Kutu Loncat

Sungguh ya kepindahan ke WordPress ini mendongkrak produktivitas sekali, produktivitas ngeblog, bukan kerja :D. Entahlah karena pengaruh fitur yang lebih yahud, atau tampilan yang cihuy, atau provider yang beken (meh?) tapi perasaan segala sesuatu jadi pengen di posting aja gitu. Padahal sapa yang baca juga ga mesti ada :p.

Anyway, saya cuma mau cerita ga jelas aja, ga ada makna atau moral atau pertanyaan yang mesti dijawab dari postingan ini. Cuma agak ngganjel aja, jadi mesti dikeluarin daripada jadi bisul.

Ini tentang seorang rekan kerja yang baru aku kenal 2 tahun belakang ini. Kenapa 2 tahun dibilang baru? karena total sudah hampir 5 tahun saya mengabdi di kantor ini meskipun sempat ada jeda. 2 tahun yang lalu dia baru ketrima PNS di sini meskipun sebelumnya sempet kerja di beberapa tempat. Jadi memang usianya ga semuda anak2 freshgrad yang baru masuk.

Kinerjanya? Bagus menurutku. Dengan adanya sistem seleksi baru dan reformasi birokrasi perasaan sekarang pegawai2 yang sekarang emang bagus2 dan cukup idealis. Apalagi orang yang pernah kerja di swasta, pasti kerjanya lebih tangkas daripada yang ga pernah samsek. Ditambah si rekan kerja ini pernah kerja di perusahaan2 internasional jadinya kemampuan dan kecakapannya punya nilai lebih yang berguna buat unitku. Anaknya ga pernah keliatan males2an, ga pernah keliatan ga sibuk, selalu siap membantu, riang dan tukang ngebanyol. Seorang cowok sanguine pendeknya. Sahabat ibu2 dan remaja putri lah.

Lah kok, moro2 tiba2 terdengar kabar bahwa dia akan mengundurkan diri. Bukan dari unitku, tapi dari PNS Kemenkeu altogether!

Memang sih aku masih suka terkagum2 kalo ada anak PNS baru yang ex swasta, yang gawul abesh, yang kayaknya bukan potongan PNS gitu lah. Bukanya PNS potongannya harus seragam, tapi you know lah berkutat dengan birokrasi itu kan bukan sesuatu yang mudah. Dan butuh orang yang memiliki jiwa besar untuk nyemplung didalamnya. Nah kalo yang udah biasa kerja di swasta, yang ga terbiasa terikat, yang gak suka prosedur bertele2, yang suka kerjaan kreatif dan fun kayaknya emang butuh penyesuaian ekstra di sini. Dan jangan salah, dengan iming2 insentif besar dan prestis di Kemenkeu banyak anak2 potongan non PNS itu yang ndaftar dan ketrima disini. Dan banyak juga yang berhasil beradaptasi, sukses karirnya dan sukur2 mengubah pola pikir orang2 di sekitarnya.

Nah si rekan kerjaku ini menurutku adalah salah satu yang berhasil. Masih banyak orang2 yang suka mengeluh dengan kerjaan, dengan birokrasi dll. Dan dia tidak termasuk di dalamnya, dan bisa dikatakan sampe hari terakhir dia di kantor pun dedikasinya ga berkurang dan tetep rajin kayak orang yang senang dengan pekerjaannya. Makanya aku cukup kaget dia memutuskan untuk keluar. Katanya sih dia ditawarin untuk kerja di tempat kerjanya yang dulu, tapi aku masih gak habis pikir posisi sekeren apa sih yang bisa bikin dia (atau siapapun) mempertimbangkan untuk hengkang dari posisi PNS yang udah pasti masa depannya, udah pasti gajinya, udah pasti pensiunnya. Gaji segede apa yang bisa bikin dia melupakan perjuangan dia dan berjuta orang lainnya untuk masuk ke sini. Kerjaan seyahud apa yang bisa bikin dia meninggalkan pengabdiannya sebagai abdi negara yang baru juga dimulai.

