Aku Benci WA Grup

Ya okelah dengan adanya grup jadi bisa nyambung dengan temen2 lama yang biasanya cuma kontak kalo ada perlunya doang. Jadi bisa tukar info dan bisa kumpul geng2 kayak dulu lagi. But that’s about it. Nothing else….

  1. Pertama, nge-add grup itu maksa, tiba2 dimasukin aja ga pake approval
  2. Kalo kita ga sreg terus exit…….apa kata dunia, lha wong exit grup di umumin begitu
  3. SPAM…udah lah grup jaman sekarang ga ada bedanya dengan kolom komennya Syahrini, kalo ga iklan, artikel ga jelas, info hoax, forwardan aneh yang meksa minta di terusin dll…malesin
  4. Yang aktip ya orang2 itu aja, ngobrolnya sama itu2 juga dan yang lain nonton.
  5. Tapi di lain pihak, saat aku berharap ada berita2 atau sharing yang seharusnya dibagi di grup malah diobrolin pribadi sama sub-grup. Tiba2 muncul foto 5 orang dari 10 anggota grup lagi haha hihi bareng…..apa iniiih!? apalah gunanya dibikin grup ini.
  6. Mana sekarang pake notif delivered-read-typing segala jadi semakin menimbulkan kecurigaan dan prasangka2 yang ga perlu; lho udah dibaca kok ga di respon? tadi typing kok ga muncul2? apa dia marah ya? apa dia cuekin kita? dll…..pret

Intinya saya ga suka grup2an. Pukul rata aja lah, meskipun kadang butuh juga bikin grup untuk koordinasi sesuatu tapi itu strictly business. Selebihnya non sense. #lahemosi

Man of your choosing

Baru baca wawancara Woody Allen tentang pernikahanya dengan Soon-Yi Previn. Mantan anak angkat yang menjadi istrinya. Ruwet ya, apalagi itu bukan anak angkatnya sendiri, tapi anak angkat dari mantan istrinya, dengan mantan suaminya terdahulu. Nyahok! Tapi yang menarik aku amati adalah dinamika hubungan keduanya. Woody Allen sebelumnya menikah dengan dengen Mia Farrow yang berbeda umur 10 tahun, yang kemudian dicerai untuk menikah dengan Soon-Yi yang berbeda umur 35 tahun. Pernikahanya terbukti lebih langgeng despite umurnya yg bisa jadi bapak-anak. Jadi, patah sudah teori2 yang mengatakan bahwa perbedaan umur yang jauh tidak akan harmonis. Karena ternyata setiap orang punya kebutuhan yang berbeda2. Despite seterotip sosial, kebutuhan status atau judgement masyarakat, sepertinya ada unsur psikologis yang membuat seseorang cocok dengan pasangan lebih muda, lebih tua atau seumuran. Aku nggak ahli sama sekali dalam membahas ini, tapi aku coba menganalisa dari sudut pandang wanita. Kira2 pribadi seperti apa yang sesuai dengan relationship tertentu. Dan pastinya umur disini sama sekali tidak mengacu pada angka, tapi tingkat kedewasaan dan kematangan

Pasangan Seumuran

Seperti kasusku, meskipun suka ngelirik bronis2 lucu atau mas2 gagah, tapi untuk partner of life aku merasa cocok dengan pria seumuran. Yang aku suka dari pria seumuran adalah, obrolannnya satu generasi, nggak ada yang ngerasa lebih tua/bijak/dewasa, segalanya dirembug dan dilakoni bersama karena kita pada level yang sama. Bego2 bareng, sukses2 bareng. Menurutku yang biasanya cocok dalam relationship ini adalah anak2 yang independen, yang biasa in-charge sejak kecil, biasa mikir dan mencari solusi sendiri untuk segala masalahnya. Pada saat dua orang yang serupa bertemu, mereka biasanya saling memahami pemikiran masing2. Dan mereka seperti menemukan kekuatan baru dalam mengatasi masalah2 hidup yang lebih kompleks. Nggak ada yang berusaha menggurui tapi butuh lebih banyak toleransi. Namanya juga sejajar ya jadi masukan dan pemikiran nggak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Masih ada ego masing2 karena biasa ngerjain semuanya sendiri dan butuh banyak me-time untuk menata diri.

