About The Jobs

Mungkin ini sentimen orang yang mau resign Atau mungkin terpicu oleh para selebriti yang memiliki crappy jobs sebelum jadi orang besar. Tapi tiba2 aku jadi mengingat2 beberapa kerjaan ecek2 yang pernah aku lakoni sebelum dapet kerja beneran. Nggak perlu diinget pahit2nya, tapi setiap pengalaman ini memberiku banyak pelajaran dan kenangan.

Pedagang
Ya elah ternyata hobi dodolan sudah ada sejak dini. Di SD suka jualan stiker, kertas wangi, permen, jajan dll. SMP beralih ke kerajinan tangan dan asesoris. Dan kemudian sekarang mikap dan peralatan emak2 lainnya. Entahlah, meskipun untung ga seberapa tapi kalo liat ada barang murah tuh hasrat kulakan tinggi sekali.

Penulis Cerpen
Biar keren aja judulnya. Aslinya aku cuma nulis 3-4 cerpen aja yang dimuat majalah. But I really enjoyed it. Writing has always been a passion of mine. Dan nulis fiksi itu seperti kehidupan keduaku. Meskipun masih jauh dari jago, honor pun cuma 100ribuan, tapi aku suka nulis just for the sake of it. Setelah itu sempet kontribusi sana sini di website lepas, tapi kebanyakan sih nulis untuk konsumsi pribadi dan teman2 deket aja

Cleaning Service
Bisa dikatakan ini kerjaan resmi pertamaku. Waktu kuliah aku agak sulit cari kerja tapi akhirnya dikasih info kerjaan cleaning service dari seorang teman. Kerjanya bersihin kantor sebelum para pegawai dateng, pernah juga bersihin rumah dan toko swalayan. Yang aku suka banget dari kerjaan ini adalah aku ga perlu ketemu orang. Selain itu aku bisa masuk ke rumah2 orang kaya dan kantor2 megah yang selama ini cuma aku liat dari luar doang. Ya meskipun cuma sebagai pembersih tapi aku punya kuasa untuk masuk dan bongkar2 lho haha. Yang paling aku inget dari kerjaan ini adalah wangi bunga Lilly di kantor pagi2, aroma melted cheese yang boleh aku ambil sebagai jatah makan siang, creepy nya malem2 masuk ke gedung yang sepi dan gelap, bahkan aku sempet 2 tahun bersihin sebuah kantor yang lokasinya di ruang bawah tanah sebuah gereja tua. I was just grateful I don’t have sixth sense. But it pays well dan ga ganggu kuliah. Dapet 200-300 E per bulan (yang kalo dibelanjain setara dengan 200-300 ribu rupiah) ya lumayanlah buat bayar kos dan makan.

Waiter
Seperti student2 lainnya, aku juga sempet kerja di resto. Aku masih ga yakin sebenernya waktu itu tenagaku dibutuhkan apa enggak tapi aku sempet menghabiskan 1 tahun melayani tamu, membawakan menu, mengantar makanan, menjelaskan masakan Indonesia, menyajikan liquor, membersihkan meja dll. Yang aku suka dari kerjaan ini adalah teman2nya, dari sini aku ketemu banyak orang baru yang bukan temen sekolah. Ada migran Maroko, gay Los Angeles, blasteran Ambon, bos Portugis dll. Setiap bubar dari resto sekitar jam 11 malem biasanya kita pulang bareng 2-3 teman yang kerja di resto tetangga. Good Times

Koki
Well ini sebuah kesalahan sih menurutku Karena ada tawaran dan butuh duit jadi ya aku terima aja. Tugasnya cuma manasin dan mengolah makanan dengan bumbu yang sudah jadi, tapi aku sama sekali ga bisa konsentrasi jadi akhirnya aku pindah ke bagian buffet untuk menyiapkan makanan rombongan besar. Yang mana rombongan ini biasanya nggak dateng ke resto yang di tengah kota tapi di Dufan-nya! Yeah, selama sebulan aku naik mobil rombongan ke sebuah Theme Park di luar kota untuk menyiapkan masakan buffet, sementara badut2 sirkus jalan berkeliling, anak2 kecil basah lari2an di waterbom, dan orang2 dusun foto bergerombolan. Siangnya kita istirahat siang di caravan makan sandwich dan minum susu. Sureal memang, seperti bagian dari hidupku yang terlupakan.

