I’m a Turtle

Dari dulu saya mengira saya ini tipe orang yang setia, settle-down dan lurus2 aja. Ternyata tidak. Paling tidak pada sektor perumahan dan pekerjaan ternyata saya tipe petualang. Bukan karena bosenan, tapi karena saya berusaha untuk fleksibel dan mengikuti kemanapun angin membawa nasib saya.

Kalo pekerjaan Alhamdulillah baru 2-3 kali aja ganti2. Tapi tetep saya ga terikat kontrak mati dengan institusi manapun. Yang mencengangkan adalah rekor pindah rumah saya. Sejak keluar dari rumah ortu selepas SMA, saya resmi nggak pernah menetap di satu rumah lebih dari 2 tahun. Playgirl abis lah. Padahal saya orangnya selalu trimo sama kondisi rumah apapun, tapi sering kali keadaan yang mengharuskan saya jadi nomaden. Dan saya menikmatinya.

Selepas SMA saya ‘dibuang’ ke negeri kumpeni. Disana saya ditampung di asrama mahasiswa untuk anak baru. Otomatis disana pun sifatnya hanya sementara. Hanya satu tahun saya merasakan hidup satu gedung dengan teman2 kuliah, memasak di dapur umum dan kebisingan party setiap malam. Tahun kedua saya pindah ke rumah di tepi sungai kecil bersama 4 teman lainnya.

Di rumah sungai ini pun kami hanya bertahan satu tahun karena satu persatu teman geng kami harus magang di Indonesia. Tinggallah aku dan 2 teman lain di rumah yang lebih kecil di pusat kota Amsterdam 10 menit dari stasiun Central yang jadi jantung kehidupan metropolitan itu. Tapi sayangnya petualangan kami di rumah di tepi kanal itu hanya bertahan 6 bulan saja. Karena setelah aku tinggal magang, pemilik rumah memutuskan untuk mengakhiri kontrak.

Sementara itu petualangan saya berlanjut ke bagian dunia yang lain. Menyewa sebuah kamar di rumah susun di kawasan bisnis kota Bangkok. Kepanasan sendiri, kelaperan sendiri, bengong2 sendiri selama 6 bulan. sempat nebeng apartemen temen yang lebih moderen dan lega tapi hanya 2 minggu sebelum hengkang dari negeri gajah.

Setelah itu saya kembali melanjutkan kuliah dengan menumpang di rumah tingkat milik seorang Indonesia 10 menit dari taman hijau terbesar di pusat kota. Kalo diitung2 lumayan lama juga aku di rumah tua yang tidak memiliki pemanas itu, sekitar satu tahun lebih sedikit sampai aku lulus kuliah dan pulang kampung.

Nggak sampe setahun leha-leha jadi pengangguran di rumah ortu. Nasib membawa sama ke Bandung. Disana rencana untuk nebeng sementara di rumah Nenek jadi molor satu tahun sampai saya empet sama kerjaan dan cabut. Untuk hijrah mencari nafkah di ibukota. Dua tahun pertama saya ngekos di rumah seorang chinese di kawasan senen. Satu tahun berikutnya saya pindah ke kosan yang lebih gede bareng suami.

Menjelang lahiran saya sempat resign dan pulang kampung menghabiskan a good 2 years di rumah ortu lagi. Rencana untuk tinggal lebih lama pun buyar saat saya harus balik kerja lagi. Kali ini membawa si kecil, bertiga kami pindah ke apartemen dekat kantor saya. Nggak terasa kami betah di kamar studio mungil itu sekitar 2 tahunan. Sampai akhirnya si kecil sudah membesar dan membutuhkan rumah yang lebih besar. jadi kami pindah ke kontrakan yang sekarang ini dan sudah berjalan hampir 2 tahun.

Bagaimanakah petualangan Orit selanjutnya? Apakah orit akan bertahan di rumah ini lebih dari 2 tahun, atau akhirnya akan menempati rumahnya sendiri di Bogor? Atau a whole new adventure altogether?

Ya itulah gaes, saya sendiri masih galau. Kali ini harus konsisten dan ga boleh pindah2 rumah lagi minimal sampai 6 tahun kedepan karena si kecilnya sudah mau SD…..emak menggalo….

Advertisements

Tormented

Mungkin aku lahir di masa yang salah. Mungkin aku lahir di benua yang salah. Mungkin aku lahir di lingkungan yang salah. Atau mungkin aku lahir di waktu dan tempat yang tepat karena Dia ingin aku menjadi kuat?

Tidak ada yang tahu.

Tapi yang aku rasakan saat ini adalah kesakitan dan kesedihan yang luar biasa. Luar biasa karena ini bukan perasaan yang bisa dijelaskan, ditenangkan, dicari penyebabnya dan dicari solusinya. Bukan. Ini perasaan menyesakkan di dada yang mengaduk2 dalam perut karena satu dan banyak hal yang muncul menghantuiku

Aku, kita semua, hidup di dunia yang bebas. Terbuka. Tapi sesungguhnya masih sama saja penuh politik, adu domba dan keebencian. Kebusukan yang dulu mungkin tabu dibicarakan, kini bebas di umbar di berbagai media, dibumbui sana sini, disulut kesana kemari dan dimanfaatkan untuk kepentingan2 terselubung. Setan memanfaatkan kebebasan bersuara ini untuk mendapatkan keinginannya. Perpecahan.

Tapi, mengesampingkan pemahanan itu, tidak bisa dipungkiri bahwa aku sakit. Aku tersakiti. Karena keyakinan yang aku junjung tinggi tanpa paksaan dan tanpa merugikan orang lain, dihujat, dipermalukan, dihina, diinjak2 dan dijadikan bulan2an. Dijadikan lelucon, Dijadikan bahan untuk membakar amarah dan menimbulkan kekacauan. Oleh media, oleh orang2 yang tidak mengenal kami, oleh orang2 kami, oleh orang2 terdekatku. Semua ikut bersuara agar tidak dicap sebagai teroris. Ini seperti melihat orang tuaku dihujat dan dipermalukan di hadapanku. Satu hal yang aku puja, aku pegang teguh aku jadikan penenang jiwa, diperolok oleh orang lain. Miris….

Aku bersyukur aku diberi pengetahuan olehNya. Pengetahuan agama, sejarah dan politik. Agama menunjukkanku bagaimana menyikapi hal ini dengan bijak. Sejarah menunjukkanku bahwa hal seperti ini sudah sering kali terjadi di segala masa pada agama dan keyakinan apapun. Politik mengajariku bahwa tidak ada cara yang haram dalam mendapatkan kekuasaan.

Tapi aku hanya manusia, yang punya hati punya rasa. Meskipun kepala bisa berpikir dengan logika, tapi perasaan sakit ini muncul juga. Meskipun sakit yang ini tidak ada obatnya. Dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk meredakannya