Pria dewasa
Ini adalah pengamatan dari pasangan2 di sekitarku aja, karena aku ga pernah ngalamin juga. Pria yang lebih dewasa secara umur dan kedewasaan pastinya punya lebih banyak pengalaman, sudah pernah jatuh bangun dan udah lebih tau mana yang berhasil mana yang enggak. Enaknya kalo sama pria macam ini adalah wanita banyak mendapatkan cerita dari berbagai sektor kehidupan yang mungkin ga akan pernah dia alami sendiri dan lebih mudah memutuskan masalah2 moral seperti spiritual, hubungan interpersonal, bahkan masalah politik. Pria dewasa kadang lebih mudah menerima saran dan masukan dari yg lebih muda kalo memang ada info yang lebih update dan sesuai perkembangan jaman. Wanita yang cocok dengan pria dewasa mungkin adalah mereka yang butuh panutan, mereka yang menyukai sosok yang kokoh dalam hidupnya, mereka yang lebih suka menjalani yang pasti2 aja daripada harus nyoba segala sesuatu sendiri. Gak enaknya ya paling agak susah aja untuk berempati satu sama lain karena tingkat kedewasaan yg berbeda, dan agak susah untuk hengot2 yang seusai umur kecuali salah satu ngalah.

Pria Muda
Huuu.. ceritanya aja sambil ngiler2 bayangin dedek2 cakep yang lucu2 itu (stop it!). Pastinya kalo sama pria berjiwa muda itu hidup berasa lebih ceria dan enerjik gitu ya. Dan itu logis, karena mereka masih berpandangan terbuka dan haus pengalaman. Jadi mau diajakin apapun hayuk aja. Tapi syaratnya ya itu, kita sudah nggak mikirin kemapanan lagi. Karena kita sendiri sudah mapan, secara finansial, karir, pengalaman hidup, rumah, pendidikan dll. Bukan berarti si pria nggak bisa diajak diskusi masalah kehidupan sih, tapi sesungguhnya kalo dituntut mikirin kehidupan itu bisa hilang jiwa mudanya yang carefree itu. Bisa jadi wanita yang sesuai dengan relationship ini adalah wanita yang perkasa, percaya diri dan mandiri. Dia sudah pernah menjalani segalanya, jatuh bangun dan berjuang dengan kekuatanya sendiri. Pada saat settle down dia mencari pria yang bisa menenangkan geloranya itu dan bisa menawarkan kehidupan yang lebih nyantai dan berbeda.

Tapi ini bukan harga mati ya. Karena kedewasaan orang juga berkembang. Jadi bisa aja yang dulu merasa suka pria dewasa tapi setelah sudah dewasa malah ketemu jodoh yang seumuran. Ato pasangan yang usianya sebaya tapi ternyata ada salah satu yang jauh lebih dewasa karena pengalaman hidup. Lagi2 itu masalah kecocokan.  Karena setiap relationship butuh toleransi dan respect despite umur dan gender. Mungkin aku nggak sepenuhnya benar, tapi sapa tau bisa jadi bahan introspeksi.

About The Jobs

Mungkin ini sentimen orang yang mau resign Atau mungkin terpicu oleh para selebriti yang memiliki crappy jobs sebelum jadi orang besar. Tapi tiba2 aku jadi mengingat2 beberapa kerjaan ecek2 yang pernah aku lakoni sebelum dapet kerja beneran. Nggak perlu diinget pahit2nya, tapi setiap pengalaman ini memberiku banyak pelajaran dan kenangan.