Kalo masalah gaji, kenapa juga dulu ngelamar jadi PNS. Kalo masalah karir kan dia juga belum bisa menilai kesuksesan karirnya kalo masih kerja seumur jagung. Kalo masalah jiwa yang ga sejalan kok selama ini oke2 aja. Kalo emang jiwanya kutu loncat….lha itu yang gak bisa ditanggulangi. Dia akan selalu haus akan tantangan baru, tawaran baru dan gak akan pernah memiliki hati yang mapan pada satu kerjaan.

***

Nah lucunya, keluar dari kemenkeu itu katanya sama sulitnya dengan proses masuknya. Berbelit2 dan lama dan kadang mesti bayar ganti rugi juga (terutama anak2 lulusan STAN yang sekolahnya dibayarin, orang2 yang dikirim sekolah ke luar negeri dan training2). Tapiiiii ternyata itu tidak menghalangi langkah si rekan kerjaku ini, bahkan dia cuma kasih 4 months notice sebelum akhirnya hengkang dan mulai kerja di kantor baru. Gimana caranya? ternyata selama nunggu permintaan pengunduran dirinya keluar dia tidak masuk kerja dengan status cuti tidak digaji. Nah yang menurutku ‘licik’ adalah, suatu saat dia ngerasa nggak sreg dengan kerjaan barunya dan surat pengunduran diri masih belum di-approve, dia masih bisa kembali kerja lagi disini. Bahkan kembali ke posisi lamanya tanpa diganggu gugat, seperti tidak ada yang terjadi. Etis gak sih kayak gitu? Loncat-loncat kerjaan di swasta sih urusanmu, memang gitulah adat dan aturannya. Tapi ini institusi negara, dan ikatan dinasnya ikatan sepanjang masa dengan sumpah segala. Kok bisa2nya ya nganggep enteng gini. Well…..kecuali memang ada urgensi yang tidak bisa ditahan misalnya wasiat orang tua, tuntutan ekonomi yang bisa diatasi dengan gaji dari kerjaan baru, atau permintaan calon mertua kalo mau mengawini anaknya……bisa aja kan? Sementara ini, supaya aku ga mati penasaran dan supaya image rekan kerjaku yang baik ini tidak rusak di mataku, aku akan menganggap dia keluar karena sebuah tuntutan moral. Atau mungkin dia mau dipindah kerjakan di luar negeri……in that case I wouldn’t think twice :D.

Advertisements

Pajamas Party

Ah…..kenapa ya saya cinta sekali dengan konsep Pyjamas Party bahkan sampe udah beranak-pinak begini. Mungkin memang kumpul para cewek itu selalu seru dan refreshing jadi nagih gitu. Kayak butuh dosis reguler minimal dua bulan sekali mesti Girls Night In. Tapi untuk membuat the perfect Pyjamas Party harus ada komposisi yang pas yaitu; unsupervised place alias tempat yang private just for the girls, kudu ada si sanguine yang menghidupkan suasana, setiap cewek mesti kenal dan akrab satu sama lain alias satu geng lah, dan kalo mau lebih sempurna lagi ya disiapkan agenda perlengkapannya *niat bener.

