Mengasah Intuisi

Bedeuuuhhh blognya Ki Joko sapa nih membahas intuisi dan kebatinan segala….hahaha

Biarin, aku kan mau berbagi. Karena intusisi yang kuat itu bisa bermanfaat untuk menghindari mara bahaya, untuk senantiasa waspada dan siap siaga, tapi juga bisa bikin hati tenang dan lebih ikhlas menerima situasi.

Pada intinya aku percaya intuisi/firasat itu adalah cara alam semesta (Tuhan) bekomunikasi dengan kita. Bukankah kita selalu berhadap mendapat ‘petunjuk’ dariNya…jadi bukalah mata dan telinga untuk mencari petunjuk itu. Janganlah berharap petunjuknya terlihat jelas seperti bulan yang terbelah atau malah tertulis dalam selembar Nota Dinas (helah PNS).

Jadi gimana caranya supaya kita bisa lebih melek terhadap pertanda dan gimana caranya supaya intuisi kita bisa lebih akurat.

MENGENALI

Kalo pengalamanku sih intuisi atau petunjuk itu biasanya muncul secara tiba2, ga jelas dari mana dan kena di hati banget (apose).  Kadang bisa berupa perasaan yang mengganjal yang ga jelas penyebabnya (bukan perasaan mangkel karena habis diomeli bos/gembira habis dikasih kado). Perasaan ini beda dengan mood, karena kalo mood bisa juga dipengaruhi kondisi fisik dan mental (lagi capek/lagi PMS). Dan biasanya bad mood itu mudah dialihkan, tapi kalo ‘feeling’ ini suka muncul2 terus. Kayak misalnya lagi males kuliah yang sampe berat banget mau berangkat, ternyata bener aja kuliahnya batal. Beda kalo lagi ga mood, biasanya dipaksa berangkat sih bisa-bisa aja.

Mimpipun kayaknya ga semua bisa diartikan deh. Kalo kita lagi mikir kerjaan kadang muncul juga mimpi tentang kerjaan. Tapi mimpi yang meaningful biasanya mimpi yang nampak nyata dan mengaduk2 emosi. Yang bikin bangun tidur rasanya deg2an atau malah pingin nangis. Selain mimpi kadang ‘petunjuk’ juga bisa muncul dari perkataan orang yang ujug2, bacaan di buku/berita/horoskop (!) yang tiba2 menohok jantung atau bahkan lirik lagu yang tiba2 muncul di kepala. Sounds familiar?….

MENGARTIKAN

Kalo aku mau mengartikan perasaan ‘ga jelas’ itu , aku akan membayangkan kira2 apa sebabnya. Kayak dulu waktu masih SD kadang tiba2 ngerasa gembiraa banget. Kenapa ini ya? Perasaan gak ada apa2an. Apa mungkin serial tiviku bakal diputer, atau ada yang mau kirim makanan, atau mungkin papi mau dateng dari luar kota? Kayaknya yang terakhir deh, dan bener aja sorenya Papi pulang lebih awal.

Kalo mimpi aku jujur aja masih percaya dengan simbol2 yang dikatakan orang; ular itu musuh, terbang itu kebebasan, kematian itu sebuah akhir dll. Lucunya sejak aku sering baca2 web arti mimpi, mimpiku jadi sering kedatengan tokoh2 yang disebutkan di web itu. Misalnya mimpi burung merak sehari sebelum pengumuman beasiswa. Ternyata artinya harapan yang akan dikecewakan :(.

MEMPERCAYAI

Meskipun belum tentu kebenarannya, tapi aku berusaha untuk sebisa mungkin mempercayai intusisiku. Waktu diajak jalan sama anak2 yang secara teori bakal seru, tapi kok perasaan galau ya. Kalo perasaannya mengganggu banget sampe bikin gelisah, coba bayangkan seandainya ga jadi ikut. Kira2 perasaan jadi lebih enteng ga? Kalo iya, mendingan dituruti aja gak usah ikutan jalan. Tapi kalo cuma galau biasa dan kalo dibatalin bakal feeling worse ya udah jalanin aja. Mungkin kegelisahan itu cuma disebabkan hal-hal yang ga serius. Lucunya orang2 yang kenal aku udah biasa tuh kalo aku membatalkan sesuatu dengan alasan ‘perasaan ga enak’, mereka tau itu bukan alasan dibuat2 dan sama sekali nggak personal.

