Kakek-Nenek itu (selalu) sepsial

Beruntunglah mereka yang masih bisa merasakan kasih sayang kakek-nenek. Menurutku kedua orang ini adalah orang-orang yang istimewa. Sebuah sosok idola, pengayom, penyayang, pahlawan, sosok yang menentramkan lah. Grandparents itu nggak ada celanya. Karena semua yang nggak enak2 udah diambil sama orang tua haha….Bagian marahin, menghukum, mengatur, dll.

Seorang temanku pernah bilang, seandainya aku masih punya kakek-nenek aku pasti sudah jadi orang yang berbeda (less bitter, more loving)

Buatku, kakek nenek yang aku panggil Bumami dan Yangkung itu dua orang yang selalu bikin aku meleleh. Aku menghabiskan hampir setengah hidupku tinggal dengan mereka. Jadi mereka bukan cuma ortunya ortu yang aku temui setahun sekali. Mereka adalah orangtuaku juga. Terutama karena kedua ortuku kerja jadi sehari-hari aku lebih sering ketemu mereka (meskipun yg ngasuh pembantu juga).

Aku ingat setiap pagi kakek bikin sarapan roti bakar yang diletakkan rapi di atas piring cucu2nya (di atas meja makan selalu diatur piring2 untuk setiap anggota keluarga). Meskipun lama-lama bosen juga dan terpaksa dibuat bekal ke sekolah. Nenek yang selalu masak di dapur keringnya yang selalu bermandikan matahari. Perkedel kentang dan sayur bening di dalam wadah hijau aku masih inget sampai sekarang. Setiap malam mereka duduk di depan televisi, kakek di kursi tinggi dan nenek di sofa di sebelahnya. Jaman dulu sih nonton apapun di TVRI, kemudian beralih ke sinetron dan acara kuis.

Sadar nggak sadar merekalah role modelku untuk sebuah kehidupan yang ideal. Karena kenyataannya saat bersama mereka aku merasa nyaman dan damai banget sampai akhir hayat mereka. Setiap aku ngerasa down, aku membayangkan berada di rumah mereka yang terang dan melihat sosok mereka yang besar dan fuzzy berjalan lambat kesana kemari. Menyiram bunga, membaca koran, menyapu dan berolahraga. Phew I miss them…

Alhamdulillah Mozi sempat merasakan kasih sayang itu. Dia mengalami hal-hal yang tidak pernah aku alami bersama orang tuaku. Dimasakin nasi goreng setiap pagi untuk sarapan sama kakeknya. Dibakarin roti untuk bekal sekolah. Diantar dan dijemput dari sekolah. Dibuatkan mainan, dibacakan cerita dan ditemani sampai tidur malam. Setiap neneknya datang dibawakan buku cerita, diajak main kartu, ditemenin seharian di rumah (alias ga usah sekolah) bahkan kadang ditemenin seharian di sekolah (sambil yangti bawa koreksian).

Kadang ada rasa iri liat mozi. Iri karena dulu orang tuaku mana sempet melakukan itu semua buat aku. Iri karena aku ga punya kakek-nenek yang akan melakukan itu untukkku lagi. Tapi aku senang. Aku senang suatu saat nanti Mozi bisa cerita pengalaman manisnya dengan kakek-neneknya

Advertisements

One thought on “Kakek-Nenek itu (selalu) sepsial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s