Kalo misalnya bisa bikin Girls Night (lagi) asiknya….
1. Nonton filem romantis ga jelas yang cuma seru ditonton rame2 cewek2, misalnya filem2 chick-flick indonesia semacam Kata Hati, Recto Verso atau filem2 korea cheese yang romantis abesh….aah aku bisa bayangkan celetukan2 kocaknya, analisa2 mendalam yang sangat psikologis, dan tak lupa uuuh dan aaaah saat adegan romantis.
2. Curhat cowok…..maaak!! ini the ultimate, gong dan klimaksnya inih. Atau malah inilah tujuan Girls Night. Curhat cowok. Mulai dari ngomongin cowok di sekolah, di kantor, mantan, pacar, suami, kecengan, sampe tetangga, seleb, dll pokoknya dikupas habis lengkap dengan cerita2 dibalik layar dan bumbu gosip2nya.
3. Ngelenong. Hyah! dari dulu kalo udah di bagian ini aku pasti jadi korban keganasan pinset, kuas dan sepon2 make-up itu. Dipoles habis2an karena emang ga pernah pake make-up. Tapi kalo sekarang aku jadi pengen ikutan bahas produk2 lenongan ini dengan teman2 yang lebih ahli. Bahkan coba2 merias korban malam itu hehe.
4. Masak. Ya ini cuma berlaku untuk yang super niat dan emang ada dapur sih ya. Secara malem2 kan pasti laper, jadi saatnya mempraktekkan resep2 yang selama ini cuma di-share2 doang di jejaring sosial. Pasti akan terjadi gontok2an sih terutama kalo udah debat masalah ukuran dan bahan. Tapi kalo udah jadi pasti seru sekali mengomentari hasil masakan nya
5. Makan. Nah ini bisa jadi agenda utama ya, dari awal sampe akhir ga mungkin ga nyemil dan makan. Dan girls night adalah saatnya melupakan diet jadi biar gak kasian sama yang udah bawa coklat, es krim dan cookies2 yummy. Kalo ada yang diet tapi mau berbagi tips2 snack sehat sih monggo aja, tapi pizza dan chips jalan terus :D.
6. Fashion make over. Yah mumpung pada ngumpul marilah berbagi info dan tips masalah dunia cewek termasuk dunia fashion seperti tas keluaran terbaru, sale sepatu terkini, dress2 yang lucu nan murah, kalo mau going ekstreme sekalian make-over dan mix-matching dengan koleksi baju masing2.

Topik2 obrolan yang seru untuk dibahas antara lain; ambisi masa depan, kesehatan, cerita horor (males kalo gw), bacaan terbaru, berita teranyar, gosip artes, kelakuan miring teman2 sendiri, dll dll dll…..gak ada habisnya kalo ngobrol bareng temen sejiwa.

Oh how I miss you girls…..How I miss those (carefree) days….

Trophy Wife, Accessory Baby

Perasaan ya, daku seringnya dengar curhatan problematika cinta itu berkisar antara; sudah cukup umur belum ada jodoh, sudah ada pasangan tapi beda keyakinan, sudah pacaran gak dapet restu, dan kegamangan cinta lain yang intinya susahnya mendapatkan pendamping hidup yang pas karena masalah2 prinsip. Dan menurutku itu wajar, karena pada usia ini kita sudah mulai mapan secara finansial dan psikologis sehingga kita ingin membangun ikatan yang lebih kuat untuk masa depan *beraaatttsss.

Nah yang bikin melongo adalaaaaahhhhhhhhh……..cerita si swami tentang bosnya yang berusia hampir 40 tahun, masih melajang dan saat ditanya kenapa belum juga nikah jawabannya ini: Saya bingung milih antara 4 cewek. Nomor satu cantik tapi beda agama, yang satu cantik tapi beda usia 12 tahun, satunya seagama tapi kurang cantik, satunya cantik tapi lebih tua. HYAH! Ini pria dewasa kepala tiga ya…….bukan anak SMA cari kencan buat Prom Night! Sebuah problematika yang dulu terdengar wajar namun jadi absurd setelah kita menginjak usia dewasa. Emang sih menginjak usia matang orang jadi lebih selektif dan pemilih urusan pasangan, tapi bukan dari FISIK yang nggak prinsipil gitu!! Karena asumsiku usia segitu orang cari pasangan yang bisa mendampingi, mengayomi, berjuang bersama dan lain sebagainya gitu deh. Pemenuhan kebutuhan mental dan psikologis intinya.

