berangkat subuh hari, jadi tengah malam sebelumnya kami sudah siap dijemput travel dengan perkiraan nyampe Bandara Djuanda 3 jam sebelum boarding (sesuai arahan Air ASia).Eh ternyata, airport sama airline ga kompak, airport nya baru buka jam 4an, padahal kita udah nyanggong sejak jam 2 :(. Tapi biarlah yang penting cukup waktu untuk segala urusan check-in dan imigrasi. Begitu nyampe gate langsung boarding.

Perjalanan SUB-KUL tergolong lancar dan Mozi sempet bobo. Sampe di KL yang rada njeglek. Baru dari Djuanda yang cantik dan terang itu kita disuguhi Bandara KLIA-LCCT yan mirip terminal bus. Turun pesawat panas2, masuk terminal umpel2an, bangunannya pun tanpa sentuhan artistik apapun (karpet pun tak ade). Yah namanya juga LCCT, kan Low Cost Carrier Terminal….wong murah kok mau enak :D. Cuma kaget aja sih, soalnya terakhir ke KL masih turun di KLIA yang megah dan indah, sekarang turun kasta.

Seoul_day_1_13

Ada waktu 4-5 jam transit kami memutuskan untuk check in ke transit hotel yang lagi2 milik Air ASia – Tune Hotel. Dengan bawaan segambreng2 (2 koper,6 tas) kita doronglah itu trolley penuh muatan ke halte bus yang bakal nganter kita ke hotel. Kelamaan nunggu kita nanya penjaga cafe tentang keberadaan Shuttle Tune Hotel itu. Eh sama dese kita malah suruh jalan aja, lha wong ternyata hotelnya dibalik cafe thea’. Kembali rombongan mendorong2 trolley menuju hotel yang sudah nampak di kejauhan. Ternyata banyak juga bule2 yang sama kayak kita dorong2 trolley bawa anak kecil menuju atau balik dari hotel.

Seoul_day_1_58

Setelah semua nyaman di hotel, petualanganku dan mario pun dimulai. Salah satu impiannya kalo transit di KL adalam ke menara Petronas, tapi daripada uber2an sama waktu, kita pilih petualangan deket2 situ yang gak kalah oke: Sepang International Circuit. Lagian kalo dipikir2 Mario ya lebih seneng liat sirkuit F1 lah daripada jauh2 ke KL cuma buat foto di depan menara kembar (habis mau masuk juga ga ada duit beli apa2 :D). Setengah jam berlalu dan kita kembali berada di LCCT untuk check in dan boarding flight berikutnya dari Kul ke Incheon.

Perjalanan panjang kali ini lebih melelahkan karena selain makan waktu siang sampe malam, kita sendiri banyak duduk, ditambah si Mozi yang mulai gak nyaman bergerak. Padahal itu udah booking seat yang punya extra leg room, plus kursi di belakangnya untuk papi mami, plus bassinet untuk box mainnya dia (karena kalo untuk bobo mozi udah kegedean), plus banyak ruang untuk jalan2 dan muter2 di area pramugari dan emergency exit. meskipun akhirnya dia bisa tidur dipangku, tapi sering kebangun sambil mewek2, mungkin karena badannya pegel ga bisa gelundungan kayak di kasur.

Seoul_day_1_68

Syukurlah dari perkiraan kita nyampe Incheon tengah malem, kita nyampe lebih sore sekitar jam 22 an. Airportnya terkesan moderen dan LUAZ . Gimana ga luas kalo satu pulau dimakan sendiri buat jadi bandara. Gatenya aja sampe 150an (dueng!). Sangat disarankan untuk mempelajari peta dan mendownload guide booknya sebelum menuju kemari. Kalo enggak alamat muter2 ga nemu jalan keluar sampe pagi. Bayangin aja kalo gate pesawat sampe 150, pintu exitnya bisa sekitar…yah…50an lah ;S. Belum lagi kudu nyari bus/taxi yang akan membawa kita ke tempat tujuan parkirnya dimana. Beuh pusing.

Kita sih udah siap mau pake taksi sedan yang biasa mangkal di exit c8, tapi apa barangnya cukup masuk bagasi? Kok ya ndilalah ada bapak2 nyamperin nawari taksi van pake argo. Hem…tengah malem gini kudu cepet memutuskan nih. AKhirnya kita setuju untuk naik van-nya, berdoa semoga bukan taksi abal2 kayak di Jakarta. Meskipun agak was2 juga waktu ngikuti orangnya turun jauh ke parkiran basemen ternyata semua berjalan lancar. Taksinya lapang, semacam KIA Carnival lengkap dengan argo, alat pembayaran kartu, GPS, telpon mobil dll bahkan dapet bonus supirnya bisa bahasa inggris dikiiit (supir2 taksi kami berikutnya sama sekal mengeluarkan kata dalam bahasa inggris). Terakhirnya kudu bayar mahal juga sih, tapi sesuai dengan perkiraan yang diberikan website Incheon karena kita harus bayar Toll Fee, extra charge tengah malam dll.

Dan disanalah kami turun, di sebuah bangunan tinggi diantara toko2 kecil yang mengelilingi taman kota yang sudah gelap; Hyundai Residence. Selama hari2 kedepan hotel ini akan menjadi tempat tinggal kami di negeri ginseng.

Seoul_day_1_92