Trophy Wife, Accessory Baby

Perasaan ya, daku seringnya dengar curhatan problematika cinta itu berkisar antara; sudah cukup umur belum ada jodoh, sudah ada pasangan tapi beda keyakinan, sudah pacaran gak dapet restu, dan kegamangan cinta lain yang intinya susahnya mendapatkan pendamping hidup yang pas karena masalah2 prinsip. Dan menurutku itu wajar, karena pada usia ini kita sudah mulai mapan secara finansial dan psikologis sehingga kita ingin membangun ikatan yang lebih kuat untuk masa depan *beraaatttsss.

Nah yang bikin melongo adalaaaaahhhhhhhhh……..cerita si swami tentang bosnya yang berusia hampir 40 tahun, masih melajang dan saat ditanya kenapa belum juga nikah jawabannya ini: Saya bingung milih antara 4 cewek. Nomor satu cantik tapi beda agama, yang satu cantik tapi beda usia 12 tahun, satunya seagama tapi kurang cantik, satunya cantik tapi lebih tua. HYAH! Ini pria dewasa kepala tiga ya…….bukan anak SMA cari kencan buat Prom Night! Sebuah problematika yang dulu terdengar wajar namun jadi absurd setelah kita menginjak usia dewasa. Emang sih menginjak usia matang orang jadi lebih selektif dan pemilih urusan pasangan, tapi bukan dari FISIK yang nggak prinsipil gitu!! Karena asumsiku usia segitu orang cari pasangan yang bisa mendampingi, mengayomi, berjuang bersama dan lain sebagainya gitu deh. Pemenuhan kebutuhan mental dan psikologis intinya.

Tapi lalu mataku seperti dibukakan. Bukankah itu yang terjadi di kalangan konglomerat dan selebritis? Kalo duit udah berlimpah, jabatan sudah berderet, rumah selusin, mobil sekodi, dan pokoknya kebutuhan jiwa-raga seperti sudah terpenuhi (dengan materi) maka apalagi yang mereka cari? Pasangan yang bisa dibanggakan dan disandingkan dengan materi yang berlimpah itu tadi. Pasangan yang bisa diajak menikmati itu semua, dipamerkan di pesta2 mewah, diajak ke tempat liburan keren, didandani dengan emas berlian dan senantiasa menghibur hati yang kesepian. Pada akhirnya pasangan menjadi lambang gengsi dan status saja. Yang penting cantik, ga perlu bisa masa/ngurus anak/ngurus rumah/ngurus duit itu semua bisa bayar orang untuk ngurusin. Karena kebanyakan yang menjadi kebanggaan itu adalah istri2 dan wanita cantik nan molek, maka terciptalah istilah Trophy Wife. Istri yang dipamer2kan dan dijadikan lambang kesuksesan. Tapi karena sekarang sudah banyak wanita sukses yang butuh pasangan yang bisa dibanggakan juga, maka seharusnya ada juga istrilah Trophy Man or Boy…or brondong *sneer

Okelah orientasi itu tidak sepenuhnya salah. Masa pengusaha sukses bergelimang harta, istrinya kucel pake daster kemana2. Ya pastinya dengan adanya harta juga bisa mempercantik si istri supaya lebih presentable dan pantas di kalangan mereka. Tapi apakah cuma sampai segitu? Apakah harta dan pasangan cantik bisa memberi kedamaian jiwa raga? Apakah orang kaya tidak butuh teman sharing, berbagi suka duka, bertukar pendapat, sosok yang mengayomi/mendamaikan disaat pulang ke rumah? Nah mungkin untuk bos-bos tajir itu, kebutuhan ini mulai disadari pada saat usia menginjak senja/puber kedua. Disaat fisik sudah ga sebugar dulu, harta sudah tidak lagi memberi kebahagiaan, pengennya cuma ayem tentrem menikmati hidup. Nah kalo istrinya ternyata tidak berada di tahap yang sama, alias masih pecicilan shopping keliling dunia misalnya. Maka terjadilah yang namanya pencarian istri tahap kedua, yang memicu terjadinya perselingkuhan. Iya nggak?

Mungkin ‘pencarian’ tahap kedua ini tidak disengaja atau disadari, tapi tiba2 saja ngerasa sreg dan klop dengan si A yang nota bene bukan istrinya. Memang sih si A nggak cantik, nggak seksi, nggak supel dan glamor, tapi dia memberikan kedamaian. Nah lhoh kalo udah gitu gimana? Ya bisa ditebaklah gimana endingnya.

Nah pertanyaan saya, orientasi pernikahan yang ‘melenceng’ kayak gini sebenarnya berdampak negatif gak sih? Ya namanya juga melenceng kan pasti hasilnya nggak sesuai dengan tujuan awal sebuah pernikahan. Ya sudahlah kalo kehancuran rumah tangga, perselingkuhan, harta gono-gini itu konsekuensi mereka. Mereka yang berbuat, mereka yang menanggung. Dan sepertinya di jaman edan kayak gini perceraian itu sudah sama lazimnya dengan pernikahan. kalo aku sih cuma kepikiran anaknya. Mungkin hasil dari pernikahan status kayak gitu ya anak2 cakep tajir yang ga jelas hidupnya itu. Keluarga berantakan, kurang kasih sayang tapi duit dan warisan berlimpah.

Yang lebih pedih lagi adalah, aku sering melihat fenomena Trphy Wife ini disertai dengan Accessory Baby, alias bayi hiasan. Kalo udah nikah dengan orang kayak berasa tercoreng namanya kalo belum bisa punya anak. Dan melihat trend ibu2 yang ‘pamer’ bayi di mall dan even2 hits dengan dandanan desainer terkenal dan asesoris bayi sekelas Beyonce, kayaknya belum hits kalo belum punya bayi yang bisa dipamerin kayak gitu. Iya ga? jadilah bikin anak dan hamil hanya semata mengikuti trend. Masalah pendidikan, kasih sayang, parenting, mendampingi dan membimbing anak semua bisa di outsource kan pada institusi mahal yang berkelas.

Kalo ada LSM yang mengurusi anak2 jalanan yang kurang makan dan pendidikan. Kayaknya mesti ada LSM yang ngurusi anak2 tajir yang berkeliaran di mall2 dan klub2 malam ga jelas itu deh biar ga narkobaan dan lebih genah sekolahnya

Advertisements

4 thoughts on “Trophy Wife, Accessory Baby

  1. Soalnya sekarang juga banyak omongan “Eh suaminya tajir (tapi jelek) kok istrinya cantik ya. Pasti yg perempuan tu cuma liat duitnya” atau “Itu bos ganteng tajir tapi kok istrinya mblendhes gitu sih, emang gak bisa cari yang cantik apa?/ mbok ya istrinya dimodalin ke salon sama ke butik branded biar kliatan kinclong” –> judgement membuat orang jadi serba salah ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s