Tapi mempercayai bukan berarti harus bertindak juga sih. Misalnya tiba2 kepikiran seseorang dari masa lalu, bisa juga seseorang itu sedang kepikiran kita juga. Tapi ya mau diapain lagi, kalo masih punya kontaknya mungkin ga ada salahnya ‘say hi’ sapa tau dia lagi butuh bantuan. Tapi kalo ga ya pantengin aja Facebooknya hahaha….*ketauan deh

MENCIPTAKAN

Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu kan menyiksa banget yak (ngomong ke jomblo :p). Jadi bisa nggak sih petunjuk/ intusisi itu diciptakan/dicari/diundang? Ya secara teori sih ga tau ya. Tapi kalo aku bener2 pengen tau suatu kejadian bakal oke/enggak aku akan membayangkannya. Misalnya aku ngelamar kerja di Kemenlu, bisa nggak membayangkan suatu saat melenggang di jalan Pejambon dan kerja di gedung itu? Kok kayaknya nggak pas ya. Ya berarti belum saatnya. Atau kalo emang mau nyoba, ya jangan berharap terlalu besar.

Selain itu kalo aku lagi butuh ‘jawaban’ atas kekhawatiran dan masalahku, aku jadi lebih sensitif terhadap ucapan orang. Lagi galau sama sekolah anak, tiba2 kok ada temen kantor maen ke ruangan cerita anaknya yang semangat sekolah di sekolah alam…hem…inikah jawabannya? Yang pasti sih kudu ‘minta’ petunjuk itu lewat doa atau solat. Paling enggak pikiran jadi lebih clear dan tenang. Tapi kadang suka maksa juga sih, Ya Tuhan kalo memang saya kudu beli sepatu baru tolong tunjukkan dengan saldo rekening yang bertambah, hehehe jadi kalo ga ada duit ya ga jadi beli deh.

Buat aku, memiliki intuisi yang bisa dipercaya itu ada enaknya; bisa memprediksi suatu perisitiwa  jadi bisa mengatur ekspektasi dan gak bakal terlalu kecewa dengan hasilnya. Bisa mengukur kecocokan dengan orang baru, jadi gak perlu terlalu basa basi kalo emang ga bakal cocok juga. Gak enaknya, pada saat harus melakukan sesuatu yang penting, tapi perasaan kok ga enak. Kalo udah gitu rasanya pengen berharap ‘perasaan’ kita ga bener. Tapi Sering kali bener sih….mau gimana lagi

Rakyat ‘Hanya’ Bisa Berdoa

Seorang presiden pilihan rakyat dilantik hari ini. Seorang yang benar-benar dari rakyat. Ada rasa syukur karena suara kami akhirnya didengar, ada harap akan datangnya perubahan dan perbaikan, namun banyak pula cemas karena ganasnya badai dalam pemerintahan Indonesia. Maka saya sebagai rakyat kali ini baru bisa berdoa untuk presiden kami yang baru.