Pedagang
Ya elah ternyata hobi dodolan sudah ada sejak dini. Di SD suka jualan stiker, kertas wangi, permen, jajan dll. SMP beralih ke kerajinan tangan dan asesoris. Dan kemudian sekarang mikap dan peralatan emak2 lainnya. Entahlah, meskipun untung ga seberapa tapi kalo liat ada barang murah tuh hasrat kulakan tinggi sekali.

Penulis Cerpen
Biar keren aja judulnya. Aslinya aku cuma nulis 3-4 cerpen aja yang dimuat majalah. But I really enjoyed it. Writing has always been a passion of mine. Dan nulis fiksi itu seperti kehidupan keduaku. Meskipun masih jauh dari jago, honor pun cuma 100ribuan, tapi aku suka nulis just for the sake of it. Setelah itu sempet kontribusi sana sini di website lepas, tapi kebanyakan sih nulis untuk konsumsi pribadi dan teman2 deket aja

Cleaning Service
Bisa dikatakan ini kerjaan resmi pertamaku. Waktu kuliah aku agak sulit cari kerja tapi akhirnya dikasih info kerjaan cleaning service dari seorang teman. Kerjanya bersihin kantor sebelum para pegawai dateng, pernah juga bersihin rumah dan toko swalayan. Yang aku suka banget dari kerjaan ini adalah aku ga perlu ketemu orang. Selain itu aku bisa masuk ke rumah2 orang kaya dan kantor2 megah yang selama ini cuma aku liat dari luar doang. Ya meskipun cuma sebagai pembersih tapi aku punya kuasa untuk masuk dan bongkar2 lho haha. Yang paling aku inget dari kerjaan ini adalah wangi bunga Lilly di kantor pagi2, aroma melted cheese yang boleh aku ambil sebagai jatah makan siang, creepy nya malem2 masuk ke gedung yang sepi dan gelap, bahkan aku sempet 2 tahun bersihin sebuah kantor yang lokasinya di ruang bawah tanah sebuah gereja tua. I was just grateful I don’t have sixth sense. But it pays well dan ga ganggu kuliah. Dapet 200-300 E per bulan (yang kalo dibelanjain setara dengan 200-300 ribu rupiah) ya lumayanlah buat bayar kos dan makan.

Waiter
Seperti student2 lainnya, aku juga sempet kerja di resto. Aku masih ga yakin sebenernya waktu itu tenagaku dibutuhkan apa enggak tapi aku sempet menghabiskan 1 tahun melayani tamu, membawakan menu, mengantar makanan, menjelaskan masakan Indonesia, menyajikan liquor, membersihkan meja dll. Yang aku suka dari kerjaan ini adalah teman2nya, dari sini aku ketemu banyak orang baru yang bukan temen sekolah. Ada migran Maroko, gay Los Angeles, blasteran Ambon, bos Portugis dll. Setiap bubar dari resto sekitar jam 11 malem biasanya kita pulang bareng 2-3 teman yang kerja di resto tetangga. Good Times

Koki
Well ini sebuah kesalahan sih menurutku Karena ada tawaran dan butuh duit jadi ya aku terima aja. Tugasnya cuma manasin dan mengolah makanan dengan bumbu yang sudah jadi, tapi aku sama sekali ga bisa konsentrasi jadi akhirnya aku pindah ke bagian buffet untuk menyiapkan makanan rombongan besar. Yang mana rombongan ini biasanya nggak dateng ke resto yang di tengah kota tapi di Dufan-nya! Yeah, selama sebulan aku naik mobil rombongan ke sebuah Theme Park di luar kota untuk menyiapkan masakan buffet, sementara badut2 sirkus jalan berkeliling, anak2 kecil basah lari2an di waterbom, dan orang2 dusun foto bergerombolan. Siangnya kita istirahat siang di caravan makan sandwich dan minum susu. Sureal memang, seperti bagian dari hidupku yang terlupakan.

