Kalo orang cantik…..*

*tidak ada pesan khusus dalam postingan ini

 

Saya percaya bahwa setiap manusia diciptakan cantik dengan cara yang berbeda2. Tapi mari kita akui bersama bahwa ada orang yang secara universal dinilai cantik. Dari emak2, anak teka, sampe cowok2 gay pun mengakui kalo dia cantik. Kalo model jadul itu seperti Ida Iasha misalnya. Kalo jaman sekarang mungkin Dian Sastro.

 

Dan saya sadar bahwa saya tidak termasuk golongan itu, ah saya sudah biasa kalo lagi jalan sama adek dibilang orang “adeknya manis ya, kalo mbaknya……putih” menang putih doang :D. Saya mengatakan ini tanpa secuilpun rasa minder, mungkin sedikit iri, tapi tidak minder. Jujur saja kecantikan bukan fitur yang saya unggulkan.

 

Tapi yang saya amati ya, kalo orang cantik itu….

 

 

Selalu mengundang pandangan mata, pujian dan senyuman setiap dia lewat. Gak peduli di mall, di trotoar, atau di kantin kantor sekalipun. “Eh mbak cantik, mau beli apa?” Gimana ya rasanya selalu dipuji dimanapun kita berada? Dia ngerasa ga sih kalo setiap dia lewat selalu mengundang perhatian? Dia menikmati apa enggak ya? Dia ngarepin itu nggak ya?

 

Gak peduli bagaimanapun prestasinya, kemampuanya, kelakuannya, atau cara berpakaiannya selalu dikenal di lingkungannya. Bunga kampung, bunga kampus, bunga kantor, dll. Heran deh, kalo ketua osis/juara umum/jawara basket terkenal itu wajar, lah ini kita harus kenal dengan seseorang hanya karena dia cantik. “Tau si Lulu kan, yang cantik itu” …

 

Bisa mendapatkan senyuman, sikap ramah dari siapapun – terutama cowok. Yah meskipun kalo kelakuannya minus ya cuma awal2nya aja manis2. Tapi enak kali ya kalo ke kantin dapet bonus dadar jagung karena dia cantik, dikasih senyum sama petugas loket yang udah jutek seharian. Dapet pahala juga kali ya bisa bikin orang seger gitu

 

Somehow jadi dapet privilege gitu, ga cuma dadar jagung lho. Entah gimana, karena dia terkenal orang jadi banyak yang tau kan ya, jadi dia tiba2 ditawarin jadi model, dicalonin jadi ketua senat. Ya well meskipun dia ga menang tapi pasti banyaklah orang lain yang kemampuannya sama/lebih bagus dari dia. Tapi karena ga dikenal jadi ga ada yang nyalonin deh.

 

Karena selalu jadi pusat perhatian jadi selalu diawasi gerak-gerik nya dan somehow orang jadi berharap lebih sama dia. Jadi kalo tiba2 dia ngupil langsung jadi bahan omongan deh “eh cantik2 ngupil” lha kalo cantik nggak ngupil kan bisa2 mati ga bisa bernafas (karena hidung tersumbat). Atau “eh cantik2 kok bego sih” lha emang cantik kudu pinter? terus yang bodo biar yang jelek2 aja? kan ga juga ya

 

Sering jadi rebutan, kalo kecantikan dihitung dari banyaknya oranng yang pdkt sama dia, maka orang cantik itu bisa2 yang pdkt ada 10 orang lebih. belum termasuk secret admirer yah. jadi kalo dipikir2 enak ya jadi orang cantik, tinggal cap-cip-cup aja kalo mau jadian. tapi apakah jaminan bahwa orang yang beneran dia taksir udah pasti naksir dia? ga tau juga sih

 

Sering salah sangka. Atau aku sebenernya yang salah sangka. Aku kira semua pria yang mengagumi kecantikan si A itu punya special feeling dengan dia dan mau jadi pacarnya. Tapi ternyata nggak selalu lho. Dari beberapa kali aku tanyain ke cowoknya langsung “kamu tiap liat A lewat bisa sampe ngiler2 gitu, ya udah lah tembak lah” jawaban mereka kadang2 mengejutkanku “ah aku kan cuma suka liatnya doang, kalo jadi pacar ya pikir2 dulu” alasannya macem2 sih. ada yang cetek semacam “ah biaya salonnya mahal” sampe yang lumayan dalem “cantik sih, tapi kan belum tentu obrolannya nyambung sama gw”