Kasir

Astaga hampir lupa. Ada 2 bulan dalam hidupku dimana aku pernah jaga toko dan jadi kasir bahan masakan Asia. Meskipun pemiliknya orang Indonesia, tapi baru kali ini aku merasa terkucil. Karena semua orang yang bekerja di situ adalah keluarganya dan mereka kebanyakan migran gelap dari Madura yang nggak bisa bahasa Belanda, Inggris ataupun Indonesia. No……they speak all in Maduranese. Freaking hell kan?!

Event Organizer
Fiuh sebenernya ini bisa jadi kerjaan pertamaku yang fabulous, karena aku diterima kerja jadi asisten seorang EO yang akan mengadakan pameran lukisan outdoor terbesar saat itu. Aku sempet bikinin research nya, siap2in materinya, ikut miting sana sini, tapi karena pendanaan dipotong jadi ya eike dibebastugaskan. Boleh sih bantu2 tapi ga dibayar…terus eike mesti makan daun gitu?

Penerjemah
Kalo nggak salah 1-2 tahun setelah lulus kuliah aku sempet ditawarin kerjaan menerjemahkan dokumen oleh seorang teman. Boring sih, secara yang diterjemahin cuma tulisan2 mahasiswa dan proposal2 gitu tapi lumayan sering juga dapet kerjaanya.

Enterpreneur
Berawal dari kerjaan penerjemah itu aku dan 3 orang teman sok2an bikin perusahaan serabutan yang terima proyek bikin website, company profile, desain dan rendering. Meskipun sempet dapet beberapa job dan pemasukan lumayan (sampe bisa beli PC) tapi akhirnya pada males nerusin dan sibuk kerja sendiri2 jadi buruh kantor.

Freelance NGO
Sebelum kerja beneran aku sempet dikasih kerjaan sama temen2 NGO untuk jadi penerjemah, drafter dan seksi dokumentasi. Lumayan untuk mengasah idealisme dan menilik dunia NGO yang sering kali tertutup untuk umum.

Ekspat PBB
Meskipun masih wannabe, tapi pengalaman magangku di unesco itu berkesan banget. Bisa kerja di organisasi internasional raksasa dengan sistem yang solid, pegawai yang berpengalaman dan program2 yang kelas kakap itu rasanya beda. Udah gitu selama magang aku hidup layaknya ekspat gitu. Tinggal sendiri di apartemen, makan di resto megah, hengot sama bule2, liburan ke pulau dll. Kapan lagi kan kalo ga dibayarin….hehehe

Marketing
Meskipun kerjanya di institusi pendidikan tapi jobdesc ku aslinya ya jualan. Jadi aku tau lah seluk beluk dunia marketing yang penuh intrik, sikut2an, berburu insentif dan trik2 membual. Satu2nya alasan aku terima kerjaan ini adalah karena lokasinya di Bandung. Sejak kecil aku mimpi banget bisa tinggal di Bandung bersama kakek nenek dan sodara2ku disana. api ternyata kalo kerjaannya crappy ya gak enak juga ya.

Guru
Atau anggap saja begitu. Yang pasti sebagai anaknya dosen, aku sudah sah pernah ngajar meskipun cuma sambilan dan cuma 2-3 bulan doang. Sempet ngajar bahasa Inggris, untuk Toefl Preparation dan Business English. Sempet juga gantiin dosen komunikasi juga ngajar semiotik apa advert gitu. Meskipun ecek2 gitu tapi aku sudah cukup ngerasain stresnya ngadepin kelakuan mahasiswa, persiapan materi, menilai hasil tes dll. Dan cukup meyakinkan diriku bahwa aku ga punya bakat blas di bidang ini.

