Kolega Lokal vs Interlokal

Kayaknya eke penyakit comparaholic deh, sukanya banding2in. mana yang dibandingin bukan diri sendiri tapi orang laen hehe. Tapi tanpa bermaksud menjelek2kan atau memuja2 salah satu dan lainnya ya, cuma aku baru sadar beberapa perbedaan antara kerja sama orang2 lokal alias Indonesia dan orang2 internasional – ga melulu bule sih tapi orang2 yang biasa kerja di dunia internasional dan kerja bareng orang2 berbagai negara.

YANG AKU SUKA

kerja sama orang2 indonesia itu pake sopan santun dan jaga perasaan orang. menghargai yg lebih tua dan menghormati agama dan tradisi. menjunjung tinggi kerapian banget (yg bikin aku jiper karena ga bisa nulis indah)

dari kerja bareng orang internasional itu menghargai kesetaraan banget, mau kamu kecil mau kamu muda kalo kamu mampu kamu harus tunjukkan. mau kamu OB ngobrol sama direktur, sekretaris duduk di depan bos, semua halal. semua praktis. dan itu berlaku untuk kinerja juga. proses kerja dibuat se-praktis dan se-efektif mungkin.

YANG GAK AKU SUKA

kerja bareng orang indonesia itu, kebanyakan sungkan sehingga kadang menghambat kinerja. mengutamakan prasangka buruk diatas segalanya, sumpah deh I hope I was wrong. kemana2 harus gruduk2 kalo ga ada temennya ga jalan, plis deh kapan majunya?

kerja bareng bule2 kadang serampangan dan gak sopan, ga enak aja liat anak muda nyuruh2 yg tua, etc. materialistis dan gak mempertimbangkan aspek sosial ato spiritual, kalo ga menguntungkan  secara material ya ga oke. terlalu mengagungkan basa inggris dan menggap semua orang harus bisa dan harus ngikuti adab  mereka.  kadang mereka ngerasa superior juga, karena ngerasa dari negara maju. bahkan orang2 indonesia yg kerja buat organisasi internasional pun kadang terkesan begitu. gak asik ah

-**-

Lagi2 tidak semua stereotype ini berlaku untuk setiap orang, tapi orang2 dalam kedua kelompok diatas memang benar2 ada dan sikap seperti itu sangat bisa dimengerti mengingat latar belakang budaya masing2.

Berada di dua dunia seperti ini, kadang ga enak karena harus selalu beradaptasi, tahan diri dan kudu toleransi tingkat tinggi. tapi enaknya, selain ga monoton juga aku bisa ngeliat kedua dunia itu saling menghormati dan akhirnya bisa bekerjasama dengan harmonis. yang lokal jadi terbiasa kerja dengan sigap dan to-the-point, yang bubule jadi belajar unggah-ungguh dan cara berkomunikasi yang lebih luwes dengan orang indonesia.

karena suwer deh di era globalisasi ini kita tidak lagi mengedepankan keseragaman tapi lebih pada menghormati perbedaan. kalo ga bisa toleransi ya terdepak dari arena. gak peduli seberapa pinter dan canggihnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s