Menghadapi Raksasa

Selama ini aku kira raksasa hanya fantasi dalam dongeng.
Sosok yang besar melebihi gedung tertinggi, dengan tubuh berbulu mengerikan
Mengerikan, atau tampak bodoh. Tapi kehadirannya selalu mengetarkan dada dan mendirikan bulu kuduk.

30 tahun lamanya aku tidak mengakui keberadaan mereka. Aku sudah dewasa, tidak ada yang tidak bisa aku atasi. Tidak ada raksasa yang cukup besar untuk menghalangiku. Bila aku menemui kegagalan itu semua karena kesalahanku, karena kemalasan atau ketidakmampuanku. Sehingga aku terus maju, terus menerjang, menerobos menghindar.

Tapi akhirnya raksasa itu nampak nyata di hadapanku. Sosok yang selama ini aku hindari dan aku takuti ternyata memang ada. Tidak ada yang bisa melihatnya kecuali aku. Aku berusaha keras mendeskripsikan bentuknya kepada orang-orang di sekitarku tapi mereka tidak bisa melihatnya. Mereka berusaha memahamiku tapi raksasa itu tidak nampak di hadapan mereka.

Karena mereka memliki raksasanya sendiri. Raksasa mereka sendiri yang begitu besar di hadapan mereka. Raksasa yang berusaha mereka acuhkah, raksasa yang berusaha mereka lawan, raksasa yang terus menerus menghalangi dan menghantui langkah mereka sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk melihat raksasaku. Atau raksasa lainnya.

Untuk banyak orang, raksasa itu adalah kematian. Rasa takut akan kematian yang akan melenyapkan kesenangan mereka di dunia. Atau rasa takut akan ditinggal mati oleh orang-orang yang mereka cintai. Ada yang berusaha menghindari dengan berbagai cara. Ada yang berhenti mencintai. Ada yang berhenti hidup sama sekali.

Beberapa orang takut akan kegagalan. Takut jatuh miskin, takut penghinaan orang, takut kehilangan harga diri dan takut sakit hati melihat kerja kerasnya sia-sia. Ada yang menghadapinya dengan kerja yang lebih keras lagi, ada yang tidak berusaha sama sekali.

Raksasaku mungkin tidak biasa. Beberapa orang bahkan menganggapnya khayalan belaka. Karena itulah mereka tidak dapat melihatnya. Tapi buatku, ia adalah momok yang berusaha aku lawan dan aku acuhkan keberadaannya. Pada akhirnya aku malah sering sakit dan terluka. Aku takut manusia.

Aku tidak bisa menghadapi manusia, aku tidak tahu bagaimana cara berinteraksi layaknya manusia normal. Aku gugup di dalam keramaian. Aku berusaha bersosialisasi, aku berusaha tersenyum dan tidak terlalu membuka diri. Tapi akhirnya energiku terkuras. Seperti dipaksa memanjat tebing ratusan meter tingginya. Aku lebih baik dipaksa memanjat tebing ratusan meter tingginya selama aku memanjat sendirian. tidak dengan orang lain.

Tidak mengakui raksasaku artinya tidak megakui keterbatasan dan kelemahanku sendiri. Tidak mengakui kelemahan berarti tidak siap siaga dengan senjata untuk menghadapinya. Itu sama dengan bunuh diri. Dan itulah yang berusaha aku lakukan. Aku berusaha mengenal raksasaku dan aku sedang membangun strategi untuk menghadapinya.

Raksasa itu masih ada. Tapi aku berusaha hidup berdampingan dengannya. Aku harus menghadapinya dari waktu ke waktu. Bila saat itu tiba aku harus mempersiapkan diriku dengan baik. Aku harus berusaha menenangkan diri, menghilangkan prasangka dan ekspektasi, memetakan lokasi dan komunitas kemudian pasrah. Apapun yang terjadi biarlah terjadi. Selama 1-2 jam itu aku siap bertempur dengan raksasaku.