Kasir

Astaga hampir lupa. Ada 2 bulan dalam hidupku dimana aku pernah jaga toko dan jadi kasir bahan masakan Asia. Meskipun pemiliknya orang Indonesia, tapi baru kali ini aku merasa terkucil. Karena semua orang yang bekerja di situ adalah keluarganya dan mereka kebanyakan migran gelap dari Madura yang nggak bisa bahasa Belanda, Inggris ataupun Indonesia. No……they speak all in Maduranese. Freaking hell kan?!

Event Organizer
Fiuh sebenernya ini bisa jadi kerjaan pertamaku yang fabulous, karena aku diterima kerja jadi asisten seorang EO yang akan mengadakan pameran lukisan outdoor terbesar saat itu. Aku sempet bikinin research nya, siap2in materinya, ikut miting sana sini, tapi karena pendanaan dipotong jadi ya eike dibebastugaskan. Boleh sih bantu2 tapi ga dibayar…terus eike mesti makan daun gitu?

Penerjemah
Kalo nggak salah 1-2 tahun setelah lulus kuliah aku sempet ditawarin kerjaan menerjemahkan dokumen oleh seorang teman. Boring sih, secara yang diterjemahin cuma tulisan2 mahasiswa dan proposal2 gitu tapi lumayan sering juga dapet kerjaanya.

Enterpreneur
Berawal dari kerjaan penerjemah itu aku dan 3 orang teman sok2an bikin perusahaan serabutan yang terima proyek bikin website, company profile, desain dan rendering. Meskipun sempet dapet beberapa job dan pemasukan lumayan (sampe bisa beli PC) tapi akhirnya pada males nerusin dan sibuk kerja sendiri2 jadi buruh kantor.

Freelance NGO
Sebelum kerja beneran aku sempet dikasih kerjaan sama temen2 NGO untuk jadi penerjemah, drafter dan seksi dokumentasi. Lumayan untuk mengasah idealisme dan menilik dunia NGO yang sering kali tertutup untuk umum.

Ekspat PBB
Meskipun masih wannabe, tapi pengalaman magangku di unesco itu berkesan banget. Bisa kerja di organisasi internasional raksasa dengan sistem yang solid, pegawai yang berpengalaman dan program2 yang kelas kakap itu rasanya beda. Udah gitu selama magang aku hidup layaknya ekspat gitu. Tinggal sendiri di apartemen, makan di resto megah, hengot sama bule2, liburan ke pulau dll. Kapan lagi kan kalo ga dibayarin….hehehe

Marketing
Meskipun kerjanya di institusi pendidikan tapi jobdesc ku aslinya ya jualan. Jadi aku tau lah seluk beluk dunia marketing yang penuh intrik, sikut2an, berburu insentif dan trik2 membual. Satu2nya alasan aku terima kerjaan ini adalah karena lokasinya di Bandung. Sejak kecil aku mimpi banget bisa tinggal di Bandung bersama kakek nenek dan sodara2ku disana. api ternyata kalo kerjaannya crappy ya gak enak juga ya.

Guru
Atau anggap saja begitu. Yang pasti sebagai anaknya dosen, aku sudah sah pernah ngajar meskipun cuma sambilan dan cuma 2-3 bulan doang. Sempet ngajar bahasa Inggris, untuk Toefl Preparation dan Business English. Sempet juga gantiin dosen komunikasi juga ngajar semiotik apa advert gitu. Meskipun ecek2 gitu tapi aku sudah cukup ngerasain stresnya ngadepin kelakuan mahasiswa, persiapan materi, menilai hasil tes dll. Dan cukup meyakinkan diriku bahwa aku ga punya bakat blas di bidang ini.

Itu yang sudah dijalani, kalo yang cuma wawancara doang lebih beragam lagi; aku pernah wawancara untuk jadi Asprod Metro TV (pastinya ga ketrima), jadi desainer wedding photography (eh?), lembaga riset konsumen, marketing exhibition, staf asean, staf kedubes Belgi, reporter majalah bisnis, marketing asuransi, you name it….

