Journey to the Seoul: Day 2

Ahhh…akhirnya hiruk pikuk awal Ramadhan mereda dan bisa kembali menulis cerita petualangan kami yang belum lama berlalu (tapi udah terasa lama)

DAY2
Hari kedua dimulai dengan encok nyeri otot, Mozi pun yang biasa jadi alarm, hari itu baru bangun jam 10an. Padahal kalo sesuai jadwal konferensi mami dan agenda buatan Ms.Organizer hari itu kudu dimulai dengan registrasi on-site pada pukul 7 pagi. Dueng! ampun dijee… Tapi ya sudahlah, daripada maksain terus sakit ya mending istirahat dulu. Apalagi sejak kita nyampe hotel kemaren malem, hujan mengguyur dan belum ada tanda2 mereda. Sante2 sarapan aja dulu LAH, terus nanti mami dianter Mario ke venue yang lokasinya di pinggir kota. Lagaknya maen anter2 kayak nganter ke Kepanjen aja! Padahal sama2 ga ngerti jalan.Tapi ya mau gimana lagi, ga ada yang tau ngalor-ngidul,jadi ya cuma bisa ngandelin peta dan hasil net-research.

Jam 11 kita turun berrombongan ke lobi, berharap dapet sarapan ala korea kita yang pertama, tapi alhasil “Vinis….vinis” kata mas resepsionis sambil nunjukin papan petunjuk yang menyatakan bahwa sarapan disajikan jam 6.30 – 10.30…:(. Terpaksa plan B deh, beli makanan di 7eleven di lantai dasar, huh apa bedanya sama di Thamrin dong belinya di 7eleven juga. Tapi jangan salah pemirsa, begitu masuk toko yang ga jauh beda sama Indomaret itu, aku langsung berasa masuk ke planet lain. Nggak ada satu produk pun yang aku kenali, dan pas mau dibaca satu2, tulisannya keriting begituuuu…. Dengan setengah excited (kapan lagi ngerasa kayak Mozi yang baru pertama kali ngeliat segala sesuatu) dan setengah meraba2 aku nyari di bagian kulkas yang berisi tumpukan sosis, nasi kepal pake nori (ala doraemon), sushi potong dan beberapa kotak plastik isi nasi serupa bento. Karena lapar dan belum kepikir eksplorasi ke sudut toko lainnya, jadi ya kita ambil aja yang nampak wajar; sandwich, pizza, bento dan sushi yang bisa dipanaskan di toko pake microwave.

Melihat kesibukan di luar hotel, lalu lalang orang dan motor, taman yang hijau basah, kita tergoda banget untuk segera memasuki kehidupan Seoul di luar sana, tapi berhubung hujan deres banget ya kta terpaksa beli payung dulu di 7eleven yang harganya lumayan juga, 9000 won untuk payung lipat dan 6000 won untuk payung panjang transparan (kalikan 10rupiah). Dengan modal 2 payung untuk  4 orang plus mozi kita nganter mami dan Mario keluar, ternyata kehidupan di luar sana sama sekali nggak terhalang hujan. Di jalan sempit di depan hotel itu berlalu-lalang motor penarik gerobak yang ditutup plastik, polisi berjaga dengan jas hujan, penjaja makanan dalam tenda plastik dan mas2 mbak2 korea yang berlarian dibawah payung (satu orang satu payung ya! plis deh). Ternyata yang bikin jalan itu sibuk adalah jajaran kios2 percetakan di sekeliling taman. Tapi dengan pertimbangan si kecil dan si besar yang masih ngantuk, jadi kami bertiga kembali ke atas, sementara grup pertama memulai petualangannya menyusuri belantara Seoul..cieh..

Seoul_day_2_64

Sempet ketiduran setengah jaman dan badan bener2 ga mood diajak jalan, padahal daftar tujuan wisata sudah menanti. Ah nunggu grup pertama dateng aja deh, agak sorean gpp. Lha baruuu selesai mbatin gitu, lha kok bel pintu bunyi? Siapa gerangan? Lha kok mama dan mario sudah muncul di pintu dengan baju basah kuyup dan payung terbungkus plastik. What’s going on? “Banjir! Banjir!” kata mama What! Kok ya kebetulan papa lagi nyetel tivi dan ada pemandangan mobil2 terrendam, tanah longsor dan rumah2 tenggelam. Papa bengong sambil nyeletuk “Lho ini dari tadi memang tivinya nayangin banjir, tapi kita ga tau ini kejadian dimana lha wong ra ngerti bosone”. Tak dinyana kedatangan kami bersamaan dengan kedatangan badai monsoon yang melanda korea sekali dalam setahun. Dan kali ini termasuk yang teparah. Untunglah hotel kami berada di dataran tinggi Namsan, jadi kami hanya terkena dampak hujan aja.

So, what’s next? Tour istana, traditional village, changing guard, semuanya di outdoor jadi ga mungkin terlaksana. Jalan2 apa yang sekiranya aman dari hujan dan ga jauh2 dari hotel? Wisata belanja tentunya. Dan karena niatnya bukan window shopping, melainkan belanja beneran ya kita ga menuju ke mega mall yang sudah sering digadang2 itu; Lotte Mall atau Shinsegae. Kita prefer ke arah Dongdaemun yang merupakan pasar barang2 murah di Seoul, disana ada Migliore yang kalo diliat2 ga jauh beda sama ITC Ambasador, cuma yang ini barangnya beneran barang korea :D. Emang sih barangnya lucuk2, imut2, tapi kok harganya ngga ITC banget ya. Masa rok span harganya 20.000 won, mahal ga sih?