Itu yang sudah dijalani, kalo yang cuma wawancara doang lebih beragam lagi; aku pernah wawancara untuk jadi Asprod Metro TV (pastinya ga ketrima), jadi desainer wedding photography (eh?), lembaga riset konsumen, marketing exhibition, staf asean, staf kedubes Belgi, reporter majalah bisnis, marketing asuransi, you name it….

Meskipun kalo pas dijalanin kayaknya nelongso banget, tapi aku sangat-sangat beruntung aku pernah menjalani semuanya. Apa hikmahnya? Aku jadi lebih bisa menghargai orang lain, karena aku pernah ngerasain macem2 kerjaan dan aku tau susahnya. Aku jadi lebih bersyukur dengan apapun yang aku dapatkan sekarang yang lebih baik dari sebelumnya. Aku juga belajar untuk nrimo, menerima apa yang diberikan nasib, dan menerima kesempatan apapun yang mampir di depan mata. Intinya segala sesuatu bisa dilakukan asal mau belajar dan sungguh2

Kalo dipikir lagi kan selama ini aku ga pernah ya memimpikan bakal dapet kerja serabutan kayak gitu. Tapi sekarang seandainya aku boleh berangan2 pengen kerja apa, aku kepikiran shop attendant, jaga toko kue, atau toko baju dan pernak-pernik kayaknye menyenangkan. Aku akan menjadi SA yang ramah dan serba tahu, nggak cuek dan dodol kayak SA di mall2. Atau baking aku juga suka, asal ga diuber orderan kayaknya asik. Selain itu aku juga pengen jadi penulis fitur, ato kolom gitu yang mengharuskan aku riset dan menganalisa. Tapi jangan suruh aku jadi penulis jurnal ilmiah, itu sama aja jadi dosen. Oh sama penulis artikel travelling pastinyaa..

Advertisements

Ramadhan Polos

Bagiku, Ramadhan itu seperti memiliki daya magis tersendiri. Kadang satu bulan itu tiba2 semuanya berubah dengan drastis dan aku dipaksa untuk membaca hikmah dibaliknya. Ramadhan masa kecil kayaknya identik dengan taraweh keliling di rumah para eyang anggota Wargi Parahyangan yang menyajikan kue2 enyyaakkk :D, beranjak SD jadi identik dengan kumpul teman2 karena ke masjid kampung bareng, dan Pondok Ramadhan di sekolah.

Atmosfer nya semakin luntur saat aku mulai lepas dari rumah. Ramdhan ga ada bedanya dengan bulan-bulan lain cuma lebih haus aja. Ada satu Ramadhan yang sangat berkesan sampai sekarang yaitu Ramadhan tahun 2003. Bayangkan puasa di negeri orang sendirian kayak gitu, tapi setiap hari ada Sahur bersama, pengajian, tarawih dan buka bersama. Amazing sekali buatku. Dan itu perjuangannya amit2 kalo dibayangin. Sahur bersama dibelain jalan kaki ke apartemen temen, tengah malem dalam udara winter -5’c. Pengajian harus naik 2x subway untuk mengunjungi Ustadz di Hovendrecht. Bahkan buka bersama dan tarawih pun harus naik kereta antar kota ke Haarlem tergantung siapa yg dapet giliran. Tapi kesannya Alhamdulillah……berasa banget.

Intinya Ramadhan buatku menjadi identik dengan kebersamaan, silahturahmi dan keceriaan. Sampai tahun ini.

Bayangin aja yang biasanya undangan buka bersama bisa 2x dalam sehari. Tahun ini nol. Ada sih beberapa inisiatif, ajakan dan undngan, tapi kebanyakan batal dan ga ada kabarnya. Dan aku pun ga mem-followup. Tarawih yang kadang bisa ganti2 masjid setiap malem, tahun ini di rumah sahaja. Silahturahmi socmed yang biasanya rajin pun ikutan libur. Jajan takjil. belanja baju baru, beli kueh lebaran semuanya liburr……selain gak minat, juga ga ada modal. Duit habis buat beli tiket mudik………yang pada akhirnya BATAL.