Semoga beliau senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan lahir dan batin dalam menjalankan tugasnya
Semoga beliau senantiasa mendapat dukungan dari orang-orang berkualitas dan berhati mulia
Semoga beliau bisa melepaskan Indonesia dari jeratan kuasa negara-negara raksasa
Semoga beliau bijak dalam menyepakati kerjasama luar negeri
Semoga Indonesia bisa kembali mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan energi

Semoga rakyat kecil mendapatkan tempat dalam perkembangan perekonomian kita
Semoga petani kembali diberdayakan
Semoga kita mampu melindungi kekayaan tanah air kita dari tangan-tangan serakah
Semoga orang-orang pilihanmu mampu membangun sistem pendidikan yang lebih mumpuni, mengembangkan mental dan dapat diakses setiap orang
Semoga dari teladanmu tumbuh pejabat-pejabat dan manusia-manusia indonesia yang lebih bermoral dan berbudi luhur
Semoga beliau senantiasa dalam lindunganNya, karena selama beliau memperjuangkan nasib rakyat beliau adalah pejuang kami

Doa dan dukungan kami bersamanya…..Amin

Kakek-Nenek itu (selalu) sepsial

Beruntunglah mereka yang masih bisa merasakan kasih sayang kakek-nenek. Menurutku kedua orang ini adalah orang-orang yang istimewa. Sebuah sosok idola, pengayom, penyayang, pahlawan, sosok yang menentramkan lah. Grandparents itu nggak ada celanya. Karena semua yang nggak enak2 udah diambil sama orang tua haha….Bagian marahin, menghukum, mengatur, dll.

Seorang temanku pernah bilang, seandainya aku masih punya kakek-nenek aku pasti sudah jadi orang yang berbeda (less bitter, more loving)

Buatku, kakek nenek yang aku panggil Bumami dan Yangkung itu dua orang yang selalu bikin aku meleleh. Aku menghabiskan hampir setengah hidupku tinggal dengan mereka. Jadi mereka bukan cuma ortunya ortu yang aku temui setahun sekali. Mereka adalah orangtuaku juga. Terutama karena kedua ortuku kerja jadi sehari-hari aku lebih sering ketemu mereka (meskipun yg ngasuh pembantu juga).

Aku ingat setiap pagi kakek bikin sarapan roti bakar yang diletakkan rapi di atas piring cucu2nya (di atas meja makan selalu diatur piring2 untuk setiap anggota keluarga). Meskipun lama-lama bosen juga dan terpaksa dibuat bekal ke sekolah. Nenek yang selalu masak di dapur keringnya yang selalu bermandikan matahari. Perkedel kentang dan sayur bening di dalam wadah hijau aku masih inget sampai sekarang. Setiap malam mereka duduk di depan televisi, kakek di kursi tinggi dan nenek di sofa di sebelahnya. Jaman dulu sih nonton apapun di TVRI, kemudian beralih ke sinetron dan acara kuis.

Sadar nggak sadar merekalah role modelku untuk sebuah kehidupan yang ideal. Karena kenyataannya saat bersama mereka aku merasa nyaman dan damai banget sampai akhir hayat mereka. Setiap aku ngerasa down, aku membayangkan berada di rumah mereka yang terang dan melihat sosok mereka yang besar dan fuzzy berjalan lambat kesana kemari. Menyiram bunga, membaca koran, menyapu dan berolahraga. Phew I miss them…

Alhamdulillah Mozi sempat merasakan kasih sayang itu. Dia mengalami hal-hal yang tidak pernah aku alami bersama orang tuaku. Dimasakin nasi goreng setiap pagi untuk sarapan sama kakeknya. Dibakarin roti untuk bekal sekolah. Diantar dan dijemput dari sekolah. Dibuatkan mainan, dibacakan cerita dan ditemani sampai tidur malam. Setiap neneknya datang dibawakan buku cerita, diajak main kartu, ditemenin seharian di rumah (alias ga usah sekolah) bahkan kadang ditemenin seharian di sekolah (sambil yangti bawa koreksian).

Kadang ada rasa iri liat mozi. Iri karena dulu orang tuaku mana sempet melakukan itu semua buat aku. Iri karena aku ga punya kakek-nenek yang akan melakukan itu untukkku lagi. Tapi aku senang. Aku senang suatu saat nanti Mozi bisa cerita pengalaman manisnya dengan kakek-neneknya

(don’t) Be Yourself !