Seoul_day_2_73

Tapi eniwe, yang berkesan bukan mall atau belanjanya, tapi perjalanan menuju kesananya, bergesekan dan berdesakan dengan orang korea, menyusuri2 jalan2 kecil dan gang2 dari hotel kami seperti berjalan dalam mimpi. Semunya nampak tidak nyata, semuanya sama sekali baru dan berbeda dengan dunia yang biasa aku kenal. Resto2 kecil dengan asap mengepul, kios2 tenda di pinggir jalan yang menjajakan mulai dari jagung bakar sampai ikat pinggang, semua berjajar rapi dibawah kaki gedung2 pencakar langit yang mentereng dan mondar-mandir warga Seoul yang super trendy dan sama sekali tidak takut hujan (kostum wajib cewek; hotpants/mini skirt + boots plastik). Sooo chic. Siang itu ditutup dengan makan fast food di Lotteria, semacam Mc.Donald nya Korea (sangat mungkin merupakan anak usaha dari raksasa Lotte)

Seoul_day_2_75

Meskipun sampe hotel dengan basah dan kedinginan, tapi rasanya indah aja gitu. Sorenya mondar-mandir di kamar yang cukup luas untuk orang 5, masak buat Mozi,belanja lagi di 7eleven, nonton tivi bisu, mandi, cuci baju (halah ngapain jauh2 ke Korea itu mah) dan sebagian besar waktu kami habiskan menatap kehdiupan Seoul dari kaca jendela kami; atap2 rumah, perkantoran, jalan raya dan gunung Namsan di kejauhan.

Waktu jam menunjukkan pukul 21 dan Mozi sudah tergeletak di kasurnya, ternyata hari belum berakhir untuk kami. Mami bersedia njagain Mozi yang lagi tidur dan aku dan Mario segera menyusun rencana petualangan malam itu; Seoul Tower. Setelah dipastikan bahwa tower tutup jam 23, kami keluar ke jalan besar Chungmuro untuk mendapatkan taksi. Meskipun sudah mempelajari peta dan menghafal jalur bus menuju Seoul Tower dengan hujan yang masih mengguyur malam itu kami merasa buta arah dan menyerah pada jasa supir taksi. Eh lha kok ternyata baru masuk taksi, ga berapa lama udah jalan menanjak dan taksi berhenti. Supir taksi menunjuk ke stasiun cable car yang masih terang di ujung jalan. Ealah sudah sampe tho, deket ternyata, argonya aja baru jalan dikit. Dengan susah payak kami nanya ke supir taksi gimana dapetin taksi di atas sini untuk kami pulang nanti, tapi hasilnya hanya tatapan kosong si supir yang ga ngerti Inggris. Ya wes lah pasrah aja

Di loket cable car hanya ada kami dan 2 cewek bermata sipit yang ternyata juga wisatawan
dari Jepang. Cable car yang lapang membawa kami ber4 plus satu penjaga pintu; seorang cewek Korea yang kecil, putih dengan rambut lurus sebahu, persis boneka kayu.Waktu cable car berhenti dan dia membukakan pintu sambil membungkuk kami keluar dan berharap sudah berada dalam salah satu ruang dalam tower, ternyata lhoh! kok menaranya masih keliatan jauh?? Hiyah ternyata kita baru nyampe kaki gunungnya dan untuk mencapai pelataran menara kita kudu menaiki tangga menuju puncak. Smangat! Karena kita nggak sendirian, di malam yang gelap, dingin dan basah itu Namsan masih dipenuhi orang yang lalu lalang, Seoulites dan wisatawan. Kebanyakan sih couple gitu deh, sepayung berdua, berteduh dibawah gazebo Palgukjeong, nongkrong di bangku2 memandang Seoul dari atas dll. Kita sih sibuk foto2 dan sibuk norak nunjuk2 kesana kemari ngeliat spot2 yang selama ini cuma kita liat di guide book. Di pelataran tower ada Teddy Bear Museum, Misha cosmetic store, Souvenir and Gift Shop dan sebuah spot dengan jajaran pohon besi warna pink yang sangat menarik perhatian. Ternyata pohon dari kawat itu dipenuhi dengan gembok2 bertuliskan kalimat2 cinta. Seperti halnya di sebuah jembatan di Perancis, anak muda disana percaya bahwa pasangan yang meletakkan gembok di kawat itu akan langgeng selamanya. Kalo aku baca di buku sih dulu awalnya mereka memasang gembok itu di pagar besi di sekitar tower, tapi demi keindahan, sekarang pagar diganti fiberglass dan gembok2 itu dipindah ke pohon kawat….so cute.

Seoul_day_2_143

Ternyata dengan foto2 sekitar pelataran, masuk gift shop dan Teddy Bear museum pun kita sudah puas. Lagian kalo udah nyampe atas yang bagus ya ke observatorium atau resto berputarnya, tapi kita nggak minat tuh (nggak minat keluar duit maksudnya :D). Jadi sebelum hujan kembali lebat, kami memutuskan untuk kembali ke cable car station dan kembali ke Hotel. And we call it a day…..a wonderful day in Seoul.

Seoul_day_2_103

Eh belum ding, ga ada yang penasaran gimana kita akhirnya bisa pulang ke Hotel? Berhubung ditengah gunung yang jarang taksi dan kami pun ga ngerti kudu baik bus apaan, jadi kita…..jalan! hahahahha….kapan lagi kan jalan teklik-teklik di negri antah berantah tengah malem diguyur hujan. Nah itulah salah satu keindahan Seoul, biar tengah malem juga kotanya nggak mati, banyak orang2 yang baru masuk atau keluar kafe di sepanjang jalan menuju Namsan, bahkan sampai di jalan raya pun lalu lintas masih rame dan trotoar masih banyak orang. Seru deh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s