Ini klimaksnya nih. Aku pikir ya sudahlah Ramadhan emang niatnya memperbanyak ibadah. Bukan buang duit dan haha-hihi kesana kemari. Tapi pulang kampung bertemu keluarga ga akan terlewat lah. NOT. Segala koper sudah dipacking, tiket sudah dibeli, sudah dibelain berangkat pagi2 setelah solat ied. Ternyata Tuhan punya rencana lain. Pesawat kami batal dan kami stranded di Ibukota selama 10 hari tanpa sanak sodara, tanpa teman2 dan tanpa kerjaan.

Apa makna dibalik Ramadhan dan Idul Fitri yang ‘polos’ tanpa atribut perayaan dan hingar-bingar ini? Well, nggak ada yang tahu pasti kecuali Dia. Tapi kami berusaha menarik hikmahnya (makanya baru bisa posting sekarang juga karena belum habis pikir.)

  1. Alhamdulillah bulan ini karena ga ada acara2 keluar jadi bisa pulcep dan nyiapin bukaan di rumah meskipun cuma apel dan sirup doang tapi lebih memuaskan daripada kudu ngantri di resto buat makan sampe perut kenceng dan terpaksa solat di mushola darurat yang bentuk dan baunya ga jelas. Ato malah kelewat solat *doh!
  2. Jadi banyak merefleksi diri, belajar sabar dan memfilter pikiran. Yang biasanya ga maksmimal karena sibuk hedon sana sini hehe
  3. Pertama kalinya dalam 6 tahun berkeluarga kami bisa berkumpul lengkap bertiga tanpa harus ada yang ke kantor dan ngurus kerjaan. Libur..bur.. gak ada agenda apapun. Lha gimana lha wong sudah ambil cuti, kantornya tutup, sekolah libur.
  4. Biasanya ngobrol2 dan maen2 sama anak cuma malam menjelang tidur, sekarang bisa seharian penuh 10 hari nonstop. Anakku bahagia banget nampaknya. Apalagi bisa maen fulltime sama bapake yang suka nongol-ngilang.
  5. Aku melihat sisi Jakarta yang berbeda. Setelah dilucuti dari segala kecanggihan teknologi, kemacetan, keramaian, kehidupan glamor, materialistis, all for business, politik, kesenjangan sosial dll…..Jakarta nampak seperti raksasa yang lelah.
  6. Baru pertama kalinya dalam 10 tahun aku malang melintang di Jakarta, aku mengakui bahwa this is our home.Yang terlihat disana-sini terlihat keluarga2 yang sedang berkumpul. nyekar ke makam, mengunjungi tetua, makan bersama. Unlike me, they are not just working in this city. They live in it. This is their home. And probably mine too. Karena….
  7. Kalo diitung lagi ternyata di sini (Jakarta dan sekitarnya) aku punya lebih banyak keluarga yang harus dikunjungi daripada di Jatim. Mungkin 3 banding 7. Dan kalo nggak lebaran gini ga akan sempet ketemu mereka semua
  8. As for temen2 yang ga sempet ketemu buat bukber, ternyata bisa tuh ketemuan di kesempatan lain. Begitu juga dengan para embah yang ternyata pada dateng ke Jakarta dan akhirnya foto keluarga di Kelapa Gading……ga jadi ke MOG hehe
  9. All in all aku harus menekankan pada diri sendiri bahwa hari raya itu bukan untuk berpesta, tapi untuk mendekatkan diri padaNya, supaya aku bisa mendengar suaraNya dengan lebih jelas.

Alhamdulillah for this Ramadhan and Idul Fitri. I feel so blessed.