Tapi setelah itu aku harus segera kembali. Masuk ke dalam sarang kesendirianku untuk memulihkan diri. Kadang bayangnya masih menghantui, mengapa aku tidak bisa lebih ramah, mengapa aku tidak membalas sapaannya tadi, mengapa dia tidak menjawab pertanyaanku, apakah aku salah mengatakan hal itu dll…dst…dsb. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan raksasaku menghantuiku bahkan saat aku berada dalam tempat persembunyianku. Aku akan menghadapinya lagi nanti. Bila saatnya tiba.,

Untuk saat ini aku tenang dalam kesendirian.

Advertisements

Agama Yang Menjadi Tradisi

Umur 20 tahun adalah umur yang ajaib buatku. Saat itu aku merasa seperti Alice in Wonderland yang terlempar ke dunia baru. Dunia asing. Saat itulah aku melihat budaya yang berbeda-beda, kepribadian orang yang beragam dan keunikan2 nyeleneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Saat itulah aku pertama kalinya bertemu dan berteman dengan orang2 yang menyatakan diri sebagai ateis. Atau unreligious kalo kata mereka. Makna unreligious bisa berbeda2 sih. Ada yang masih percaya Tuhan tapi tidak memeluk agama apapun, ada juga yang sama sekali menolak percaya keberadaan Tuhan.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti jalan pikiran mereka. Bukan berarti aku sepakat, tapi aku mulai memahami. Tapi saat pemahaman itu mulai muncul, datanglah bulan Desember. Dan aku kembali dibuat bingung. Masalahnya orang2 yang mengaku ateis atau unreligious itu tadi berbondong2 membeli kado natal, menghias pohon terang, mengadakan jamuan malam natal, bahkan menyanyikan kidung (carol) dengan semangat. tsk tsk tsk….*garuk2 kepala

Dari situlah aku mengenal konsep agama sebagai tradisi. Natal dan Desember di negeri barat sudah menjadi tradisi yang tidak terpisahkan. Seperti halnya Imlek di budaya Tionghoa dan Lebaran di Indonesia.

Kita tahu Idul Fitri, atau Lebaran di Indonesia sudah menjadi tradisi untuk pulang kampung, kumpul keluarga, makan bersama, sungkem, halal bihalal, maaf2an dll. Padahal ternyata di Mekah pun tidak seheboh itu :D.

Lalu hijab pun sekarang pun sudah menjadi fashion tersendiri karena banyaknya trend kerudung, style baju dan artis2 yang memakai penutup kepala. Meskipun tidak semuanya syar’i alias sesuai aturan.

Selain itu puasa, sholat jumat, haji, pengajian dan umroh pun menjadi tradisi karena dorongan lingkungan. Sedangkan tradisi seperti slametan, tujuh bulanan, 1000 harian, nyekar dll menjadi berbau islam karena diselipkan pengajian dan doa2 Islam. Padahal tidak ada dalam ajarannya.

Tapi di sisi lain ajaran Islam yang ‘lebih berat’ seperti menghindari riba, zina, khamr dll tergolong kurang populer di sini.

Hemm……jadi sebetulnya mudah saja bagi BPS untuk menghitung jumlah orang Islam di Indonesia, karena tercantum dalam identitasnya. Tapi sebenarnya berapa jumlah yang muslim ya?…. karena jujur saja Islam sudah bukan agama di Indonesia tapi sudah menjadi tradisi turun menurun.

My Shopping Habit

Entahlah saya ini bisa digolongkan shopaholic ato enggak. Perasaan shopping habit ga parah2 banget (masih banyak yang lebih parah maksudnya). Tapi kalo saldo rekening tipis mulu dan badan suka pegel linu kalo udah lama ga belanja, aku jadi berpikir ulang. Apa ya iya kebiasaan belanja kelewatan…

Tempat belanjaku nggak pandang bulu sih. Dari pasar loak sampai mall keren pun aku jelajahi. Di pasar aku paling suka cari jajan enak murah2. Tapi kalo nemu keperluan dapur yang lucu ya dibeli juga. Tapi di pasar sih kebanyakan belanja keperluan masak jadi nggak sempet jelalatan meskipun belanjanya bisa seminggu sekali.