 

seperti juga superhero, mengemban beban yang berat juga. With great looks, comes great responsibility. Selain harus jaga sikap dll, dia juga akan mendapatkan perhatian2 yang mungkin tidak dia inginkan. Bahkan mungkin hanya karena good look nya itu dia jadi terpaksa melakukan hal yang tidak dia inginkan. Mulai dari yang enteng semacam fotonya dipajang di brosur, sampe yang berat seperti harus mengawini orang penting yang tidak dia sukai (e.g., manohara). Itu semua berawal dari kecantikannya kan? mesipun kaya, baikhati, sopan, penuh pengabdian kayak apa kalo ga cantik juga ga bakal ditoleh si orang penting. Dan karena dia menjadi kejaran banyak orang, tiba2 saja nilai jualnya jadi makin tinggi sehingga si orang penting merasa harus memilikinya hanya karena prestis. Ironis kan…….

 

Ya terserahlah apakah setelah baca sepanjang ini anda menjadi lebih mensyukuri apapun kondisi anda, atau semakin minder dan ngotot pengen jadi super cantik. Resiko ditanggung pembaca. Tapi kalo saya lebih bangga kalo dikenal orang karena prestasi dan kebaikan hati ya. Kalo good looks sih bisa diusahakan dengan merawat diri dan good style. Kalo pengen ngerasain jadi cewek tercantik sejagat jalan aja di depan kuli2 bangunan, niscaya sapu dikarungi pun disuitin deh …

 

Apakah hal2 tersebut diatas berlaku untuk cowok ganteng? Surprisingly not all of them lho…..

Advertisements

About being depressed: Sebuah refleksi*

*atau monolog berkepanjangan

Mendengar kata depresi yang biasanya tergambar adalah orang2 gagal yang putus asa, kurus, suram, kehidupannya acak2an dan cenderung suicidal. Tapi ternyata tidak selalu begitu. Depresi bisa datang pada orang yang paling beruntung di dunia, orang yang paling sukses di dunia, orang paling sehat dan cantik di dunia bahkan orang paling alim dan pasrah di dunia. Kasus2 depresi sedang banyak bermunculan di sekitar saya.

