Bergaul dengan Generasi Y

Sejujurnya aku gak tau aku ini masih generasi apa. Tapi kayaknya kalo dilihat kahirnya tahun 1980 aku nggak keberatan dikategorikan sebagai generasi X yang dibesarkan dengan budaya tahun 90an. Paling tidak generasi saya ini masih merasakan jaman orba dan jaman reformasi yang menggelora. Sempet ngerasain hidup stabil, hidup sengsara dan hidup serba gak pasti dalam dunia digital seperti sekarang ini.

Setelah bekerja hampir 1 dekade, aku harus terima bahwa aku bukan lagi generasi termuda di tempat kerja, atau dalam dunia pergaulan secara umum. Meskipun aku masih enggan menggolongkan diriku pada kelompok ibu2 dan bapak2 paruh baya. Jadi aku harus bergaul dengan generasi Y yang sangat berbeda dengan generasiku. Mereka ini dibesarkan dalam era liberalisme, jadi orientasinya sangat kapitalis. Budayanya dinamis dan terus berubah. Begitu juga dengan gaya hidup dan pemikiran mereka. Bisa dikatakan anti kemapanan.

Tapi aku menemukan keseruan bergaul dengan mereka. Karena pikiran mereka yang terbuka, sangat advance (dibandingkan aku pada usia mereka) dan kadang2 gila. Meskipun sering kali aku berperan sebagai kakak yang dimintai masukan, tapi sering kali kami adalah teman sebaya yang mengalami ketidak pastian yang sama. Ketidak pastian ekonomi, pekerjaan dan kehidupan in general.

Mungkin fokus grup ku tidak mewakiliki generasi Y pada umumnya, karena mereka yang aku temui ini adalah anak kelahiran 90an yang sudah bekerja di usia 20an di kantor pemerintahan. Jadi mereka tidak lagi bergantung pada ortu, nggak sibuk cari kerjaan dan menyusun masa depan apalagi mikir kuliah. Tapi mereka tetaplah anak twenty something yang masih suka gaul sana sini, nyobain segala sesuatu yang baru dan fokus pada pertemanan (daripada rumah tangga atau berkeluarga.

Perlu navigasi yang baik untuk bisa mempertahankan hubungan baik dengan mereka tanpa tergelincir menjadi golongan sok muda atau malah golongan sesepuh yang momong.

Mereka itu itungan banget. Yes itungan perduitan. Well jaman kere dulu kita semua pasti perhitungan banget sama duit, tapi kalo mereka beda. Mereka tetep gaul, tetep kerja, tetep konsumtif tapi semua diukur dengan uang. Kerja yang menguntungkan adalah kerja yang duitnya gede. Gaul yang menguntungkan adalah gaul yang murah dsb. Get the picture? Jadi kalo mau gaul dengan mereka kita harus paham pemikiran ini. Jadi gak mungkin ngajakin mereka ke konser2 mahal meskipun kesempatannya langka banget dan artisnya legendaris banget. Tapi jangan pula inisiatif ngebayarin mereka juga. Karena dari awal mereka sudah merasa ini gak worth it. Kalo kita maksain bayarin kita bakal dicap cukong selamanya. Resikonya ya mungkin mereka minta dibayarin terus atau mereka gak akan ajak kita ke tempat2 gaul yang murah.

Mereka itu gaul banget. Dibandingkan temen2ku yang bentukannya sama kayak mereka, mereka ini jauh lebih advance. Dalam bidang teknologi, berita, pergaulan, tren, dll. Jadi kalo mau ngobrol nyambung ya harus paham berita2 terkini. Kalo kita kebanyakan nanya atau bengong bakal ga asik dong ngobrolnya. Tapi kebanyakan tau atau malah cerita jaman kita dulu bisa2 dianggap tua banget.