Kalo di mall itu yang bikin boros adalah makan-makan cantiknya. Bayangin aja sekali makan di mall itu bisa 50-100 ribu sedangkan beli di warung atau masak di rumah bisa sepersepuluhnya. Kalo beli2 baju atau pernak-pernik sih biasanya kalo ada sale aja. Karena sesungguhnya liat barang yang harganya dipotong abis itu lebih menyenangkan jiwa.

20160331_174539

Diskon setengah harga Cyiin…

Paling laper mata kalo belanja di bazzar dan pasar loak. Itu kayak dikasih peti harta karun deh. Bisa kalap nggak tau harus harus mulai dari mana. Karena di bazzar itu barangnya macem2, dan harganya pasti beda dengan toko. Jadi seru aja ngaduk2 dagangan untuk nemu barang murah yang lucu2.

Sedangkan kalo pasar loak itu lebih menantang untuk cari barang langka, atau barang berkualitas dengan harga recehan. Apalah artinya 10ribu buat buku bagus yang mungkin baru dibaca 1-2 kali. Atau mungkin 100ribu untuk tas merek terkenal yang masih mulus tapi talinya putus. Kadang proses modif nya itu yang lebih menantang.

Tapi masalahnya bazzar dan pasar loak itu jaraang banget. Nggak ketebak jadwalnya dalam sebulan. Nah kalo sebulan dua bulan nggak ada bazzar berasa nagiih. Tangan berasa gatel pengen ngaduk2 barang murah. Nah disini kadang saya khilaf dan terjebak browsing2 di onlen shop! Sekedar cari barang yang lucu atau cari barang yang diskonnya paling gede. Ada aja alesannya dah. Apalagi kalo olshop2 itu dengan isengnya kirim email voucher atau pesta diskon. Aaaakkkk……aku tak tahan.

Oh ada lagi yang bikin ga tahan, yaitu godaan socmed. Kalo liat ada yang pake jaket lucu di instagram atau lippen seronok sepatu cantik di majalah. Pasti deh langsung ngidam2 ga jelas. Kadang kalo harganya lebay sampe dibelain nabung duit gajian segala.

Nah menurutku belanja2 impulsif ga sehat itu yang harus distop. Karena sebenernya kalo memang butuh barang misalnya kerudung atau celana kerja, aku bisa aja langsung ke pasar grosir atau departemen store. Udah pasti dapet dan harganya terjangkau.

Apalagi sekarang kondisinya udah beda. Penghasilan udah ga kayak dulu lagi, jadi harus lebih pinter lagi ngatur duit belanja. Tapi bukan berarti berhenti sama sekali sih. Kalo liat Ace lagi pasang bendera merah2 (sale) pasti saya langsung masuk. Dan keluar dengan vas kaca atau piring keramik atau jam dinding. Tapi kalo dulu batas harganya 100ribu, sekarang 50ribu aja. Sama aja kok serunya.

Sedangkan untuk godaan lain sepertinya juga berkurang. Misalnya bazzar kebanyakan diadakan di Jakarta jadi males jauhnya. Kalo garage sale masih ada sih, tapi jarang banget. Sedangkan olshop juga berkurang karena udah ga mantengin komputer kayak dulu lagi, jadi ga ada tuh iseng2 buka Lazada atau Zalora :D.

What wearing hijab means for me

Baru nonton buzzfeed ini https://youtu.be/_WosD_GTz_E tentang perempuan2 yang bereksperimen mengenakan hijab selama sehari dan memberikan kesannya.

Ternyata menurut beberapa kalangan mengenakan hijab itu opresi terhadap ekspresi perempuan, patuh terhadap kemauan lelaki, tidak pede/bangga dengan tubuhnya dan dipaksa oleh agama/budaya. Dengan segala kasus terorisme dan provokasi akhir2 ini, berhijab di negara yg tidak mengharuskannya dianggap tindakan yg tidak bijak. Karena pandangan orang dan perlakuan mereka kadang negatif thd wanita berhijab.

Bagaimana dengan aku? Apa tanggapanku tentang berhijab?