Glass Cage

img 3850

Beautiful Glass Cage

Others call this prison
Where people work in strange unison
I call this sanctuary

Everything in it is imaginary
The air is fresher, the light is brighter, the smile is wider
Music in my ears

Away is all my trouble, no one is gonna hurt me
Surrounded with friends
They don’t bother to talk to me
I’m on my own
But never alone

This is my glass cage
My 9 to 5 sanctuary

Imagination runs wild

Dreams indulged
The mind’s at peace
The brain is tamed

This is my glass cage
My 9 to 5 sanctuary

I’m a little girl
I’m a queen
I’m a hero
I’m never myself
I’m going to miss this

Building my own glass cage will never be the same

10 Things Why Interior Design Image is Absurd

We know how much we love staring at those Interior design images of cozy living room, cool working space and adorable kids bedroom. But let’s not be detached from reality here. When you actually looking for inspiration for your own home, consider these facts (or absurdity):

  1. Those homes has most probably been designed by profesional. In other word; a stranger has created that look for someone’s personal space. That’s like being naked and dressed by somebody else (but then again people does that too)
  2. Those space looks magnificent mostly because it’s clean and clutter free. Now let’s look back into our life, is that even possible to keep piles of clothes off the couch, or stacks of book from under the table, and even children toys all over the house. It’s impossible, to me that’s a house not worth living in.
  3. Notice that most of that bed in that picture were made in white plain linen to make the design pops out. Unless you live in a service apartment or in a hotel, that is never the case. At least not for me. Our bed spread is ranging from a motherly floral motif to a cartoon character. I challenge those interior designer to create a bedroom that manage to looks classy with those bed spread.
  4. Notice that tidbits of decoration in those homesr? Unlike yours and mine, most of them are freshly bought by the designer to liven up the space. To give it a (fake) personal touch. Because that chipped china urn you got from your grandma will not fit in a futuristic vibe of your living room.
  5. Take a closer look at those miss-match interior, how do they even put blue stripes and red floral to look good in one space? There must be one item that tie those color together, be it a painting, a rug, a cushion or a vase of flowers. Now what happen if that pillow case got dirty and had to be changed? Will the design still work?are you sure you want to be stuck with just one pillow case for the rest of your life? And talk about that flowers, unless you commit to buy the same color of flower everyday, that design will never work.
  6. Some items in that pictures are meant for a one time shoot only. Because let’s be honest, how long can you keep that pillow in straight lines, and what about that a rack full of ceramic figurines, what a waste of space IMO oh and those candles are not for burning ladies. It only serves a decorative purpose.
  7. That interior was not ready for pile of moving boxes, pets, screaming children and a family gathering. No
  8. Now talk about cleaning and maintenance. Let’s not forget that that velvet coach needs daily vacuuming, those floor-to-ceiling window needs washing, the many picture frames and statuets needs meticulous dusting and that fluffy carpet cause so much sneezing.
  9. Some designs are just not for living. I simply cannot imagine eating on that glossy wooden dining table, or lounging on that metal framed couch or cooking heavy meal in a kitchen so close to the bedroom or keeping a table runner in a counter full of jam, sauce and other condiment.
  10. Lastly, let’s consider cost and expenses. Some designs have hidden costs that play a big part ehancing their beauty. Talk about that overhead lighting and led lights, automatic doors, highly polished wooden floor, motor powered mini fountain, and of course profesional dry cleaner and housekeeper if you don’t mind.

So this is what I learn from looking at those interiors; don’t be fooled with those images, look for what works for you and your family. Consider practicality, functionality, cost and safety. If you decided to consult a designer, communicate everything to them and make sure their design really works for you. After all, you are going to live in that house most of your life, not them.

Marketing Illusion

img 0741

In the spotlight

Dunia hiburan is such an illusion ya…Kalo dipikir2 aku dulu kok lugu banget sampe percaya dengan segala tipuan2 publisitas. Bahkan setelah lulus kuliah komunikasi pun aku masih buta dengan dunia Publisitas.

Misalnya nih….

Aku kira yang namanya penyanyi itu jadi penyanyi ya karena bisa menyanyi. Kenyataanya enggak tho ya. Kalo kamu mau jadi penyanyi, bersedia dipoles dan punya modal, suara itu bisa dibikin pake teknologi lah.