Meskipun kalo pas dijalanin kayaknya nelongso banget, tapi aku sangat-sangat beruntung aku pernah menjalani semuanya. Apa hikmahnya? Aku jadi lebih bisa menghargai orang lain, karena aku pernah ngerasain macem2 kerjaan dan aku tau susahnya. Aku jadi lebih bersyukur dengan apapun yang aku dapatkan sekarang yang lebih baik dari sebelumnya. Aku juga belajar untuk nrimo, menerima apa yang diberikan nasib, dan menerima kesempatan apapun yang mampir di depan mata. Intinya segala sesuatu bisa dilakukan asal mau belajar dan sungguh2

Kalo dipikir lagi kan selama ini aku ga pernah ya memimpikan bakal dapet kerja serabutan kayak gitu. Tapi sekarang seandainya aku boleh berangan2 pengen kerja apa, aku kepikiran shop attendant, jaga toko kue, atau toko baju dan pernak-pernik kayaknye menyenangkan. Aku akan menjadi SA yang ramah dan serba tahu, nggak cuek dan dodol kayak SA di mall2. Atau baking aku juga suka, asal ga diuber orderan kayaknya asik. Selain itu aku juga pengen jadi penulis fitur, ato kolom gitu yang mengharuskan aku riset dan menganalisa. Tapi jangan suruh aku jadi penulis jurnal ilmiah, itu sama aja jadi dosen. Oh sama penulis artikel travelling pastinyaa..

Ramadhan Polos

Bagiku, Ramadhan itu seperti memiliki daya magis tersendiri. Kadang satu bulan itu tiba2 semuanya berubah dengan drastis dan aku dipaksa untuk membaca hikmah dibaliknya. Ramadhan masa kecil kayaknya identik dengan taraweh keliling di rumah para eyang anggota Wargi Parahyangan yang menyajikan kue2 enyyaakkk :D, beranjak SD jadi identik dengan kumpul teman2 karena ke masjid kampung bareng, dan Pondok Ramadhan di sekolah.

Atmosfer nya semakin luntur saat aku mulai lepas dari rumah. Ramdhan ga ada bedanya dengan bulan-bulan lain cuma lebih haus aja. Ada satu Ramadhan yang sangat berkesan sampai sekarang yaitu Ramadhan tahun 2003. Bayangkan puasa di negeri orang sendirian kayak gitu, tapi setiap hari ada Sahur bersama, pengajian, tarawih dan buka bersama. Amazing sekali buatku. Dan itu perjuangannya amit2 kalo dibayangin. Sahur bersama dibelain jalan kaki ke apartemen temen, tengah malem dalam udara winter -5’c. Pengajian harus naik 2x subway untuk mengunjungi Ustadz di Hovendrecht. Bahkan buka bersama dan tarawih pun harus naik kereta antar kota ke Haarlem tergantung siapa yg dapet giliran. Tapi kesannya Alhamdulillah……berasa banget.

Intinya Ramadhan buatku menjadi identik dengan kebersamaan, silahturahmi dan keceriaan. Sampai tahun ini.

Bayangin aja yang biasanya undangan buka bersama bisa 2x dalam sehari. Tahun ini nol. Ada sih beberapa inisiatif, ajakan dan undngan, tapi kebanyakan batal dan ga ada kabarnya. Dan aku pun ga mem-followup. Tarawih yang kadang bisa ganti2 masjid setiap malem, tahun ini di rumah sahaja. Silahturahmi socmed yang biasanya rajin pun ikutan libur. Jajan takjil. belanja baju baru, beli kueh lebaran semuanya liburr……selain gak minat, juga ga ada modal. Duit habis buat beli tiket mudik………yang pada akhirnya BATAL.

Ini klimaksnya nih. Aku pikir ya sudahlah Ramadhan emang niatnya memperbanyak ibadah. Bukan buang duit dan haha-hihi kesana kemari. Tapi pulang kampung bertemu keluarga ga akan terlewat lah. NOT. Segala koper sudah dipacking, tiket sudah dibeli, sudah dibelain berangkat pagi2 setelah solat ied. Ternyata Tuhan punya rencana lain. Pesawat kami batal dan kami stranded di Ibukota selama 10 hari tanpa sanak sodara, tanpa teman2 dan tanpa kerjaan.