First of all berhijab bagi setiap orang itu beda2 motivasi dan interpretasinya. Meskipun di kitab suci bacaanya sama dimana2. Jadi I leave it up to them. I only express my personal opinion.

Pertama kali aku berhijab (15 tahun lalu…wow) dimotivasi karena takut. Intinya takut nggak mematuhi perintah agama, meskipun ada paham yg beranggapan perintah itu tidak wajib. Padahal ga ada yg maksa aku juga, wong orang sekitarku pada ga pake. Malah pada saat itu aku mau berangkat ke Belanda, semakin anehlah keputusanku untuk memulai berkerudung.

Motivasi kedua cetek lah. Karena pengen buktiin kalo jilbaban itu gak harus lusuh dan gak modis. Yang ketiga aku juga mau tunjukkan prinsipku bahwa jilbaban itu ga harus nunggu status solehah/nikah/alim/haji. Jilbab malah bisa jadi langkah awal menuju alim itu tadi. Jadi janganlah ngejudge cewek jilbaban yg ga sealim bayangan orang, mungkin dia sedang memperbaiki diri dari luar.

Dari yang awalnya berhijab karena alasan superficial akhirnya makin kesini aku makin paham maknanya yg lebih dalam.

Hijab menutupi rambut, dada, lengan dan kaki bukan karena bagian tubuh wanita itu tercela. Tapi sebaliknya, karena bagian tubuh itu begitu indah dan berharga. Sehingga tidak perlu diobral ke semua orang. Hanya orang2 tertentu saja yang mendapat kehormatan untuk melihat keindahan itu.

Hijab diciptakan bukan untuk membunuh sensualitas wanita, tapi malah mengakuinya. Hijab mengakui bahwa wanita memiliki daya tarik yang lebih, sehingga perlu dilindungi dari setan yang bergentayangan. Bukan pria tapi setan.

Dan sensualitas wanita itu bisa begitu kuatnya sehingga sering kali mengalihkan perhatian dari daya tarik yang sama pentingnya, seperti intelektualitas, bakat dan kepribadiannya.

Keindahan fisik wanita itu tidak hanya dapat mendistraksi perhatian lawan jenis, tapi juga diri sendiri. Sering kali karena ingin memamerkan keindahan fisiknya wanita jadi lebih fokus pada mempercantik diri dibandingkan lainnya.

Selain itu hijab buatku adalah statement. Pernyataan bahwa saya mengakui saya Muslim, saya tidak malu dengan agama dan identitas saya, dan saya tidak akan bersembunyi meskipun banyak peristiwa yang berusaha menjelekkan nama kami.

Wallahualam bissawab

Buku Harian Selis : Blusukan Pasar Moderen

Hari Kamis 4 Februari 2016

Setelah kemarin istirahat seharian karena baterenya sudah tinggal 2 setrip, akhirnya hari ini Si Celis kembali bertugas.
Jam 08.00 seperti biasa nganter Simozi ke TK yang berjarak 500m dari rumah (cemen). Tapi kali ini nggak langsung pulang tapi melipir kiri di Jl.Kasuari dan cus ke Pasar Moderen. Nyeberangnya jalan aja lewat zebra cross pejalan kaki karena ngeri kalo kudu saingan sama motor dan mobil di puterannya.
Udah pernah sih ke Pasmod sebelumnya, tapi naik mobil sama Pakne, jadi ribet cari parkir akhirnya cuma mampir sebentar untuk beli2 dan makan di pasar malamnya.
Masuknya agak bingung karena dari pintu masuk cuma ada palang parkir mobil. Tapi petugasnya bilang sepeda masuk aja lewat pejalan kaki. Setelah itu maunya disiplin dong parkir di parkiran sepeda/motor tapi ternyata muter2 ga nemu parkiran. Malah banyak liat motor2 parkir di depan toko. Jadi aku pun ikut2an. Nyempil di depan Pintu Selatan. Ga ganggu mobil kok.
Di dalem ngiler2 lah liat sayur dan daging segar di pasar yang relatif terang dan bersih pake keramik. Tapi karena tujuannya mau beli kerudung untuk wisudaan hari Sabtu (balada emak2 pelajar) jadi melipirlah ke toko2 baju.
Setelah nemu yang dimau, tetep dong ya ga tahan kalo ke pasar ga beli jajan. Jadi nongkronglah sebentar di tukang kue cubit beli green tea setengah matang dan es yoghurt plastik kecil buat disimpen di freezer.
Baru setelah duit habis (-_-‘) akhirnya kembali pada Celis yang menunggu dengan setia. Tapi masalahnya kembali lagi, keluarnya sepeda lewat mana? Jadi aku memutuskan lewat palang parkir tapi kudu nunggu mobil keluar dan itu bahaya banget.
Pas keluar pintu selatan barulah nemu parkiran motor di luar area pasar. Ga tau deh kalo sepeda diterima apa enggak dan bayarnya berapa.
Melihat dari aktivitas ibu2 belanja di pasmod kayaknya bakal lebih praktis kalo mobilitasnya pake sepeda (listrik kalo males gowes). Yang pasti biar ga macet dan susah parkir. Nah untuk encourage ibu2 bersepeda harusnya Pasmod sediain parkiran sepeda di dalam area nya juga.
Tapi untuk sementara saya cukup puas hari ini bisa menjelajah wilayah baru lagi.

