About being depressed: Sebuah refleksi*

*atau monolog berkepanjangan

Mendengar kata depresi yang biasanya tergambar adalah orang2 gagal yang putus asa, kurus, suram, kehidupannya acak2an dan cenderung suicidal. Tapi ternyata tidak selalu begitu. Depresi bisa datang pada orang yang paling beruntung di dunia, orang yang paling sukses di dunia, orang paling sehat dan cantik di dunia bahkan orang paling alim dan pasrah di dunia. Kasus2 depresi sedang banyak bermunculan di sekitar saya.

Photo_2
Yang terdekat adalah teman seruangan saya. Seorang wanita muda yang cantik, ramah, banyak teman, rajin beribadah, tutur katanya halus, baru saja memiliki momongan dan karirnya mantap karena kepercayaan bos yang berlimpah kepadanya. Sudah satu bulan ini ia tidak masuk kantor. Ternyata ia mengalami depresi. Ayahnya meninggal karena kanker, ibunya terpukul sedangkan ia harus kembali ke ibukota untuk merawat anak dan kembali bekerja. Sepertinya batinnya terguncang dan dia menjadi tubuh yang kosong dan linglung.
Baiklah, itu memang kasus yang berat (menurut saya) siapapun yang tidak siap menghadapi bencana pastinya terguncang. Tapi saya berusaha menggaris bawahi bahwa seorang yang gaya hidupnya sempurna diatas kertas pun bisa mengalami depresi.
Lalu sebuah berita di media online mengabarkan bahwa pelatih voli Rusia gantung diri karena merasa gagal membawa tim-nya menang dalam olimpiade. Terdengar seperti penyebab depresi yang remeh bukan, dibandingkan seorang istri yang bunuh diri karena dibelit hutang sementara suaminya minggat meninggalkan banyak anak. Kali ini menurut saya depresi terjadi pada seseorang yang menggantungkan seluruh hidupnya pada sesuatu yang fana.
Tapi lagi2 dalam kasus itu depresi terjadi karena sebuah pukulan, sebuah bencana yang terjadi tanpa diharapkan.
Lalu bagaimana dengan posting seorang teman (blog) yang saya rasa hidupnya sangat menyenangkan (bukan sempurna) tinggal di Amerika, bisa mendapat uang dari hobinya; memasak dan menulis buku, bahkan bisa travelling kemanapun dia mau tanpa beban. Rumahnya indah dengan desain cantik, memiliki keluarga yang humoris dan pintar memasak, teman2 yang asik dan banyak. Benar2 bukan tipikal orang amerika yang penyendiri, materialistis, putus hubungan dengan keluarga, dan hedonistis.
Tapi dalam postingan terakhirnya dia panjang lebar menjelaskan awan hitam yang menggelayutinya kemanapun dia berada, yang memaksanya menemui seorang psikolog. Tak peduli dengan segala pencapaiannya selama ini, dia merasa rendah diri dan kosong. Tak peduli teman2 yang siap diundang sleepover setiap saat, dia merasa kesepian. Tak peduli berapa kali ia terkagum2 pada keindangan saat travelling, ia merasa sedih dan hampa. Ia menjelaskan perasaan itu seperti feeling homesick when you’re already at home. Sounds familiar?…
Waktu saya pertama kali jauh dari rumah dan benar2 harus berjuang sendirian, hidup ini rasanya meranaaaa sekali. Duit ga pernah cukup, tagihan tiada henti, masih kudu sekolah, masih kudu kerja cari duit, dll. Saya tiba2 merasa seperti anak yatim piatu yang menjual korek api di tengah badai salju, seperti di dongeng itu. Sendirian, kesakitan, tapi harus tetap berjuang. Kalo udah kayak gitu bisa dipastikan aku rindu rumah, homesick. Bukan mami-papi-nya, bukan nasi hangatnya, bukan senang2nya. Tapi perasaan aman dan nyaman berada dalam rumah, dalam lindungan orang tua.
Tapi setelah kuliah lulus, kerjaan dapet, segala macem, kok masih sering kumat melo2nya. Yang paling membuatku sedih adalah, bahkan saat aku pulang ke rumah dimana dulu aku merasa nyaman sekalipun, aku tidak lagi menemukan ‘home’. Lalu kemana lagi saya harus mencari ketenangan itu?
Membaca postingan teman saya itu, dan berkaca pada diri sendiri yang kadang2 kalo kumat melo-nya jadi ngerasa depresi sendiri. Saya menarik kesimpulan. Perasaan hampa itu muncul pada saat kita tidak memiliki tumpuan. Ibaratnya, sekokoh-kokohnya batu bata kalo ditumpuk tanpa ada tiang penyangga dan pondasi, pasti ya bakal ambrol juga. Hollow istilahnya. Waktu masih kecil hidup masih ditanggung ortu, hidup kita paling ya buat sekolah. Makan, minum, tidur semua sudah terjamin.
Saat masa sekolah usai dan bener2 masuk dunia nyata, disini kita dituntut untuk mencari tumpuan hidup sendiri. Ada yang bertumpu pada uang, sehingga segala yang dia kerjakan adalah untuk mendapatkan uang sebanyak2nya. Ada yang bertumpu pada karir sehingga dia banting tulang untuk itu. Di kasus pelatih voli itu dia bertumpu pada pencapaiannya dalam melatih tim voli-nya, jadi begitu dia merasa tumpuanya itu gagal. Dia ambruk. Mungkin teman kantorku itu menumpukan hidupnya pada well-being ortunya. Jadi begitu ortunya sakit dan akhirnya meninggal, dia merasa hancur berantakan. Nah kalo diliat2 lagi, kebanyakan orang barat (seperti teman blog ku itu) menumpukan hidupnya pada kebahagiaan. Kebahagiaan yang diidentikkan dengan mencari kesenangan abadi dan menghindari segala sesuatu yang menyusahkan seperti keluarga yang ribet, kerjaan yang boring bahkan mungkin sekolah, pernikahan dan anak.  Pokoknya semua harus CONVENIENT alias gampang, instan, senang. Saat itulah mereka kehilangan tumpuan.
Photo_4
Karena kalo aku liat lagi, perjuangan itulah sebenarnya tumpuan yang bikin hidup lebih berarti (beuh berat). Coba bayangin, hidupnya si volley coach itu bisa dipastikan lebih enak daripada bapak2 tukang sampah yang harus bangun subuh bergulat dengan kotoran untuk uang yang ga seberapa. Tapi kenapa yang bunuh diri malah si volley coach? Bahkan mungkin si tukang sampah lebih sering merasa bersyukur dan bahagia daripada si volley coach itu. Bahagia dapet duit tambahan 10ribu, bahagia bisa beliin anaknya sepatu baru. Kebahagiaan2 kecil yang membuat perjuanganya itu worthwhile. Yang bikin dia tetep semangat untuk banting tulang lagi esok harinya.
Mungkin kalo udah mulai kumat depresi, seseorang bukannya kudu cari kesenangan (sesaat) seperti dugem, party atau shopping2, tapi malah kudu nyari tujuan/target baru untuk diperjuangkan. Karena emang bener kan, orang ga akan bisa merasakan manis kalo ga pernah ngerasain pahit. Bahkan orang yang sehari2 makan gula sekalipun.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s