Photo_2
Yang terdekat adalah teman seruangan saya. Seorang wanita muda yang cantik, ramah, banyak teman, rajin beribadah, tutur katanya halus, baru saja memiliki momongan dan karirnya mantap karena kepercayaan bos yang berlimpah kepadanya. Sudah satu bulan ini ia tidak masuk kantor. Ternyata ia mengalami depresi. Ayahnya meninggal karena kanker, ibunya terpukul sedangkan ia harus kembali ke ibukota untuk merawat anak dan kembali bekerja. Sepertinya batinnya terguncang dan dia menjadi tubuh yang kosong dan linglung.
Baiklah, itu memang kasus yang berat (menurut saya) siapapun yang tidak siap menghadapi bencana pastinya terguncang. Tapi saya berusaha menggaris bawahi bahwa seorang yang gaya hidupnya sempurna diatas kertas pun bisa mengalami depresi.
Lalu sebuah berita di media online mengabarkan bahwa pelatih voli Rusia gantung diri karena merasa gagal membawa tim-nya menang dalam olimpiade. Terdengar seperti penyebab depresi yang remeh bukan, dibandingkan seorang istri yang bunuh diri karena dibelit hutang sementara suaminya minggat meninggalkan banyak anak. Kali ini menurut saya depresi terjadi pada seseorang yang menggantungkan seluruh hidupnya pada sesuatu yang fana.
Tapi lagi2 dalam kasus itu depresi terjadi karena sebuah pukulan, sebuah bencana yang terjadi tanpa diharapkan.
Lalu bagaimana dengan posting seorang teman (blog) yang saya rasa hidupnya sangat menyenangkan (bukan sempurna) tinggal di Amerika, bisa mendapat uang dari hobinya; memasak dan menulis buku, bahkan bisa travelling kemanapun dia mau tanpa beban. Rumahnya indah dengan desain cantik, memiliki keluarga yang humoris dan pintar memasak, teman2 yang asik dan banyak. Benar2 bukan tipikal orang amerika yang penyendiri, materialistis, putus hubungan dengan keluarga, dan hedonistis.
Tapi dalam postingan terakhirnya dia panjang lebar menjelaskan awan hitam yang menggelayutinya kemanapun dia berada, yang memaksanya menemui seorang psikolog. Tak peduli dengan segala pencapaiannya selama ini, dia merasa rendah diri dan kosong. Tak peduli teman2 yang siap diundang sleepover setiap saat, dia merasa kesepian. Tak peduli berapa kali ia terkagum2 pada keindangan saat travelling, ia merasa sedih dan hampa. Ia menjelaskan perasaan itu seperti feeling homesick when you’re already at home. Sounds familiar?…
Waktu saya pertama kali jauh dari rumah dan benar2 harus berjuang sendirian, hidup ini rasanya meranaaaa sekali. Duit ga pernah cukup, tagihan tiada henti, masih kudu sekolah, masih kudu kerja cari duit, dll. Saya tiba2 merasa seperti anak yatim piatu yang menjual korek api di tengah badai salju, seperti di dongeng itu. Sendirian, kesakitan, tapi harus tetap berjuang. Kalo udah kayak gitu bisa dipastikan aku rindu rumah, homesick. Bukan mami-papi-nya, bukan nasi hangatnya, bukan senang2nya. Tapi perasaan aman dan nyaman berada dalam rumah, dalam lindungan orang tua.
Tapi setelah kuliah lulus, kerjaan dapet, segala macem, kok masih sering kumat melo2nya. Yang paling membuatku sedih adalah, bahkan saat aku pulang ke rumah dimana dulu aku merasa nyaman sekalipun, aku tidak lagi menemukan ‘home’. Lalu kemana lagi saya harus mencari ketenangan itu?
Membaca postingan teman saya itu, dan berkaca pada diri sendiri yang kadang2 kalo kumat melo-nya jadi ngerasa depresi sendiri. Saya menarik kesimpulan. Perasaan hampa itu muncul pada saat kita tidak memiliki tumpuan. Ibaratnya, sekokoh-kokohnya batu bata kalo ditumpuk tanpa ada tiang penyangga dan pondasi, pasti ya bakal ambrol juga. Hollow istilahnya. Waktu masih kecil hidup masih ditanggung ortu, hidup kita paling ya buat sekolah. Makan, minum, tidur semua sudah terjamin.
Saat masa sekolah usai dan bener2 masuk dunia nyata, disini kita dituntut untuk mencari tumpuan hidup sendiri. Ada yang bertumpu pada uang, sehingga segala yang dia kerjakan adalah untuk mendapatkan uang sebanyak2nya. Ada yang bertumpu pada karir sehingga dia banting tulang untuk itu. Di kasus pelatih voli itu dia bertumpu pada pencapaiannya dalam melatih tim voli-nya, jadi begitu dia merasa tumpuanya itu gagal. Dia ambruk. Mungkin teman kantorku itu menumpukan hidupnya pada well-being ortunya. Jadi begitu ortunya sakit dan akhirnya meninggal, dia merasa hancur berantakan. Nah kalo diliat2 lagi, kebanyakan orang barat (seperti teman blog ku itu) menumpukan hidupnya pada kebahagiaan. Kebahagiaan yang diidentikkan dengan mencari kesenangan abadi dan menghindari segala sesuatu yang menyusahkan seperti keluarga yang ribet, kerjaan yang boring bahkan mungkin sekolah, pernikahan dan anak.  Pokoknya semua harus CONVENIENT alias gampang, instan, senang. Saat itulah mereka kehilangan tumpuan.
Photo_4
Karena kalo aku liat lagi, perjuangan itulah sebenarnya tumpuan yang bikin hidup lebih berarti (beuh berat). Coba bayangin, hidupnya si volley coach itu bisa dipastikan lebih enak daripada bapak2 tukang sampah yang harus bangun subuh bergulat dengan kotoran untuk uang yang ga seberapa. Tapi kenapa yang bunuh diri malah si volley coach? Bahkan mungkin si tukang sampah lebih sering merasa bersyukur dan bahagia daripada si volley coach itu. Bahagia dapet duit tambahan 10ribu, bahagia bisa beliin anaknya sepatu baru. Kebahagiaan2 kecil yang membuat perjuanganya itu worthwhile. Yang bikin dia tetep semangat untuk banting tulang lagi esok harinya.
Mungkin kalo udah mulai kumat depresi, seseorang bukannya kudu cari kesenangan (sesaat) seperti dugem, party atau shopping2, tapi malah kudu nyari tujuan/target baru untuk diperjuangkan. Karena emang bener kan, orang ga akan bisa merasakan manis kalo ga pernah ngerasain pahit. Bahkan orang yang sehari2 makan gula sekalipun.