Tapi lalu mataku seperti dibukakan. Bukankah itu yang terjadi di kalangan konglomerat dan selebritis? Kalo duit udah berlimpah, jabatan sudah berderet, rumah selusin, mobil sekodi, dan pokoknya kebutuhan jiwa-raga seperti sudah terpenuhi (dengan materi) maka apalagi yang mereka cari? Pasangan yang bisa dibanggakan dan disandingkan dengan materi yang berlimpah itu tadi. Pasangan yang bisa diajak menikmati itu semua, dipamerkan di pesta2 mewah, diajak ke tempat liburan keren, didandani dengan emas berlian dan senantiasa menghibur hati yang kesepian. Pada akhirnya pasangan menjadi lambang gengsi dan status saja. Yang penting cantik, ga perlu bisa masa/ngurus anak/ngurus rumah/ngurus duit itu semua bisa bayar orang untuk ngurusin. Karena kebanyakan yang menjadi kebanggaan itu adalah istri2 dan wanita cantik nan molek, maka terciptalah istilah Trophy Wife. Istri yang dipamer2kan dan dijadikan lambang kesuksesan. Tapi karena sekarang sudah banyak wanita sukses yang butuh pasangan yang bisa dibanggakan juga, maka seharusnya ada juga istrilah Trophy Man or Boy…or brondong *sneer

Okelah orientasi itu tidak sepenuhnya salah. Masa pengusaha sukses bergelimang harta, istrinya kucel pake daster kemana2. Ya pastinya dengan adanya harta juga bisa mempercantik si istri supaya lebih presentable dan pantas di kalangan mereka. Tapi apakah cuma sampai segitu? Apakah harta dan pasangan cantik bisa memberi kedamaian jiwa raga? Apakah orang kaya tidak butuh teman sharing, berbagi suka duka, bertukar pendapat, sosok yang mengayomi/mendamaikan disaat pulang ke rumah? Nah mungkin untuk bos-bos tajir itu, kebutuhan ini mulai disadari pada saat usia menginjak senja/puber kedua. Disaat fisik sudah ga sebugar dulu, harta sudah tidak lagi memberi kebahagiaan, pengennya cuma ayem tentrem menikmati hidup. Nah kalo istrinya ternyata tidak berada di tahap yang sama, alias masih pecicilan shopping keliling dunia misalnya. Maka terjadilah yang namanya pencarian istri tahap kedua, yang memicu terjadinya perselingkuhan. Iya nggak?

Mungkin ‘pencarian’ tahap kedua ini tidak disengaja atau disadari, tapi tiba2 saja ngerasa sreg dan klop dengan si A yang nota bene bukan istrinya. Memang sih si A nggak cantik, nggak seksi, nggak supel dan glamor, tapi dia memberikan kedamaian. Nah lhoh kalo udah gitu gimana? Ya bisa ditebaklah gimana endingnya.

Nah pertanyaan saya, orientasi pernikahan yang ‘melenceng’ kayak gini sebenarnya berdampak negatif gak sih? Ya namanya juga melenceng kan pasti hasilnya nggak sesuai dengan tujuan awal sebuah pernikahan. Ya sudahlah kalo kehancuran rumah tangga, perselingkuhan, harta gono-gini itu konsekuensi mereka. Mereka yang berbuat, mereka yang menanggung. Dan sepertinya di jaman edan kayak gini perceraian itu sudah sama lazimnya dengan pernikahan. kalo aku sih cuma kepikiran anaknya. Mungkin hasil dari pernikahan status kayak gitu ya anak2 cakep tajir yang ga jelas hidupnya itu. Keluarga berantakan, kurang kasih sayang tapi duit dan warisan berlimpah.