Inget ga sih jaman dulu, baca tips di majalah udah kayak baca kitab. Nemu kolom horoskop dianalisa bareng2. Dapet kata-kata mutiara keren langsung di salin di buku harian……ato itu cuma gw aja hahahahah….

Anyway

Makin kesini kayaknya diri ini makin skeptis sama yang begitu2an. Bukan karena bitter atau sinis ngadepin hidup, tapi sepetinya mulai sadar kalo omongan orang itu ga bisa ditelan bulat2 gitu aja. Mau itu kata koran, kata majalah, kata ahli, kata pujangga, bahkan kata dokter sekalipun.

Banyak sih pepatah2 jadul yang kayaknya paten banget, tapi setelah dipikir kok silly ya. Ato minimal nggak relevan aja sama aku. Salah satunya adalah motto ‘Be Yourself’ . 90s banget gak sih motto ini. Senantiasa muncul di buku kenangan, diari biodata, dan stiker2 yang dijual depan SD. (ato ini di SD gw doang??)

Makna dari Be Yourself itu mungkin jadilah diri sendiri. Percaya dengan kemampuan sendiri. Jangan berusaha jadi orang lain. dll dst. In real life itu bisa diartikan; pake baju sesuai selera, bicara sesuai kata hati, jujur sama diri sendiri dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan diri kita.

Bisa dikatakan ini adalah salah satu motto yang kupegang teguh sejak dulu. Karena  aku diajarkan untuk menghargai diri sendiri. Jadi aku stil yakin aja aku akan berhasil dalam hidup hanya dengan yang aku punya.

Yang sederhana misalnya. Jaman sekolah aku males bercantik2, gak suka pake pelembab, males pake kondisioner rambut, pake baju kedodoran kemana2 dengan keyakinan bahwa inilah saya apa adanya. Kalo kamu suka dengan kepribadianku, kamu pasti ngga akan peduli dengan penampilanku.

Tapi bagaimana orang bisa mengenal kepribadian kalo mukanya dipasang jutek mulu, duduk di pojokan sendirian tidak menarik hati. Terus dalam hati sirik aja liat cewek2 yang banyak teman, rambutnya bagus2, bajunya trendy2 dan disukai para cowok. Padhal jadi menarik kan ga harus berubah jadi orang lain. Iya ngga?

Di bidang akademis pun aku seperti itu. Aku nggak suka pelajaran2 menghafal dan ilmu pasti, karena jiwaku menyukai kebebasan berpikir dan berkreasi. Aku bahkan nggak berusaha untuk mempelajari Fisika dan Mat yang menurutku ga masuk di akal.

Untuk bidang-bidang yang aku sukai pun aku nggak mau berusaha lebih keras. Misalnya bahasa asing, atau menulis. Aku lebih suka pake insting dan mempelajari sendiri dari lingkungan daripada belajar dari orang lain/buku/apalagi kursus. Kalo ternyata hasil karjaku di kritik orang, aku suka ga terima. Aku merasa seperti dilecehkan. Karena hasil kerjaku inilah kepribadianku, kalo situ ga suka ya terserah. Dan aku pun tidak berusaha memperbaikinya. Kacrut kan!

Lebih kacrut lagi kelakuan seperti itu masih aku bawa sampe sekarang di kerjaan. Meskipun sudah ‘dikasih’ kerja di bidang yang aku minati, di posisi yang cukup menyenangkan. Tapi kelakuannya masih SMA banget. Aku suka nulis laporan dan surat2 tapi sukanya pake gayaku sendiri, mulai dari gaya bahasa sampe font dan layout. Kalo ada yang mengoreksi, aku bisa gedeg banget dan nyaris ngambek (nyaris karena ngambekpun ga ada yang peduli :p). Anak kecil dalam hatiku seperti berteriak “Ya inilah aku! kalo mau mempekerjakan aku ya terima aja kerjaan gw. itu juga udah sepenuh hati bikinnya”

Masih sukur alhamdulillah lho ada yang mau nerima aku kerja. Masih ada yang mau nerima kerjaanku yang kayak begini. Tapi sekarang aku sendiri yang galau. Karena perasaan kerja udah bertaun2 gini tapi keahlian kok segitu2 aja dan gak berkembang. Hasil kerja kayaknya masih standar freshgrad aja nih gak maju2. And I only have myself to blame….