Aku kira body juga gitu. Artis2 itu bisa cantik dan seksi mulus itu karena genetik. Tapi kenyataanya semua bisa dibikin. perut diratain, paha dikecilin, bokong digedein, wajah dimulusin, rambut dilurusin, kadang panjang, kadang pendek, kadang rapi kadang awut2an itu semua bisa dibikin oleh tim make up. Paling banter artisnya disuruh work-out kalo nggak ya oplas.

Aku kira reality show itu bener2 menyorot kehidupan seseorang itu dari pagi sampe sore apapun yg terjadi
Kenyataannya pasti lah ada skenario, drama apa yang akan ditampilkan dll.

Aku kira kalo artis2 ngeluarin buku itu mereka asli nulis sendiri word by word
Kenyataanya cuma yang bener2 talented yang bisa nulis bukunya sendiri. Kebanyakan sih ghost writer yang nulis.

Aku kira tamu2 di talkshow itu diundang oleh produser karena prestasinya patut diulas dalam show.
Kenyataanya cuma sebagian aja artis yang bener2 diundang, kebanyakan sih publisis nya yang pitch-in ke poduser supaya artisnya diundang untuk mempromosikan filem/album baru/whatever.

Aku kira artis2 itu saling kenal atau memang pengetahuannya luas jadi bisa berdialog dengan bintang tamu atau membahas sebuah buku. Kenyatanya mereka tetep harus survey dulu tentang show yg akan didatangi, atau bintang tamu yg akan dihadirkan, atau buku yang akan dibahas. Dan pastinya ada tim yang menangani hal ini jadi ga jarang juga si artis cuma baca script atau ulasan tentang filem/buku yang akan dibahas dan gak pernah baca/nonton aslinya. Shame on them

Aku kira pembawa acara, komedian, dan performer (bahkan politisi) itu bicara berdasarkan pemikiran mereka sendiri like you and I
Kenyataanya selama acara itu mereka baca teleprompter, atau baca cue card, atau menghafal dialog yang sudah disusun sebelumnya. Makanya ada titel performer dan writer. Dan hanya orang2 hebat aja yang bener2 writing for their own gig.

Aku dulu taunya kalo penyanyi ngeluarin “The Greatest Hits” itu berarti dia udah cukup populer sampe orang2 banyak yang suka lagunya.
Kenyataanya di dunia artis “the Greatest Hits” itu sinonim dengan “Nothing new” alias udah gak produktif lagi.

Aku dulu taunya kalo ada artis lawas yang ikut main di filem baru itu berarti dia cukup handal sampe dipanggil sama produsernya.
Kenyataanya, artis2 yang pengen comeback itu harus knocking on everyone’s door to get a job. Yah kalo udah ga populer mau gimana lagi

Aku dulu kiranya kalo ada artis2 hollywood yang tertangkap kamera media sedang makan di restoran atau liburan di Aruba itu adalah korban hasil kepergok paparazi
Kenyataannya, mereka sengaja kasih tau media/paparazi mereka mau kemana supaya difoto dan dimuat di media untuk publisitas mereka. Makanya infonya bisa lengkap sama siapa, berapa lama dan pake baju apa. Basi deh

Aku dulu kiranya kalo ada artikel yang memberitakan si A nyumbang sejuta untuk anak2 terlantar, atau si B menyewa pulau untuk kawinannya, itu berarti ada saksi mata yang melaporkan ke media atau media sengaja nyari2 berita.
Kenyataanya si publisis lah yang mengirimkan berita itu ke media2 dan berharap ada yang memuat cerita itu sebagai berita. Biasanya dengan embel2 “dari sumber terpercaya” atau “undiclosed source”. Sneaky

Aku kira dulu kalo ada seleb yang gayanya metal dengan anting di hidung, ato artis yang awalnya manis baek2 tiba2 berubah jadi bitchy dan sexy itu karena kepribadian mereka seperti itu. Dan wajar lah kalo mereka bisa berubah juga selera dan karakternya.
Kenyataannya lagi2 itu kerjaan label nya. Kalo ada calon artis yg pengen diorbitkan pastinya kudu dipoles dulu biar laku. Nggak cuma dirias tapi juga ditentukan karakternya, kalo cuma artis cantik dg suara bagus mungkin kurang laku ya dimanipulasilah jadi artis bitchy dengan suara bagus.

