Journey to the Seoul : Day 4 (end)

Uwaaaaah benernya muales posting Seoul Day 4, karena eh karena itu hari terakhir dan tu berarti petulangan Seoul usai….uhuuhuhu. Ya tapi daripada basi dan keburu lupa, ya postinglah.

DAY 4
Udah ketebak banget, hari keempat saat kita udah mulai familiar dengan kotanya, kita udah mau pulang. Bleuh! Tapi gapapa, karena flight masih tengah malem, berarti kita masih punya the whole day untuk menjelajah – dan menghabiskan agenda2 yang belum terlaksana. Tema hari ini bener2 walking tour, menyinggahi beberapa spot menarik di pusat kota (yang sebenarnya adalah agenda Day 1 yang tertunda).

Tapi pertama2, mari kita mengefektifkan pagi hari supaya tidak menyesal kemudian. Kalo hari pertama konferensi mami dianter Mario, hari kedua dianter Papi, nah hari ketiga ini aku yang pengen nganter. Padahal si maminya udah pede jalan sendiri. Tapi emang ada agenda pribadi sih :D, mumpung di Seoul aku pengen ke galeri nasional-nya, merupakan kebetulan yang menyenangkan bahwa Musee D’Orsay Paris sedang memamerkan masterpiece nya di Seoul Art Center yang lokasinya hanya 1 stasiun sebelum stasiun si mami. Jadilah dengan semangat pramuka, pagi itu saya memulai petualangan saya sendiri. Sementara di hotel lagi buka Daddy Day Care, alias Mozi dijagain Bapak dan Akungnya hehe.

Akhirnyaaaaa aku menginjakkan kaki di subwaynya. Bersih, moderen, teratur, yah begitulah ngga ada yang istimewa. Dan si mami udah expert aja gitu nunjuk2in jalan hehe padahal baru 3 hari pake subway. Dari naik subway itulah salah satu agenda untuk ‘menyeberangi Sungai Han’ terlaksana, karena hotel dan pusat pemerintahan berada di utara sungai, sedangkan tujuan kami dan mal2 baru yang megah dan bangunan baru lainnya berada di selatan sungai.

sekitar 15 stasiun kemdian saya siap turun sebelum mami. Mau turun saya salim kayak pagi2 dianter sekolah, beuh diliatin orang segerbong dong. Dikira gigit tangan emaknya kali ya. Dan turunlah saya di stasiun Nambu Bus Terminal yang ternyata beda sama stasiun Chungmuro, yang ini terkesan tua, suram dan sepi. Saya harus muter dan naik tangga 3 kali untuk akhirnya melihat dunia luar. Di luarnya pun kesannya kayak udah beda kota aja. Beda sama downtown yang hingar bingar, dan crowded, di Seoul bagian ini kotanya lebih lapang, banyak kantor dan masih dikelilingi bukit2 hijau. Tapi kalo traffic mah jangan tanya, full sampe ke pinggir2nya. Dengan pedenya aku jalan belak-belok sesuai peta. Biar deh nyasar, yang penting udah dicoba. Eh tapi enggak lho, setelah 10 menit jalan akhirnya keliatan tuh gedung yang sekiranya sesuai dengan gambaran SAC. Nggak megah sih, tapi besar, warna coklat, dengan poster2 pameran berjajar di dindingnya. Salah satunya adalah poster pameran lukisan Van Gogh yang aku tuju.

Seoul_day_4_49

Masuk gedung ga terlalu rame pengunjung. Yang rame malah pekerja yang sibuk nyerok2 lumpur di depan lobi, ngepel2 lantai dan mompa2 air di dalem gedung. Waktu ada staf gedung yang senyum menyambutku, aku nanya dong dimana kah pameran dimaksud. Taelah orangnya ga nyambung, di nunjuk aja ke lift. Ya udah aku ikutin, naik lift. Di lantai 1 dan 2 pun masih banyak petugas yang mondar2 bersihin lantai. Melihat loket ticket box aku tanya lagi. Wah sami mawon, ga ada yang nyambung. Sempet stres deh, tau gitu bawa brosurnya biar jelas. Dengan ngoto aku mengulang2 kata “Musee D’Orsay, painting, Paris” eh dia nunjung ke Vending machine “no..no Painting, Van Gogh” yak! nyambung deh dia “aaaa..Van Gogh, .pheinting…pheinting” Huuuf lega….dikit lagi nih eke nonton Van Gogh. “Yes, where is it?” “Oh it is canceled” “What?” pasti salah denger lagi nih gue “You mean it’s stopped?” “Yes, due to natural disaster” dia nunjuk ke lantai gedung yang sedang dipel. Oh my mother! baru sadar kalo Seoul bagian inilah yang dua hari lalu terrendam banjir karena badai monsoon. Dan kalo diamati emang lantainya kotor bercak2 lumpur. Masih syok berribu syok aku melangkah pergi dengan gontai. Bok jauh2 kemari dari Lowokwaru demi Van Gogh ini, ternyata batal karena banjir. Lagian gila aja kalo Orsay mau kirim koleksinya ke tengah banjir. Bisa luntur itu lukisannya. Yah aku paham lah.