Yang lebih pedih lagi adalah, aku sering melihat fenomena Trphy Wife ini disertai dengan Accessory Baby, alias bayi hiasan. Kalo udah nikah dengan orang kayak berasa tercoreng namanya kalo belum bisa punya anak. Dan melihat trend ibu2 yang ‘pamer’ bayi di mall dan even2 hits dengan dandanan desainer terkenal dan asesoris bayi sekelas Beyonce, kayaknya belum hits kalo belum punya bayi yang bisa dipamerin kayak gitu. Iya ga? jadilah bikin anak dan hamil hanya semata mengikuti trend. Masalah pendidikan, kasih sayang, parenting, mendampingi dan membimbing anak semua bisa di outsource kan pada institusi mahal yang berkelas.

Kalo ada LSM yang mengurusi anak2 jalanan yang kurang makan dan pendidikan. Kayaknya mesti ada LSM yang ngurusi anak2 tajir yang berkeliaran di mall2 dan klub2 malam ga jelas itu deh biar ga narkobaan dan lebih genah sekolahnya

Anak Ilang

Huaaah! Aku tak sabar dengan proses perpindahan blog dari Posterous ke WordPress ini. Padahal kemaren dari WP ke PS gampang banget…..*lha terus kemaren ngapain pindah2 sih? sekarang balik WP lagi. Anu saya di-banned jadi mesti bikin baru lagi. Meskipun aku secretly lega bisa pindah (lagi) ke WP karena blog ini jauh lebih profesional, banyak yang pake (jadi gampang kalo mau follow) dan aku sudah terbiasa dengan fitur2nya (yang gampang di costumize). The only downside for WordPress adalah kuota-nya. Namapun web gratis yang udah tersohor jadi load nya terbatas, kalo mau unggah media/image kudu selektif banget. Pokoknya kudu sebisa mungkin hyperlink dari web lain deh.

Idealnya sih eike posting setelah semua post dari http://oritje.posterous.com sudah rapi terunggah disini. Tapi saya ada urgensi, saya gak tahan pengen mengeluarkan uneg2 inih!..Uneg2nya tentang sesuatu di tempat kerja sih, tapi nggak work-related tapi bisa mengganggu hal-hal yang work-related jadinya *halah mbulet ayo cepat critanya

Marilah saya beri gambaran kondisi kantor saya saat ini. Saya bekerja di salah satu unit kerja kecil di sebuah unit kerja besar yang menempati 2 lantai. Hampir semua staff dan kegiatan utama berlangsung di lantai 17, yang berada di lantai saya di 18 biasanya hanya konsultan dan beberapa orang yang diperbantukan di unit kecil saya.  Jadi bisa dibayangkan suasana di lantai saya yang hanya berpenghuni 10 orang ini dibandingnya dengan kondisi di lantai 17 yang dipenuhi 20-30 orang dalam cubicle2 kecil….sumpek. Sedangkan kantor saya? lengang dan lapang. Meskipun orang sering bilang ‘sepi’ but I like it.

Nah hari ini, kantor saya nan nyaman dan sejuk ini diramaikan dengan suara anak esde yang berlarian dan berlalu-lalang. Cekikikan, merengek2, mendorong2 meja, bernyanyi keras2, intinya mengganggu sekali.  Yang lebih mengganggu dan bikin geregetan adalah……anak itu nggak ada ortunya! Alias dia di kantorku sendirian, tanpa penamping, tanpa ada orang yang mengawasi. Otomatis ya kita2 ini yang jadi babysitter kan…….uhm kayaknya itu GA ADA DI JOBDESC DEH!

Anak siapa sih itu? Sebenernya dia itu adalah anak -sebut saja- Mbak Haryani seorang staf di unit kami. Dia sebenarnya adalah salah satu tetua di unit kecil kami, umurnya sih sekita2 juga tapi dia percilnya udah ada 3 dan si anak esde ini adalah yang paling gede! Bisa dibayangkan gimana repotnya ngurus 3 anak dibawah 7 tahun, sementara ibunya masih kerja, bapaknya juga (bahkan jabatannya lebih tinggi di kantor kami), rumahnya jauh di Jakarta coret dan mereka ga punya pembantu/baby sitter/sanak sodara yang bantuin di rumah mereka. Emang sih 2 dari anaknya udah sekolah dan yang paling kecil di Tempat Penitipan Anak, tapi kalo ada apa2 misalnya pas anaknya sakit dan harus dijemput, atau sekolahnya pulang sebelum waktu, dll kan anaknya ga mungkin dipulangin ke rumah. Jadilah dibawa ke kantor dan dibiarkan berkeliaran ga jelas gitu.