Aku kira dulu artis2 dengan pakaian bagus itu memang seleranya bagus
Kenyataanya mereka banyakan nyewa stylist yang bertugas mensurvey trend, membawakan baju2 pilihan ke rumah artis bahkan kadang2 ikut menentukan gaya apa yg kira2 bagus untuk publisitas. Apakah gaun panjang dengan belahan sepantat, atau bikini dengan rajutan emas, atau kostum beruang sekalian? Whatever stir the media frenzy.

Apa lagi ya….nanti deh kalo kepikiran aku share lagi.

Intinya showbiz is a sneaky…sneaky world, thus the name ‘show’ business. Dan aku dapet banyak pelajaran dari talk show, filem2 dan buku para artis. I’m now fascinated by it

Ibu Buah

Ya sudahlah ya, semua orang punya karakter dan kepribadian yang berbeda2. Tapi yg menarik dilihat adalah bagaimana kelakuan orang2 itu saat pertama kali jadi bos. Kalo di kantor ini biasanya orang2 eselon 4. Mereka yang udahh kelamaan jadi anak buah, dan tiba2 diangkat jadi bapak buah/ibu buah.

Kebanyakan sih mereka asik2, karena masih muda dan gampang akrab sama anak buahnya. Tapi ada satu mbak yang memang agak anomali. Di satu sisi dia udah senior karena dia kelamaan promosinya, jadi pas jadi bos udah umur 40an. Tapi di sisi lain dese merasa masih sebaya kita2 (kita??) karena kelamaan jadi anak buah. You get the picture

Yang terjadi adalah keanehan yang luar biasa. Si mbak ini ngotot banget pengen akrab dengan anak buahnya dan ga pengen dianggap sebagai ‘Boss’. Jadi dia memanggil mereka “anak2ku” “aku ibumu” “baik2 sama adek2nya” . Terus kalo ada anaknya yg keliatan lesu langsung ‘dipaksa’ curhat, dikasih nasihat. Kalo ada anaknya yang cerita ortunya dateng dia pengen dikenalin, pengen dibeliin oleh2 dll. Bikin geli di kuping lah

Lebih malesin lagi karena anak2 buahnya ini cowok semua jadi dia keliatan caper gitu (still single). Suka ikutan nyamber kalo anak2 lagi becanda, suka pamer2 baju/sepatu baru dan pengen dipuji, suka kepo anaknya bawa bekal apa, suka ngajakin makan bareng khusus anak2nya. Gerah banget lah

Lebih gerah lagi kalo emak itu udah mulai sirik2. Sirik kalo ada yang nyuruh ‘anak2’nya tanpa kasih tau dia. Ngambek kalo anak buahnya ga ngikutin kemauan dia (lha emangnya bebek disuruh jalan berrombongan kesana kemari), bete kalo anak2 ngobrol dan dia ga nyambung (beda generasi mbak) dan gilanya lagi dia suka sirik kalo anak2nya itu lebih sering curhat dan cerita2 ke aku daripada ke dia…..ya iyalah situ ngebet gitu sih..

Pertama, anak2 itu cowok semua yang umurnya 20an. Masih darah muda dan punya kemauan yang kuat. Bukan berarti mereka masih kecil terus gampang diatur2, mereka ini anak2 yang kritis. Ibaratnya mereka itu belum tentu mau nurut gitu aja sama ibu mereka di rumah. Nah ini ada orang tiba2 ngaku jadi ibunya di kantor dan ngatur2 rambut kudu disisir gini, sepatu musti gini dll.