Coba kalo aku mau terima kritik orang dan memperbaiki diri. Coba kalo aku mau mendalami ilmu2 yang selama ini males aku pelajari hanya karena ga sesuai minatku. Mungkin sekarang aku sudah punya keahlian baru dan mungkin sekarang kemampuanku sudah jauh berkembang. Sudah pantas disebut senior.

Sepertinya meskipun taun baru masih lama (mumpung masih lama) aku harus memulai resolusi baru deh. Resolusi untuk terus belajar dan tidak mudah puas dengan diri sendiri. Resolusi untuk tidak membatasi kemampuan dan terus memperbaiki diri. Dalam segala hal; dalam kerjaan, kuliah, bahkan pergaulan dan kecantikan sekalipun.

Belajar untuk memahami politik senjata meskipun bertentangan dengan pemahamanku. Belajar untuk mengikuti aturan tata naskah dinas meskipun aku lebih suka gaya bebas. Belajar tutorial hijab gaul meskipun buatku itu terlalu mainstream. Bahkan mungkin dalam waktu dekat akan belajar untuk duduk manis di kelas kursus untuk mendalami bahasa asing secara serius.

Yakin aja lah kalo pengetahuan apapun itu pasti bermanfaat. Mendingan serba bisa daripada serba nggak bisa hanya karena ngotot sama pendirian. Pokoknya selama nggak menyalahi norma dan keyakinan. Anggap saja ini adalah salah satu bentuk dari rasa syukur saya. Bersyukur sudah dikasih kesempatan untuk belajar, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Wish me luck!

images?q=tbn:ANd9GcSenxZwjdctQGRezp8Jtaqc-6Dne4H5WlMgK5JKlQEkufmSl6Zw_ADr. Seuss nggak punya budhe2 yang cerewet

Ngapain Pacaran Jarak Jauh

LDR hanya berhasil bila memang kita udah sreg sama pasangan dan tinggal nunggu nikah.

LDR bisa juga cuma buat status “Punya Pacar di HongKong” “Punya Gebetan di Sukabumi” dst.

LDR gak usah ribet bikin aturan harus sms tiap 3 menit dan nelpon tiap 6 jam. yang ada malah ganggu hubungan, ganggu pikiran dan ganggu aktivitas.

LDR itu asik kalo kita klop banget sama pasangan. Jadi ga perlu dijadwal pun berasa pengen nelpon aja kalo lagi pengen cerita, tentang filem terbaru, tetang kelakuan teman dll.

LDR mendingan ga usah kalo niatnya cuma buat jalan bareng dan sayang2an. Cari aja yang deketan (kalo ada yang mau)

LDR bukan berarti harus tau setiap detail kegiatan pasangan. Yang penting membina hubungan. Mending dia ilang sejam abis itu cerita semuanya, daripada dia nelpon terus tapi ceritanya males2an dan kitanya uring2an.

LDR itu bener2 ujian kecocokan. Karena ga ada lagi yang bisa dilakukan berdua kecuali ngobrol. Kalo ga cocok sih ga bakal tahan.

LDR itu jangan membatasi. Gak usahlah pasang larangan dan aturan yang mengekang. Karena harus diakui bahwa you two are living separate life. Kalo ini ga boleh, itu ga boleh lha, sedangkan pacar juga jauh, terus ngapain dong? Yang ada malah bohong dan sembunyi2

LDR itu harus jujur sama perasaan. Karena kan ga bisa ketemu tiap hari jadi ya bilang aja apa yang sedang dirasakan. Begitu juga saat pasangan mengungkapkan perasaan harus siap dengerin. Ini salah satu cara untuk saling mengenal kan