Di bawah, akhirnya aku nemu information desk dimana petugasnya ngomong inggris. Dia ngejelasin kalo computer crash dan pameran dihentikan. Mungkin baru dibuka lagi awal Agustus. Huhuhuuhu…..jadi sebenernya, Van Gogh, Monet dan Chagal sudah ada di gedung ini??????? cuma karena system down aku ga bisa ketemu? AAArrghhhh….Sisi positifnya, siang itu bisa janjian sama Adhit. Temen SMA yang sekolah disini. Jadi segeralah aku balik ke stasiun dan naik subway pulang. Ternyata grup 2 yang stay di hotel pun punya petualangan sendiri. Bapak2 itu jalan2 masuk ke pasar ikan asin ga jauh dari hotel kami.

Seoul_day_4_25

Setelah istirahat bentar dan nunggu juragan kecil bobo,  akhirnya kita ketemuan sama Adhit. Dia menawarkan diri untuk nganter keliling. Agenda berikutnya adalah nonton Changing Guard di Deoksugung Palace. Menurut internet sih jam 14.00, dan sekarang udah 13.45 duuuuh semoga kekejar. Taksi membawa kami ke pusat kota dimana City Hall berada, bersama UNESCO building, dan bangunan pemerintahan lain mengelilingi alun2 hijau yang guede. Waktu taksi baru masuk alun2, udah keliatan tuh ada keramaian di kejauhan dengan orang2 berpakaian warna-warni. Wah! jangan2 udah mulai tuh. Padahal taksi kudu muterin alun2 untuk bisa stop di depan palace. Yah lumayan lah, sampe sana masih dapet setengah prosesi. Dimana para pengawal istiana berbaris, memukul beduk dan drumband nya melakukan upacara penggantian penjaga. Wik kayak di pilem2 silat korea (silat???).

Usai prosesi kami diberi waktu untuk berfoto dengan para pengawal. Bahkan di salah satu tenda di ujung gerbang istana ada papan bertulisakan “Hanbok Experience for  free” Wah! beneran nih, bisa pake hanbok lagi? Mau ga ya…mau ga ya…kan kemaren udah. Lagian ini ditengah keramaian orang begini. Sementara aku kelamaa mikir, tiba2 ada dua pengawal istana yang nyamperin aku “Fotoin kita gih!” Helaaaa ternyata si papi dan Mario udah mejeng dengan kostum pengawalnya. Cepet bener. Aku jadi panas deh pengen juga. Jadi aku mengajukan diri dan sama mbaknya dikasih kostum dayang warna ijo tosca dengan rok shocking pink. Lagian mumpung Mozi bangun nih, jadi poto sekalian. Tapi ya namanya juga seadanya di pinggir jalan jadi ya mereka ga punya kostum untuk anak2. Jadilah kami foto dengan mozi masih pake kaos dinasnya yang pewe, karena bangun tidur. 😀

Seoul_day_4_69

Setelah mengembalikan kostum kita melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Cyeonggyecheon Stream. Sebuah sungai di tengah kota yang dirombak habis2an sehingga menjadi oasis yang sejuk di tengah kota tempat orang2 ngadem dan konkow2. Tapi sebelumnya kami mengisi perut dulu. Mumpung ada ADhit yang bisa basa korea, kita sok2an makan di warung korea. Dan akhirnya
kami berhasil mencicipi rasa asli Bibimbap, Bulgogi dan Namhyeong. Setelah itu baru berpanas2 ke Chyeonggyecheon yang ternyata aslinya rame tapi asri dan seger ditengah cuaca musim panas Seoul yang sebenarnya. Sayang seandainya kita bisa dateng malem, ada pertunjukan laser di sungai ini, tapi kita ga sempet.

Seoul_day_4_128
Img_7874

Selebihnya kita menikamti Seoul dari taksi. Bahkan istana utamanya Gyeongbokgung yang dipake shooting Jang Geum (UNESCO WorldHeritage) pun cuma kami lihat di kejauhan. Hari sudah menjelang sore dan kami mesti bersiap2 menempuh another red-eye flight back to Indonesia.

Good Bye Seoul, Good Bye Korea. Thank you for the lovely adventure and the kindness. May we meet again someday.

Seoul_day_4_189

 

Advertisements

4 thoughts on “Journey to the Seoul : Day 4 (end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s