Mereka itu kritis. To the core. Perlu diingat bahwa mereka tidak seperti generasiku yang kadang masih dididik dengan otoriter. Mereka itu dididik oleh generasi yang sudah lepas dari tuntutan budaya dan tradisi. Mereka masih kenal dengan budaya dan tata krama, tapi jangan harap mereka akan menaatinya tanpa pertanyaan dan penjelasan. Agak tricky untuk menangani bagian ini. Di sisi lain aku ingin memberi mereka pengetian dan wawasan yang aku punya, tapi di sisi lain mereka gak akan mau dengerin penjelasan yang normatif dan (again) otoriter. Jadi ya aku menghadapinya seperti aku menghadapi balita generasi Z ku….dengan mendengarkan sudut pandang pemikiran mereka. Kadang sikap yang kadang terlihat pemberontak dan abai itu ternyata hanya manifestasi dari pemikiran yang berbeda dengan kita. Dari situ mungkin kita perlu memberi pandangan lain dari sisi kita / pembuat kebijakan dan biarkan mereka berpikir. Memberi sanksi, konsekuensi atau penjelasan ‘pokoknya begini’ niscaya gak akan ngaruh ke mereka.

Mereka itu kreatif dan banyak ide. Well mereka hidup di era informasi yang sangat deras. Jadi ya jelas saja kalo mereka punya pemikiran2 yang kadang tidak biasa dan out of the box. Di beberapa kasus mungkin ide2 itu bisa diterima, tapi di kasus yang lain mungkin tidak. Tapi satu hal yang jangan dilakukan adalah membendung apalagi mematikan ide2 mereka. Kalaupun kita belum bisa menerima ya bilang aja, mereka terbuka kok. Itu juga salah satu kelebihan mereka

Mereka sangat terbuka, dalam hal perkataan dan pemikiran. Jadi jangan kaget kalo mereka membicarakan temannya yang gay atau hamil di luar nikah dengan santai seakan itu hal yang biasa. Karena memang begitulah adanya. Mereka dibesarkan di era dimana pernikahan sesama jenis dilegalkan, dimana kebebasan beragama dan tidak beragama dibahas dengan lantang, dimana warga minoritas bisa menjadi pemimpin bangsa. Jadi ya tebelin aja kuping untuk mendengar pembicaaan mereka tanpa memberikan ekspresi dismisive apalagi hina. Tebelin juga kuping kalo mereka dengan terbuka dalam mengkritik atau menentang kita, karena sejauh ini aku tidak melihat ada kebiasaan merkea untuk rasan2 atau bicara di belakang punggung. Kalo mereka nggak suka sama sesuatu mereka pasti bilang. Dan buatku itu adalah budaya yang harus dilestarikan daripada manis2 di depan busuk di belakang.

Mereka itu tangguh. Jangan kira karena mereka dibesarkan di era yang serba mudah terus mereka jadi lembek dan manja. Setiap generasi punya cara untuk bertahan hidup pada masanya. Kalo kita dulu mungkin dengan prihatin dan bekerja keras, kalo mereka adalah dengan kreatifitas. Kalo kita dulu bisa bertahan dengan penghasilan pas2an dengan ngirit dan hidup seadanya, kalo mereka? bikin website, terima iklan dan dapet duit tambahan tanpa beranjak dari kursinya. Ajaib kan? Selain itu mereka juga adaptif, cepat sekali mempelahari lingkungan baru dan beradaptasi dengannya. Jadi mau ganti pemerintahan berapa kali pun kayaknya mereka tetap tidak tergoncang deh.