nah masalahnya……sekarang Mbak Haryani ini udah dpindahtugaskan ke Lantai 17, alias udah gak di ruangan kami lagi. Tapi kenapa anaknya masih dititipin disini siiiiiihhhhhh?!  Ya alasananya jelas, karena lantai 17 penuh orang dan banyak bos2 jadi ga memungkinkan untuk bawa anak. Ya tapi kan bukan berarti di lantai 18 orangnya nganggur ga ada kerjaan. Mana anak2nya ini udah terbiasa banget sama orang2 kantor jadinya agak susah diatur dan gak ada sungkan2nya. Merengek2 minta nonton video padahal ada orang yang kerja di komputer, orang lagi ngomongin kerjaan dia teriak2 minta perhatian juga, dokumen dicorat-coret, bahkan office boy yang lagi bebersih pun ga boleh nyapu karena harus nemenin dia maen. Ini kantor apa teka seeeehhhhh??? Emang sih punya anak banyak itu pilihan, istri kerja itu pilihan, gak punya pembantu itu juga pilihan, tapi yang namanya pilihan itu konsekuensinya ya mestinya ditanggung sendiri, bukan ngerepotin orang lain begini!

Aku bukanya tidak bisa bersimpati, aku sendiri ibu bekerja, aku sendiri pernah bawa anak ke kantor, bahkan dulu pas masih kecil sering dibawa mami ke kantor, tapi itu semua ada aturan dan tata kramanya supaya jangan sampe kehidupan pribadi kita mengganggu kerjaan dan teman kerja. Aku inget kalo terpaksa kudu nunggu mami di kantornya sepulang sekolah, sementara mami harus ngajar aku nggak berani tuh jalan2 keluar dari meja kerja mami padahal waktu itu gak ada cubicle/ruangan terpisah. Dan jangankan minta diajak maen, ngobrol sama om-tante temen kerjanya mami pun aku malu2. Padahal mereka sudah kukenal sejak lama sekali. Tapi bukan berarti aku mati bosan nungguin mami, aku bisa baca2 buku/majalah, nulis2, gambar2, makan jajan yang udah dibawain, maen rumah2an dibawah meja atau kalo ngantuk ya tidur.

Nah seharusnya anak-anak ini kan bisa dikondisikan seperti itu. Anak2 diajari untuk tenang dan sopan di tempat kerja, dibawain buku dan mainan, dikasih tau wilayah yang boleh dijadikan tempat main dan larangan untuk tidak mengganggu dll. Karena ini di wilayah kerja, ya anak2 itulah yang harus mengikuti kondisi disini, bukan sebaliknya. Kalopun harus ada yang repot dan nggak nyaman dalam kondisi ini ya harusnya emaknya/anaknya bukan rekan2 kerja disini.

Naudzubillah jangan sampai aku harus berada dalam kondisi seperti itu. Kalo memang harus terpaksa banget aku bawa anak ke kantor, Alhamdulillah aku punya ruang bersekat terpisah, jadi wilayah maen anakku udah jelas ga boleh keluar dari ruangan ini. Kalo perlu aku bawain satu boks mainan, buku, makanan dan hape buat nonton video2. Tidak lupa kasur dan bantal buat tidur. Nah anak2 bengal ini….nggak tau kondisi banget, lepas sepatu dan tas sembarangan di lantai, bergelimpangan gambar2 di tengah koridor, bener2 kayak di rumah sendiri aja. Ga bayangin deh gimana kalo di rumah ckkckcck…..