Ramadhan Polos

Bagiku, Ramadhan itu seperti memiliki daya magis tersendiri. Kadang satu bulan itu tiba2 semuanya berubah dengan drastis dan aku dipaksa untuk membaca hikmah dibaliknya. Ramadhan masa kecil kayaknya identik dengan taraweh keliling di rumah para eyang anggota Wargi Parahyangan yang menyajikan kue2 enyyaakkk :D, beranjak SD jadi identik dengan kumpul teman2 karena ke masjid kampung bareng, dan Pondok Ramadhan di sekolah.

Atmosfer nya semakin luntur saat aku mulai lepas dari rumah. Ramdhan ga ada bedanya dengan bulan-bulan lain cuma lebih haus aja. Ada satu Ramadhan yang sangat berkesan sampai sekarang yaitu Ramadhan tahun 2003. Bayangkan puasa di negeri orang sendirian kayak gitu, tapi setiap hari ada Sahur bersama, pengajian, tarawih dan buka bersama. Amazing sekali buatku. Dan itu perjuangannya amit2 kalo dibayangin. Sahur bersama dibelain jalan kaki ke apartemen temen, tengah malem dalam udara winter -5’c. Pengajian harus naik 2x subway untuk mengunjungi Ustadz di Hovendrecht. Bahkan buka bersama dan tarawih pun harus naik kereta antar kota ke Haarlem tergantung siapa yg dapet giliran. Tapi kesannya Alhamdulillah……berasa banget.

Intinya Ramadhan buatku menjadi identik dengan kebersamaan, silahturahmi dan keceriaan. Sampai tahun ini.

Bayangin aja yang biasanya undangan buka bersama bisa 2x dalam sehari. Tahun ini nol. Ada sih beberapa inisiatif, ajakan dan undngan, tapi kebanyakan batal dan ga ada kabarnya. Dan aku pun ga mem-followup. Tarawih yang kadang bisa ganti2 masjid setiap malem, tahun ini di rumah sahaja. Silahturahmi socmed yang biasanya rajin pun ikutan libur. Jajan takjil. belanja baju baru, beli kueh lebaran semuanya liburr……selain gak minat, juga ga ada modal. Duit habis buat beli tiket mudik………yang pada akhirnya BATAL.

Ini klimaksnya nih. Aku pikir ya sudahlah Ramadhan emang niatnya memperbanyak ibadah. Bukan buang duit dan haha-hihi kesana kemari. Tapi pulang kampung bertemu keluarga ga akan terlewat lah. NOT. Segala koper sudah dipacking, tiket sudah dibeli, sudah dibelain berangkat pagi2 setelah solat ied. Ternyata Tuhan punya rencana lain. Pesawat kami batal dan kami stranded di Ibukota selama 10 hari tanpa sanak sodara, tanpa teman2 dan tanpa kerjaan.

Apa makna dibalik Ramadhan dan Idul Fitri yang ‘polos’ tanpa atribut perayaan dan hingar-bingar ini? Well, nggak ada yang tahu pasti kecuali Dia. Tapi kami berusaha menarik hikmahnya (makanya baru bisa posting sekarang juga karena belum habis pikir.)

  1. Alhamdulillah bulan ini karena ga ada acara2 keluar jadi bisa pulcep dan nyiapin bukaan di rumah meskipun cuma apel dan sirup doang tapi lebih memuaskan daripada kudu ngantri di resto buat makan sampe perut kenceng dan terpaksa solat di mushola darurat yang bentuk dan baunya ga jelas. Ato malah kelewat solat *doh!
  2. Jadi banyak merefleksi diri, belajar sabar dan memfilter pikiran. Yang biasanya ga maksmimal karena sibuk hedon sana sini hehe
  3. Pertama kalinya dalam 6 tahun berkeluarga kami bisa berkumpul lengkap bertiga tanpa harus ada yang ke kantor dan ngurus kerjaan. Libur..bur.. gak ada agenda apapun. Lha gimana lha wong sudah ambil cuti, kantornya tutup, sekolah libur.
  4. Biasanya ngobrol2 dan maen2 sama anak cuma malam menjelang tidur, sekarang bisa seharian penuh 10 hari nonstop. Anakku bahagia banget nampaknya. Apalagi bisa maen fulltime sama bapake yang suka nongol-ngilang.
  5. Aku melihat sisi Jakarta yang berbeda. Setelah dilucuti dari segala kecanggihan teknologi, kemacetan, keramaian, kehidupan glamor, materialistis, all for business, politik, kesenjangan sosial dll…..Jakarta nampak seperti raksasa yang lelah.
  6. Baru pertama kalinya dalam 10 tahun aku malang melintang di Jakarta, aku mengakui bahwa this is our home.Yang terlihat disana-sini terlihat keluarga2 yang sedang berkumpul. nyekar ke makam, mengunjungi tetua, makan bersama. Unlike me, they are not just working in this city. They live in it. This is their home. And probably mine too. Karena….
  7. Kalo diitung lagi ternyata di sini (Jakarta dan sekitarnya) aku punya lebih banyak keluarga yang harus dikunjungi daripada di Jatim. Mungkin 3 banding 7. Dan kalo nggak lebaran gini ga akan sempet ketemu mereka semua
  8. As for temen2 yang ga sempet ketemu buat bukber, ternyata bisa tuh ketemuan di kesempatan lain. Begitu juga dengan para embah yang ternyata pada dateng ke Jakarta dan akhirnya foto keluarga di Kelapa Gading……ga jadi ke MOG hehe
  9. All in all aku harus menekankan pada diri sendiri bahwa hari raya itu bukan untuk berpesta, tapi untuk mendekatkan diri padaNya, supaya aku bisa mendengar suaraNya dengan lebih jelas.

Alhamdulillah for this Ramadhan and Idul Fitri. I feel so blessed.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s