Tapi pada intinya mereka itu masih jiwa muda yang perlu banyak diasah dan diarahkan. Jadi kalo kita kebetulan bisa bergaul dengan mereka dan masuk dalam kehidupan mereka, alangkah baiknya kalo kita memberikan pengaruh yang baik. Jangan malah kita yang terseret jadi kayak mereka hehe

About the being three-oh

Sepertinya perlu tamparan dari alam semesta untuk memberiku kesadaran dan pengakuan bahwa aku sudah berusia kepala 3……

Akui sajalah wanita umur tigapuluhan yang ada digambaranku itu adalah ibu2 anggun nan bijaksana dengan profesi yang mantap dan segala pencapaiannya. Lihat saja Scarlet Johansson, Megan Fox dan Jessica Alba. Atau Julia Roberts di Pretty Woman. And I’m in no way near that. Iya sih contohku bule semua, tapi yakin deh dulu Ida Iasha jadi model Lux tahun 90 itu waktu dia umur 30 or less. Dan itulah patokanku untuk usia 30.

Jadi sampai sekarang aku masih merasa gak lebih tua dari 25. Bahkan aku ga inget persis aku umur 30 berapa (tinggal diitung sih). Tapiii tubuhku sudah mulai menampakkan tanda2nya. Tanda2 yang harus dideteksi dan ditreatment sejak dini….misalnya

Guratan. Yes garis tipis itu sudah nampak sodara2. Terutama di bagian wajah yang sering mengerut seperti ujung bibir, ujung mata dan dahi, Jangan salah, aku bukan tipe orang yang anti ker*put (masih tabu menyebutnya untuk diri sendiri) buatku itu adalah memento untuk setiap peristiwa dalam hidup kita. Tapi itu pantes kalo udah usia 50an gitu….dimana kedewasaan kita memang sudah menggambarkan kebijaksanaan. Jadi yang aku lakukan untuk mengurangi atau menghambat timbulnya guratan2 baru adalah hindari mengernyit atau cemberut, pake pelembab yang age defense, banyak minum air dan buah untuk menjaga kekencangan kulit.

Penurunan. Gravitasi adalah musuh wanita (pria juga?) semua yang dulu kencang membahana perlahan luluh pada gravitasi dan menurun. Hal ini berlaku pada pipi gembilku, kulit leher, lengan bawah dan pantat. Mungkin nanti menyusul bagian dada dll. Tapi sejauh ini aku melihat ada sedikit perbedaan pada bagian2 tadi. Aku yakin ada pengaruh dari gaya hidupku juga, misalnya masih suka moles krim wajah ke arah bawah (begitu juga cuci muka dan lap muka), kurang olahraga dan latian pengencangan otot. Tapi semua belum terlambat laah….langkah awalnya ya mengubah kebiasaan2 buruk itu tadi. Sama sering massage di bagian2 yang bermasalah, seperti selulit dan stretchmark yg membandel (sukur2 dikasih scrub2 alami)

Metabolisme melambat. Bahkan aku pun mengalaminya. Perut tiba2 membuncit, kadang konstipasi kalo kurang buah dll. Jadi selamat tinggal jalur makan bebas hambatan, dan mulai jaga makan. Banyakin sayur, buah dan air putih. Kurangi daging2an, karbo dan gula. Hindari sama sekali jerohan2, santan dan micin. Karena surga2 dunia yang dulu cuma kerasa nikmatnya itu, sekarang mulai menampakkan taringnya. Pengelihatan berkurang, rambut rontok, sakit tulang adalah efek dari asupan gula dan micin yang berlebihan.

Stamina menurun. Entah ini pengaruh usia apa kurang olahraga apa karena udah punya anak. Tapi aku dulu kuat2 aja tuh naik-turun tangga 5 lantai, begadang seminggu penuh (bukan kerja, tapi nonton filem aja sampe jam 1 malem) atau jalan2 seharian dilanjut besoknya ke luar kota nonstop langsung kerja. Sekarang matur suwun tengkyu, saya bakal ngos2an, pegel linu dan gangguan badan yang lain kalo dipaksain. Yang ada malah habis duit buat beli obat, ke dokter dan pijet di SPA (oh kalo itu emang doyan aja)

Intinya rutin olahraga, kurangi kebiasaan buruk, banyak istirahat, jaga makan dan mulai perawatan untuk masa depan yang lebih menjanjikan.

20141011_125618