Go gowes go!

100 Words Novel: Special Delivery

Sudah jam 3 lebih dan tidak terjadi apapun.

Mungkin pengiriman dari dealer terlambat. Biarlah aku tunggu satu jam lagi.

Aku periksa lagi kartupos yang dikirim Ben dari Jamaica pada hari ulang tahunku kemarin

Sebuah foto Mini Copper merah dengan tulisan :

” E48 0610 0211 “.

Pasti itu kado untukku, yang akan tiba hari ini tanggal 6 Oktober pukul 02.11 siang. Karena aku sudah menunggu di parkiran gedung ini pukul 02.11 dini hari tadi dan tidak terjadi apapun.

Ataukah maksudnya 06.10 tanggal 2 November? Atau kode itu sama sekali bukan tanggal ? Mungkinkah itu sebuah koordinat?

AaaRghh!!……aku benci pacaran dengan detektif

(photo credit: C.E. Ayr . Terinspirasi dari 100 Words Fiction karya Retired Ruth. Menulis novel fiksi sepanjang 100 kata yang mengambil inspirasi sebuah foto yang sudah ditentukan)

Aku Benci WA Grup

Ya okelah dengan adanya grup jadi bisa nyambung dengan temen2 lama yang biasanya cuma kontak kalo ada perlunya doang. Jadi bisa tukar info dan bisa kumpul geng2 kayak dulu lagi. But that’s about it. Nothing else….

  1. Pertama, nge-add grup itu maksa, tiba2 dimasukin aja ga pake approval
  2. Kalo kita ga sreg terus exit…….apa kata dunia, lha wong exit grup di umumin begitu
  3. SPAM…udah lah grup jaman sekarang ga ada bedanya dengan kolom komennya Syahrini, kalo ga iklan, artikel ga jelas, info hoax, forwardan aneh yang meksa minta di terusin dll…malesin
  4. Yang aktip ya orang2 itu aja, ngobrolnya sama itu2 juga dan yang lain nonton.
  5. Tapi di lain pihak, saat aku berharap ada berita2 atau sharing yang seharusnya dibagi di grup malah diobrolin pribadi sama sub-grup. Tiba2 muncul foto 5 orang dari 10 anggota grup lagi haha hihi bareng…..apa iniiih!? apalah gunanya dibikin grup ini.
  6. Mana sekarang pake notif delivered-read-typing segala jadi semakin menimbulkan kecurigaan dan prasangka2 yang ga perlu; lho udah dibaca kok ga di respon? tadi typing kok ga muncul2? apa dia marah ya? apa dia cuekin kita? dll…..pret

Intinya saya ga suka grup2an. Pukul rata aja lah, meskipun kadang butuh juga bikin grup untuk koordinasi sesuatu tapi itu strictly business. Selebihnya non sense. #lahemosi