Apa makna dibalik Ramadhan dan Idul Fitri yang ‘polos’ tanpa atribut perayaan dan hingar-bingar ini? Well, nggak ada yang tahu pasti kecuali Dia. Tapi kami berusaha menarik hikmahnya (makanya baru bisa posting sekarang juga karena belum habis pikir.)

  1. Alhamdulillah bulan ini karena ga ada acara2 keluar jadi bisa pulcep dan nyiapin bukaan di rumah meskipun cuma apel dan sirup doang tapi lebih memuaskan daripada kudu ngantri di resto buat makan sampe perut kenceng dan terpaksa solat di mushola darurat yang bentuk dan baunya ga jelas. Ato malah kelewat solat *doh!
  2. Jadi banyak merefleksi diri, belajar sabar dan memfilter pikiran. Yang biasanya ga maksmimal karena sibuk hedon sana sini hehe
  3. Pertama kalinya dalam 6 tahun berkeluarga kami bisa berkumpul lengkap bertiga tanpa harus ada yang ke kantor dan ngurus kerjaan. Libur..bur.. gak ada agenda apapun. Lha gimana lha wong sudah ambil cuti, kantornya tutup, sekolah libur.
  4. Biasanya ngobrol2 dan maen2 sama anak cuma malam menjelang tidur, sekarang bisa seharian penuh 10 hari nonstop. Anakku bahagia banget nampaknya. Apalagi bisa maen fulltime sama bapake yang suka nongol-ngilang.
  5. Aku melihat sisi Jakarta yang berbeda. Setelah dilucuti dari segala kecanggihan teknologi, kemacetan, keramaian, kehidupan glamor, materialistis, all for business, politik, kesenjangan sosial dll…..Jakarta nampak seperti raksasa yang lelah.
  6. Baru pertama kalinya dalam 10 tahun aku malang melintang di Jakarta, aku mengakui bahwa this is our home.Yang terlihat disana-sini terlihat keluarga2 yang sedang berkumpul. nyekar ke makam, mengunjungi tetua, makan bersama. Unlike me, they are not just working in this city. They live in it. This is their home. And probably mine too. Karena….
  7. Kalo diitung lagi ternyata di sini (Jakarta dan sekitarnya) aku punya lebih banyak keluarga yang harus dikunjungi daripada di Jatim. Mungkin 3 banding 7. Dan kalo nggak lebaran gini ga akan sempet ketemu mereka semua
  8. As for temen2 yang ga sempet ketemu buat bukber, ternyata bisa tuh ketemuan di kesempatan lain. Begitu juga dengan para embah yang ternyata pada dateng ke Jakarta dan akhirnya foto keluarga di Kelapa Gading……ga jadi ke MOG hehe
  9. All in all aku harus menekankan pada diri sendiri bahwa hari raya itu bukan untuk berpesta, tapi untuk mendekatkan diri padaNya, supaya aku bisa mendengar suaraNya dengan lebih jelas.

Alhamdulillah for this Ramadhan and Idul Fitri. I feel so blessed.

Glass Cage

img 3850

Beautiful Glass Cage

Others call this prison
Where people work in strange unison
I call this sanctuary

Everything in it is imaginary
The air is fresher, the light is brighter, the smile is wider
Music in my ears

Away is all my trouble, no one is gonna hurt me
Surrounded with friends
They don’t bother to talk to me
I’m on my own
But never alone

This is my glass cage
My 9 to 5 sanctuary

Imagination runs wild

Dreams indulged
The mind’s at peace
The brain is tamed

This is my glass cage
My 9 to 5 sanctuary

I’m a little girl
I’m a queen
I’m a hero
I’m never myself
I’m going to miss this

Building my own glass cage will never be the same