Kedua, anak2 itu bukan anak ayam yang clueless dan butuh perlindungan. Jadi kalo didekep terus dibawah ketek ya berontak lah lama2. Bayangin aja ya, tahun ini hampir semua unit di kantorku mengalami rotasi pegawai. Ada yang dituker, ada yang dipindah, ada yang dimutasi dll. Nah ajaibnya, dari semua unit itu hanya unit si Mbak yang tidak tersentuh. Anak2nya ga ada yang dikurangi ga ada yang ditambah. Dan semua orang yakin itu semua hasil ‘permainan’ si embak yang pandai menego big bos.

Tapi hasilnya apa? anak2nya dibully karena dianggap ‘anak mami’ dan akhirnya mereka makin ga nyaman sama si mbak. Semakin ga mau terbuka dan semakin gerah kalo si mbak mulai mepet2. Kita yg outsider juga ga enak kalo mau ngapa2in.

Kalo menurutku jadi atasan itu ya jadi atasan aja. Ga usah jadi ibu atau embak atau bapak atau bos atau mandor atau teman. Ya udah atasan aja yg in charge masalah kerjaan, membimbing dan mengarahkan kalo ada yang salah dll. Karena kalo udah melewati batas itu seringnya terjadi conflict of interest. Bikin kerjaan jadi ga nyaman aja gitu IMHO

So I’m older….

I find myself coming back this post again and again. I wrote it 10 years a go and surprisingly I still have the same dream and still pursuing them….

Saturday, June 05, 2004

So I’m younger…

I am turning 22 soon, I thought I had lotsa interesting experiences already. But I am wrong after all. Among my (new) friends, in which I am the youngest, I feel like I have not done anything intresting compare to what they have. I wonder, what kept me from doing those fun, adventuorus stuff? Nothing really! The chat I had with some of my colleagues make me realize how many great things i’ve missed that i should have experienced:

– Scuba diving or Snorkeling in the beautifull beaches in Thai (Ko chang, Hua Hin)
– Renting bungalow with friends by the beaches for the whole weekend
– Doing voluntary work for humanitarian cause
– Doing survey on Master degree program
– Having affiliation in some organization
– Camping in the wild (not anytime soon)
– Travelling around SE asia and Indonesia (other than Bali for God’s sake!)
– Having my ‘work’ published
– Mastering (if not too much to ask) another widely-spoken language(french/german/mandarin)

And a lot more. I would add on or cross out points from time to time, as I find or have done something new. Hum.. I think thats enough for a start…

###

So what have I done since then?

– I did a couple (mini) snorkeling in Tanjung Lesung, Bali, Belitung and Pulau Seribu. I don’t thing it’s a real snorkeling though, cos I never really dive deeper than the surface and explore the coral reef. And I missed the chance to do diving in Bali and chose seawalking instead.
– I think we had a beach vacation for a couple times but mostly with our family or some friends from the office on one of our biztrips. But mostly it was a hotel room. We definitely have to do the bungalow holiday some time.
– Oh I finally did it, pursuing post-graduate degree in Indonesia, not abroad as i hav pictured it. But it still a hard work in progress
– uhm…nope I’m not in any way affiliated with sny organization. I’m a registered member of WWF, Fotografer.net and PPI but I’ve never been actively involved in it. Need to find something out of my passion and really pursue it.
– I have to try it one day, but I can’t seem to find the gut
– I’ve been to Singapore, KL, Thailand but I still haven’t been to the exotic parts; Vietnam, Myanmar, Philipine
– nope….still not getting there. A few article here and there doesn’t make up for it. A book, I need to publish a book
– sheezz…..I’m nowhere near mastering anything. I did a beginer class in French and quit, almost losing Dutch, and nothing Thai. I’m so bad at this, yet this is my real passion.

if I may add a few, I would want to do this one of these days:
– Doing homecook/baking and being really good at it
– Taking art class, painting, waterpainting, music, dance, anything….please

– Homestaying in the village in other country; Korea, Japan, etc
– Producing vegetable from one’s own garden
– Living abroad as staying home spouse