(don’t) Be Yourself !

Inget ga sih jaman dulu, baca tips di majalah udah kayak baca kitab. Nemu kolom horoskop dianalisa bareng2. Dapet kata-kata mutiara keren langsung di salin di buku harian……ato itu cuma gw aja hahahahah….

Anyway

Makin kesini kayaknya diri ini makin skeptis sama yang begitu2an. Bukan karena bitter atau sinis ngadepin hidup, tapi sepetinya mulai sadar kalo omongan orang itu ga bisa ditelan bulat2 gitu aja. Mau itu kata koran, kata majalah, kata ahli, kata pujangga, bahkan kata dokter sekalipun.

Banyak sih pepatah2 jadul yang kayaknya paten banget, tapi setelah dipikir kok silly ya. Ato minimal nggak relevan aja sama aku. Salah satunya adalah motto ‘Be Yourself’ . 90s banget gak sih motto ini. Senantiasa muncul di buku kenangan, diari biodata, dan stiker2 yang dijual depan SD. (ato ini di SD gw doang??)

Makna dari Be Yourself itu mungkin jadilah diri sendiri. Percaya dengan kemampuan sendiri. Jangan berusaha jadi orang lain. dll dst. In real life itu bisa diartikan; pake baju sesuai selera, bicara sesuai kata hati, jujur sama diri sendiri dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan diri kita.

Bisa dikatakan ini adalah salah satu motto yang kupegang teguh sejak dulu. Karena  aku diajarkan untuk menghargai diri sendiri. Jadi aku stil yakin aja aku akan berhasil dalam hidup hanya dengan yang aku punya.

Yang sederhana misalnya. Jaman sekolah aku males bercantik2, gak suka pake pelembab, males pake kondisioner rambut, pake baju kedodoran kemana2 dengan keyakinan bahwa inilah saya apa adanya. Kalo kamu suka dengan kepribadianku, kamu pasti ngga akan peduli dengan penampilanku.

Tapi bagaimana orang bisa mengenal kepribadian kalo mukanya dipasang jutek mulu, duduk di pojokan sendirian tidak menarik hati. Terus dalam hati sirik aja liat cewek2 yang banyak teman, rambutnya bagus2, bajunya trendy2 dan disukai para cowok. Padhal jadi menarik kan ga harus berubah jadi orang lain. Iya ngga?

Di bidang akademis pun aku seperti itu. Aku nggak suka pelajaran2 menghafal dan ilmu pasti, karena jiwaku menyukai kebebasan berpikir dan berkreasi. Aku bahkan nggak berusaha untuk mempelajari Fisika dan Mat yang menurutku ga masuk di akal.

Untuk bidang-bidang yang aku sukai pun aku nggak mau berusaha lebih keras. Misalnya bahasa asing, atau menulis. Aku lebih suka pake insting dan mempelajari sendiri dari lingkungan daripada belajar dari orang lain/buku/apalagi kursus. Kalo ternyata hasil karjaku di kritik orang, aku suka ga terima. Aku merasa seperti dilecehkan. Karena hasil kerjaku inilah kepribadianku, kalo situ ga suka ya terserah. Dan aku pun tidak berusaha memperbaikinya. Kacrut kan!

Lebih kacrut lagi kelakuan seperti itu masih aku bawa sampe sekarang di kerjaan. Meskipun sudah ‘dikasih’ kerja di bidang yang aku minati, di posisi yang cukup menyenangkan. Tapi kelakuannya masih SMA banget. Aku suka nulis laporan dan surat2 tapi sukanya pake gayaku sendiri, mulai dari gaya bahasa sampe font dan layout. Kalo ada yang mengoreksi, aku bisa gedeg banget dan nyaris ngambek (nyaris karena ngambekpun ga ada yang peduli :p). Anak kecil dalam hatiku seperti berteriak “Ya inilah aku! kalo mau mempekerjakan aku ya terima aja kerjaan gw. itu juga udah sepenuh hati bikinnya”

Masih sukur alhamdulillah lho ada yang mau nerima aku kerja. Masih ada yang mau nerima kerjaanku yang kayak begini. Tapi sekarang aku sendiri yang galau. Karena perasaan kerja udah bertaun2 gini tapi keahlian kok segitu2 aja dan gak berkembang. Hasil kerja kayaknya masih standar freshgrad aja nih gak maju2. And I only have myself to blame….

Coba kalo aku mau terima kritik orang dan memperbaiki diri. Coba kalo aku mau mendalami ilmu2 yang selama ini males aku pelajari hanya karena ga sesuai minatku. Mungkin sekarang aku sudah punya keahlian baru dan mungkin sekarang kemampuanku sudah jauh berkembang. Sudah pantas disebut senior.

Sepertinya meskipun taun baru masih lama (mumpung masih lama) aku harus memulai resolusi baru deh. Resolusi untuk terus belajar dan tidak mudah puas dengan diri sendiri. Resolusi untuk tidak membatasi kemampuan dan terus memperbaiki diri. Dalam segala hal; dalam kerjaan, kuliah, bahkan pergaulan dan kecantikan sekalipun.

Belajar untuk memahami politik senjata meskipun bertentangan dengan pemahamanku. Belajar untuk mengikuti aturan tata naskah dinas meskipun aku lebih suka gaya bebas. Belajar tutorial hijab gaul meskipun buatku itu terlalu mainstream. Bahkan mungkin dalam waktu dekat akan belajar untuk duduk manis di kelas kursus untuk mendalami bahasa asing secara serius.

Yakin aja lah kalo pengetahuan apapun itu pasti bermanfaat. Mendingan serba bisa daripada serba nggak bisa hanya karena ngotot sama pendirian. Pokoknya selama nggak menyalahi norma dan keyakinan. Anggap saja ini adalah salah satu bentuk dari rasa syukur saya. Bersyukur sudah dikasih kesempatan untuk belajar, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Wish me luck!

images?q=tbn:ANd9GcSenxZwjdctQGRezp8Jtaqc-6Dne4H5WlMgK5JKlQEkufmSl6Zw_ADr. Seuss nggak punya budhe2 yang cerewet

Advertisements

2 thoughts on “(don’t) Be Yourself !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s